Dwi Ariyani Aktivis Penggugat Etihad Pimpin Solo Raya Accessible Tourism
Dwi Ariyani, Ketua Solo Raya Accessible Tourism (SRAT) menunjukkan Akte Pendirian Organisasi di Hotel Megaland, Solo, Selasa (18/9/2018) petang. (Istimewa)

Solopos.com, SOLO -- Setelah digagas selama hampir enam bulan silam, Solo Raya Accessible Tourism (SRAT) akhirnya resmi berdiri. Organisasi ini terbentuk setelah para inisiator menerima Akte Pendirian Organisasi Kemasyarkatan No 4 Th 2018 dari Notaris Dicky Arnendro Tamtomo, di Hotel Megaland, Solo, Selasa (18/9/2018) petang.

"SRAT ini meupakan organisasi sosial yang didirikan untuk mendorong dunia pariwisata yang aksesibel dan ramah bagi semua," kata Dwi Ariyani yang didapuk sebagai Ketua SRAT oleh para inisiator dalam siaran persnya.

Dwi Ariyani adalah aktivis penyandang disabilitas yang namanya sempat populer saat memenangkan gugatan atas Etihad Arways sebesar Rp500juta karena kasus penurunan penumpang di Bandara Sukarno Hatta medio 2017 silam.

Selain Dwi, SRAT juga digagas oleh Bambang Prajuritno seorang pelaku dan praktisi pariwisata, Anni Aryani dosen pascasarjana dan doktoral FEB UNS, Mulyanto Utomo jurnalis, Bambang Ary Wibowo praktisi hukum dan pariwisata, Djunanto Hutomo dan Tuty Daryanto sebagai pelaku industri pariwisata, serta sejumlah orang lain.

Nenurut Dwi Ariyani dalam rilis yang diterima Solopos.com, SRAT bertujuan membangun kerja sama antar berbagai komunitas yang berbeda untuk mewujudkan adanya pariwisata yang dapat dinikmati semua orang dan ramah terhadap disabilitas, anak maupun orang tua, serta bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus lainnya.

"Contohnya orang yang mengalami cidera, ibu yang sedang hamil dll. Pariwisata yang akses, nyaman dan aman bagi semua orang adalah harapan seluruh komponen bangsa," tambah Dwi.

Mengingat pentingnya dunia pariwisata bagi semua pihak, SRAT menurut Dwi mempunyai misi mewujudkan pariwisata yang bebas hambatan bagi semua.
"Misi organisasi kami ini antara lain membuat dunia pariwisata di Solo dan sekitarnya/Solo Raya menjadi ramah dan akses bagi semua orang [baik penyandang disabilitas, anak mapun orang tua) meliputi produk, pelayanan, dan tempat wisatanya," tambah Dwi Aryani.

Dia juga berharap SRAT mampu menggerakkan berbagai komunitas di Solo dan sekitarnya untuk bekerja sama dalam mewujudkan Solo Raya sebagai tujuan wisata yang ramah bagi semua orang.

SRAT sendiri sebenarnya merupakan tindak lanjut dari kehadiran komunitas Solo Barrier Free Tourism (SBFT) 2018. Motivasi yang mendorong munculnya komunitas selain ditetapkannya UU No. 8/2016 tentang Penyandang Disabilitas adalah Kota Solo menyandang predikat sebagai kota difabel serta kota tujuan wisata.

Sesuai Pasal 1 angka 1 UU No. 10/2009 tentang Kepariwisataan, pariwisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan tempat yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara.

Kepariwisataan adalah seluruh kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, pemerintah, pemerintah daerah, dan pengusaha (Pasal 1 angka 4 UU Kepariwisataan).



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya









Kolom