Sumur tua di bekas permukiman Betal Lawas, kawasan genangan Waduk Gajah Mungkur (WGM) yang mengering di Kecamatan Nguntoronadi, Wonogiri, Minggu (8/9/2019). (Solopos-Cahyadi Kurniawan)

Solopos.com, WONOGIRI -- Bagi warga Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, Betal merupakan legenda. Kisah dusun yang konon menjadi ibu kota Kecamatan Nguntoronadi itu tenggelam seiring air yang menutupinya mengisi mangkuk raksasa bernama Waduk Gajah Mungkur (WGM).

Betal, kini dikenal sebagai Betal Lawas, merupakan nama dusun di Desa Nguntoronadi, Kecamatan Nguntoronadi. Lokasinya berjarak sekitar 24 kilometer dari pusat pemerintahan Wonogiri. Kini, kampung itu muncul lagi seiring debit air di WGM menyusut. Betal menjelma menjadi kota mati berisi sumur-sumur tua dan fondasi—fondasi bangunan.

Untuk menempuh Betal Lawas, diperlukan perjalanan selama lima belas menit bersepeda motor dari jalan raya Wonogiri-Pacitan, Desa Bumiharjo, Nguntoronadi. Perjalanan itu melewati rabat beton jalan kampung sejumlah desa dan berubah menjadi bebatuan begitu memasuki kawasan genangan yang mengering. Batu itu merupakan sisa material jalan dan rel kereta api di masa lalu.

Kala itu, Solopos.com ditemani Nanang Pujianto, 34, warga Sambirejo, Nguntoronadi. Sesekali kami berhenti di antara jalanan berdebu yang dikeliling lahan sawah, jagung, dan tumbuhan berduri mirip putri malu setinggi dua meter. 

Sawah dan ladang jagung itu dialiri dengan memompa air waduk menggunakan selang sejauh 400-500 meter. “Di sini, dulu ada rel yang menghubungkan Baturetno dengan Wonogiri. Relnya sudah enggak ada, tinggal jembatan banon-nya,” ujar dia, seraya menunjuk dua puing-puing raksana di tengah-tengah genangan, Minggu (8/9/2019) siang.

Tak jauh dari bekas rel itu, ada sebuah warung kopi berisi sejumlah petani sedang istirahat. Warung itu sebetulnya berada di perempatan Betal, sebuah perempatan legendaris kala itu. Di perempatan itu ada tugunya dan kini hilang.

Sekitar 200 meter dari perempatan itu ada pemakaman yang tertutup rimbunnya tanaman berduri. Sedangkan, sekitar 500 meter dari perempatan itu ada bekas permukiman yang ditandai dengan sumur-sumur tua, bekas kamar mandi, dan fondasi-fondasi rumah.

Tempat itu biasa mengering pada musim kemarau. Oleh warga, lokasi itu dimanfaatkan untuk berselfie hingga berburu foto matahari tenggelam dari balik bukit. Mereka yang datang tak sekadar warga yang ingin bernostalgia, melainkan juga muda-mudi yang penasaran menyaksikan perkampungan masa lampau.

“Setiap Sabtu sore di sini ramai. Mereka datang dari Karangtengah, Baturetno, dan sekitarnya, jauh-jauh malah,” ujar pria yang bekerja sebagai kru bus malam asli Wonogiri itu. Nanang berkali-kali menudingkan tangannya untuk menunjukkan lokasi kantor polsek, kecamatan, pasar, dan lainnya kepada Solopos.com.

Bedol Desa

Betal Lawas juga menyisakan memori mendalam bagi warga asli Betal, Sugeng Ahmady. Masih segar dalam ingatannya, Betal dikeliling empat kecamatan besar yakni Wonogiri, Wuryantoro, Baturetno, dan Tirtomoyo.

Di sana, sebuah rel melintasi jembatan banon mengirimkan hasil bumi dari Baturetno ke Wonogiri melalui Stasiun Nguntoronadi atau Stasiun Betal. Dari Betal ke Wonogiri hanya ditempuh 8 kilometer. “Sekarang kami memutar sejauh 20 km dari Nguntoronadi ke Wonogiri,” kenang Sugeng.

Selain kota perdagangan, Betal merupakan kota pendidikan. Banyak orang-orang dari Baturetno, Wuryantoro, Tirtomoyo, bersekolah di Betal. Di Betal juga ada pasar, kantor polsek, lapangan, dan sekolah-sekolah.

Semua itu sirna saat masyarakat Betal harus mengikuti bedol desa pada '80-an. Mereka transmigrasi ke Rimbo Bujang, Jambi, hingga ke Dharmasraya, Sumatra Barat. Hubungan mereka dengan Nguntoronadi hingga kini masih rekat.

“Orang-orang Betal di perantauan itu jadi motor ekonomi daerah. Mereka jadi parameter kemajuan budaya, kerukunan, hingga ekonomi. Orang-orang Betal istilahnya pekerja keras,” imbuh pria yang kini menjabat Wakil Ketua I DPRD Wonogiri.

Setiap tahun, di tanah datar Betal Lawas, sebuah panggung musik dangdut gratis digelar. Penontonnya para warga Betal yang pulang kampung dan warga sekitar. Pertunjukan itu menjadi ajang kumpul sekaligus napak tilas tanah tumpah darah.

“Ini menjadi spirit bagi mereka yang merasa gagal. Saat melihat tanah kelahirannya, ia termotivasi lagi melihat kejayaan masa lalu. Kemudian, disusul doa minta hujan,” kata politikus Partai Golkar itu.

Hal senada juga disampaikan Camat Nguntoronadi, Suryono. Ia menerangkan Betal merupakan pusat perekonomian Nguntoronadi kala itu itu. Di sana, di bangun stasiun, sekolah, lapangan, pasar, dan lainnya.

Kawasan itu sebetulnya mau diperluas ke timur di sepanjang jalan raya Wonogiri-Pacitan. Maka tak heran di sepanjang jalan itu banyak tanah Pemkab sekitar 10 hektare. “Sekarang di sana jadi lokasi wisata insidentil, mungkin wisata kenangan,” pungkas dia. 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten