Kategori: Nasional

Ekonomi Syariah Masih Asing di Jogja


Solopos.com/Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja

Solopos.com, JOGJA- Pemahaman masyarakat akan ekonomi syariah masih sangat rendah. Aktifitas ekonomi syariah di Jogja dinilai masih masih asing bagi masyarakat.

“Perkembangan ekonomi syariah di Jogja masih ada gap, antara harapan dan kenyataan. Artinya pemikiran-pemikiran ekonomi sudah cukup maju, namun cara membumikan istilah ekonomi ini masih sangat kurang,” ujar Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Herry Zudianto, usai mengisi acara Jogja Economic Forum dengan tema Gerakan Ekonomi Syariah, Selasa (24/12/2013) di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPBI) DIY.

Untuk dapat mengenalkan secara luas konsep ekonomi syariah, sosialisasi dua arah dinilai lebih efektif. Sosialisasi yang tepat adalah dengan metode dialog atau konsultasi. Metode sosialisasi yang tepat, kata Herry, dapat memicu berkembangnya konsepsi ekonomi ini sebagai ekonomi alternatif ke depan.

“Sosialisasinya kalau bisa tidak dengan bentuk searah, tapi bisa dengan menyediakan kantor konsultasi atau dialog. Tapi intinya sosialisasi lebih dibuat secara konsultatif,” ujar Herry.

Herry menegaskan selama ini masyarakat dihadapkan dengan istilah produk syariah yang masih membingungkan. Selama ini bahasa dalam perbankan syariah belum universal, sehingga pemahaman konsep syariah belum dapat diterima baik oleh masyarakat, terutama di sektor mikro.

“Misalnya seperti definisi bagi hasil atau mudarobah. Kenapa ini tidak diindonesiakan saja bahasanya. Masalah istilah ini harus dibumikan, kalau bisa lebih universal,” tandas Mantan Walikota Jogja ini.

Tidak dipungkiri apabila konsep ekonomi syariah ini masih relatif baru bagi Indonesia. Geliat ekonomi ini baru berkembang 15 tahun ini, seiring hadirnya Bank Muamallat yang pertama kali memperkenalkan perbankan bernuansa islami.

“Hal yang perlu didorong juga adalah usaha pemerintah dalam mendukung konsepsi ekonomi syariah ini sebagai ekonomi alternatif,” imbuh Herry.

Share