Eco Living Jadi Tren Desain Interior Properti
Ilustrasi desain interior eco living (freepik)

Solopos.com, JAKARTA--Dunia properti terus berkembang, termasuk di dalamnya desain interior. Tren desain interior pun berubah-ubah dari waktu ke waktu, baik dari aspek material, selera, sampai masalah harga.

Tren desain interior bisa futuristik, bisa pula berbalik arah ke tren masa lalu. Chairman of HDII (Himpunan Desainer Interior Indonesia), Rohadi, mengatakan di Indonesia, tren desain interior terkini mulai kembali kepada desain tradisional dan kedaerahan, seperti nuansa warna alam dan ornamen tenun.

Sementara itu, dari segi internasional fokusnya kepada bahan yang digunakan, karena mulai ada tren eco-living.

“Tren itu [eco-living] sudah menjadi trending topic di mana-mana karena itu juga menjadi keharusan bahwa semua harus safety, apa materialnya. Jangan sampai buang plastik atau tidak sustainable,” ungkapnya kepada Bisnis.

Warna Alami

Lalu dari sisi warna, tren yang ada saat ini cenderung kembali ke warna alami, mengarah pada hal-hal yang dulu pernah ada, tetapi dengan kriteria yang lebih spesifik. Salah satu implementasinya seperti warna cokelat dengan menggunakan material kayu.

“Kayu sekarang walaupun sudah susah dicari, tapi orang yang penting look-nya kayu walaupun dalamnya bukan solid wood, misalnya, orang tetap banyak pakai,” jelasnya.

Rohadi juga menyebutkan tahun ini warna-warna mencolok tidak lagi menjadi tren properti. Kali ini tren warna properti mengarah ke warna-warna pastel yang lebih lembut.

Menurutnya, Indonesia memiliki banyak potensi untuk menjadi pelopor desain interior dengan tren yang sedang berlangsung. Dengan banyaknya kekayaan budaya, warna, dan material yang bisa digali.

“Jadi, bagaimana kita bisa mengangkat budaya lokal ke internasional. Bambu tidak lagi hanya dipotong disambung, sekarang bambu diolah bisa jadi material yang fungsinya variatif,” kata Rohadi.

Selain itu, bahan daur ulang juga akan jadi tren sebagai proses kreativitas. Di negara maju, bahan daur ulang juga diutamakan karena negara maju cenderung mengutamakan lingkungan.

“Jadi, misalnya, orang mau beli bantal, dia lihat dulu ini dari bahan apa, kalau itu mengarah pada bahan yang tidak bisa didaur ulang atau berbahaya, mereka mundur, tetapi kalau dari industri kerajinan pasti mereka beli,” katanya.

Rohadi optimistis Indonesia bakal mempunyai posisi terkait dengan tren daur ulang. Pasalnya, bahan sisa dari beragam industri juga banyak sehingga bisa dimanfaatkan oleh desainer interior.

Sumber: Bisnis.com


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya



Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho