Yohanes Bara/Istimewa

Solopos.com, SOLO — Ada yang unik dari video berjudul Pasar Glodok Makin Sepi? Bener Gak Sih? di kanal Youtube Opini id. Video yang ditayangkan pada 19 September 2017 itu menampilkan dua inline skater yang menjajal kemampuan, bukan di skate park, di lorong-lorong Pasar Glodok.

Video ini ingin menunjukkan surga barang elektronik sejak 1970-an itu semakin sepi. Saking sepinya, mereka leluasa bermanuver di lorong-lorong pasar. Menurut survei Bank Central Asia pada tahun yang sama, omzet pedagang di Glodok memang menurun 34%, demikian juga dengan di Harco Mangga Dua, ITC Roxy Mas, ITC Cempaka Mas, Mangga Dua Mal, dan Metro Pasar Baru.

Apakah ini artinya daya beli masyarakat turun? Guru besar bidang ilmu manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, membantah kesimpilan itu melalui buku berjudul The Great Shifting (2018).

Pertama, tak semua pusat perbelanjaan mengalami penurunan penjualan. Sebagain besar masih mengalami peningkatan penjualan yang cukup signifikan. Kedua, semakin bertumbuhnya usaha-usaha kafe ala anak muda yang kian lama kian ramai dan inovatif.

Ketiga, penumpang transportasi udara meningkat 15%-25% sehingga yang terjadi adalah shifting, yaitu perubahan selera masyarakat. Pendapat ini nyambung dengan jumlah total transaksi Hari Belanja Online Nasional 2017 yang senilai Rp4,7 triliun dan meningkat drastis pada 2018 dengan nilai transaksi Rp6,8 triliun.

Shifting ekonomi dari model konvensional ke online ini terjadi karena perkembangan teknologi yang sangat pesat, sehingga tak hanya mengubah cara kita bertransaksi menjadi lebih mudah, tetapi juga mengubah karakter manusia sebagai pengguna barang dan jasa.

Perubahan cara kita berlibur, makan, berpindah dari dari satu titik ke titik lain, belajar, berobat, berbisnis, berutang, bahkan mencari pasangan, mau tidak mau mengubah karakter dan pola pikir kita dalam keseharian.

Gagal Memahami

Hampir segala kebutuhan dapat dilakukan hanya dari dalam rumah, tanpa beranjak dari tempat tidur sekali pun. Mager atau males gerak tak berarti tak bergerak. Ekonomi mager adalah aktivitas ekonomi yang tetap dapat dilakukan tanpa perlu antre di bank untuk mengambil uang, tanpa antre di loket untuk membeli tiket, atau tanpa keluar rumah untuk membeli apa pun.

Teriakan orang tua masa dulu kepada anaknya,”Cari kerja! Jangan di rumah melulu. Mau makan apa kamu kalau malas-malasan di kasur terus?” kira-kira bisa dijawab anak zaman kini dengan,”Bu, jangan berisik, aku sedang memberikan kursus lewat video call,” atau,”Bu, aku sedang membuat animasi untuk klien di Singapura,” atau,”Bu, aku ini jadi dropshipper, menjualkan barang orang”.

Gagal memahami shifting ekonomi inilah yang lebih tepat disebut mager, mager pikiran. Kompas edisi 27 Oktober 2019 menunjukan terjadi pertumbuhan ekonomi mager di sekitar kita, salah satunya yang dilakukan oleh Gilang M. Nugroho yang membuka bisnis kuliner Kepiting Nyinyir tanpa menyediakan layanan makan di tempat dan semua transaksi hanya dilakukan melalui Go-Food dan Grab-Food.

Mulanya, dengan modal Rp3 juta, Gilang menyewa lapak enam meter persegi pada 2016 dan kini memiliki empat warung dengan rata-rata melayani 75 pesanan per hari setiap warung. Dengan harga mulai Rp50.000-Rp100.000 per orang, minimal Gilang mengantongi Rp15 juta per hari.

Hal ini membongkar persepsi usaha kuliner ideal yang harus memilih lokasi strategis dan menyediakan fasilitas lengkap. Shifting dari pasar konvensional ke pasar online atau e-commerce juga tercermin dari  semakin meningkatnya kontribusi penjualan ritel online terhadap total penjualan ritel di Indonesia yang mencapai 5,8% pada 2019 atau setara Rp 543,86 triliun (kurs Rp 14.200) dan diproyeksikan menembus angka 12,8% dari total transaksi ritel Indonesia pada 2023.

Transaksi e-commerce ini dikuasai oleh Tokopedia, Bukalapak, Shopee (58%) dan sisanya oleh transaksi via media sosial dan market place lainnya. Tokopedia sebagai penguasa pasar e-commerce tahun ini menargetkan penjualan kotor atau gross merchandise value (GMV) senilai Rp222 triliun.

Lebih Mahal

Nilai ini menurut Komisaris Utama Tokopedia, Agus Martowardojo, menyumbang 1,5% PDB Indonesia. Perusahaan teknologi yang didirikan William Tanuwijaya ini menargetkan pada 10 tahun mendatang dapat menyumbang 5%-10% PDB (Kontan, 15 Oktober 2019).

Pertumbuhan ekonomi mager juga tak melulu pada produk barang, tetapi juga pada produk jasa seperti layanan kesehatan online. Sebuah survei tiga dari lima orang responden di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi telah mengetahui ada layanan kesehatan online ini.

Nama-nama entitas yang telah masuk bisnis kesehatan online ini di antaranya Go-Dok, ApaSakitKu, Alodokter, KlikDokter.com, Dokter Diabetes, Practo, dan Halodoc. Dari pelaku bisnis kesehatan online itu ada yang memberikan layanan berbasis website hingga aplikasi mobil.

Layanan yang diberikan mulai dari informasi penyakit A sampai Z, live chat, voice call, hingga video call dengan dokter umum atau spesialis, surat rujukan dan terapi, hingga pemesanan obat secara online. Ekonomi mager juga tumbuh terhadap minat masyarakat untuk melakukan investasi, khususnya pembelian emas secara online.

Sejak PT Pegadaian merilis Pegadaian Digital, nasabah tabungan emas pegadaian meningkat hingga 2,1 juta orang dengan jumlah deposit sejara 3,1 ton. Dengan investasi online ini masyarakat yang dulu kesulitan membeli emas karena keterbatasan dana, sekarang bisa investasi emas dengan uang ”receh” mulai dari 0,1 gram dan bisa dibayar melalui mobile atau Internet banking bagi yang mager.

Istilah males gerak atau mager tak lagi berarti tidak bergerak. Pada masa kini, tanpa bergerak dari satu tempat ke tempat lain pun, seseorang dapat melakukan gerakan virtual melalui teknologi Internet of things, artificial intelligence, dan big data. Tanpa bergerak, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, transaksi barang dan jasa tetap dapat dilakukan.

Ekonomi mager mau tidak mau perlu ditanggapi dengan bijak agar dapat memanfaatkan dengan baik dan tak terhanyut, namun juga tidak menjadi persoalan bagi sebagian orang yang menolak ekonomi mager. Ia masih bisa memilih ekonomi ”bergerak” yang semakin lama semakin tidak efisien secara waku, tenaga, dan menimbulkan harga yang lebih mahal.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten