Tutup Iklan
ilustrasi korupsi. (Solopos-Whisnu Paksa)

Solopos.com, SRAGEN -- Eks Kepala Desa (Kades) -kasus-korupsi-desa-doyong-kejari-sragen-hadirkan-4-saksi-kunci" title="Sidang Kasus Korupsi Desa Doyong, Kejari Sragen Hadirkan 4 Saksi Kunci">Doyong, Kecamatan Miri, Sri Widyastuti, yang tengah menjalani persidangan terkait kasus korupsi keuangan desa akhirnya mengembalikan kerugian negara sebesar Rp247 juta kepada Kejaksaan Negeri (Kejari) Sragen.

Kepala Kejari Sragen, Syarief Sulaiman Nahdi, mengatakan kerugian negara akibat kasus korupsi APB Desa 2016 itu dikembalikan dalam dua tahap selama dua pekan terakhir. Pada tahap pertama, kerugian negara yang dikembalikan senilai Rp127 juta.

Sisanya Rp120 juta dikembalikan pada tahap kedua pada Senin (20/5/2019) lalu. Kerugian negara yang dikembalikan tersebut berasal dari penyimpangan anggaran 14 item proyek pekerjaan fisik yang didanai alokasi dana desa (ADD) maupun dana desa (DD) yang menjadi sumber pendapatan APB -perdana-eks-kades-doyong-sragen-terjerat-korupsi-minta-tak-ditahan" title="Sidang Perdana, Eks Kades Doyong Sragen Terjerat Korupsi Minta Tak Ditahan">Desa Doyong pada 2016 lalu.

Syarief menjelaskan dalam beberapa tahun terakhir, penanganan kasus korupsi tidak hanya bertujuan memenjarakan pelaku, tetapi juga memulihkan keuangan negara yang sempat rugi. Jadi, dua hal itu harus berjalan bebarengan.

"Buat apa memenjarakan orang, tetapi kerugian negara tidak kembali. Alhamdulillah, kasus ini menjadi upaya kami untuk menarik kembali kerugian negara. Tuntutannya, kerugian negara itu nanti dikembalikan ke APB Desa Doyong. Karena sudah dikembalikan, sekarang sudah klir tidak ada kerugian negara,” ucap Syarief kepada Solopos.com, Jumat (24/5/2019).

Syarief menjelaskan sidang kasus yang menjerat eks-dana-desa-kades-doyong-sragen-segera-disidang" title="Korupsi Dana Desa, Kades Doyong Sragen Segera Disidang"> Kades Doyong saat ini memasuki agenda pembacaan tuntutan. Sidang dengan agenda tersebut sempat tertunda dua kali.

Kali pertama, Selasa (14/5/2019), Kejari Sragen mengajukan penundaan sidang karena materi tuntutan belum siap. Sementara pada kesempatan kedua, Selasa (21/5/2019), penundaan sidang diajukan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang.

“Pada kesempatan kedua, kami mendapat kabar salah satu keluarga dari majelis hakim ada yang meninggal dunia karena kecelakaan. Insya Allah, sidang dengan agenda pembacaan tuntutan bisa diselenggarakan di sidang berikutnya,” terang Syarief.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten