Ekonom Sebut Resesi Indonesia Tak Separah Singapura dan Malaysia
Ilustrasi dana darurat untuk hadapi resesi ekonomi (Istimewa)

Solopos.com, JAKARTA -- Sejumah pihak meramal Indonesia akan secara resmi mengalami resesi karena proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2020 atau Juli-September 2020 bakal kembali negatif.

Seperti diketahui pada kuartal II/2020 atau April-Juni 2020, pertumbuhan ekonomi tercatat minus 5,32 persen. Jika ramalam itu benar, maka Indonesia selama dua kuartal mengalami pertumbuhan ekonomi negatif sehingga sudah resmi resesi.

Meski mengalami resesi, ekonom menilai resesi ekonomi di Tanah Air tidak akan separah negara Asia lainnya, seperti Singapura, India, dan Malaysia.

Partisipasi Pemilih Pilkada Wonogiri Selalu Kurang dari 70 Persen, Tahun Ini Gimana?

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2020 juga diperkirakan negatif, dengan angka minus 1 persen hingga minus 2 persen. Pertumbuhan negatif ini merupakan dampak pandemi Covid-19.

"Kami memperkirakan pertumbuhan full-year ekonomi Indonesia pada 2020 akan berada pada kisaran minus 1 persen sampai dengan minus 2 persen," kata Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro, Kamis (24/9/2020), seperti dikutip Bisnis.com.

Andry menyebut pada kuartal III/2020, pertumbuhan ekonomi masih akan negatif, namun dengan arah membaik dibandingkan kuartal II. Membaiknya ekonomi pada kuartal III memang tak bisa mencegah Indonesia mengalami resesi.

3 Paslon Peserta Pilkada Klaten Deklarasikan Komitmen terkait Covid-19

Dinamika Ekonomi Global

Hal itu sejalan dengan dinamika ekonomi global di mana banyak negara-negara dunia yang juga sudah memasuki resesi kecuali Vietnam dan China yang masih mencatat pertumbuhan positif.

"Namun demikian, resesi yang dialami oleh Indonesia diperkirakan tidak akan sedalam negara-negara sekawasan seperti India, Filipina, Malaysia, Thailand, dan Singapura, maupun negara-negara maju di Kawasan Eropa dan AS," ujar Andry.

Ke depan perekonomian akan mulai memasuki masa pemulihan pada tahun 2021 dengan asumsi kurva infeksi Covid-19 sudah menunjukkan perlambatan. Hal itu disertai adanya prospek penemuan dan produksi vaksin sehingga masalah pandemi bisa cepat teratasi. "Kami memperkirakan ekonomi dapat tumbuh 4,4 persen di tahun 2021," kata dia.

Pilkada Boyolali 2020: Said dan Irawan di Kiri, Kotak Kosong Kanan

Sementara itu, Andry menilai perbankan Indonesia masih relatif kuat di tengah pandemi dan ancaman resesi. Berbagai stimulus yang diluncurkan oleh pemerintah dan otoritas moneter diharapkan mampu menjaga kondisi likuiditas dan kualitas aset perbankan.

Menurut Andry, sektor perbankan memang mengalami perlambatan pertumbuhan kredit karena permintaan kredit yang jauh berkurang pada masa pandemi.

Pertumbuhan kredit diperkirakan hanya mencapai 1,5 persen dibandingkan tahun lalu, sementara dana pihak ketiga (DPK) dapat tumbuh sebesar 8,3 persen seiring makin banyaknya penabung dengan nilai besar.

Sumber: Bisnis.com



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom