Dulu Meremehkan Covid-19, Donald Trump Sekarang Kena Deh!
Donald Trump. (news.com.au)

Solopos.com, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan istrinya, Melania, dinyatakan positif Covid-19. Hal tersebut dikabarkan langsung melalui akun Twitter pribadinya.

“Malam ini, @FLOTUS dan saya dinyatakan positif Covid-19. Kami segera memulai proses karantina dan pemulihan. Kami akan melewati ini bersama,” terangnya.

Seperti diketahui, sejak Covid-19 mewabah di Amerika Serikat, Donald Trump sering meremehkan bahkan menolak mematuhi protokol kesehatan. Dia sering kali tidak mengenakan masker di tempat umum serta mengabaikan jaga jarak. Dia bahkan sempat mengadakan kampanye yang mengundang ribuan orang di ruangan tertutup.

Kondisi Pria Sumberlawang Dipatuk Ular Bandotan: Tangan Melepuh, Menghitam, dan Kesakitan

Sampai saat ini tercatat ada lebih dari enam juta penduduka Amerika Serikat terinfeksi Covid-19. Dari jumlah itu sebanyak 200.000 orang meninggal dunia. Trump yang berusia 74 tahun termasuk dalam kelompok rentan tertular Covid-19 dengan risiko komplikasi serius.

Jika menengok ke belakang, Trump sering kali menyepelekan Covid-19. Bahkan, dia berulang kali mengatakan bahwa virus corona adalah virus China.

Pada bulan Mei 2020, Trump tampaknya mengatakan telah melihat bukti virus corona berasal dari laboratorium China yang membuat mereka geram. Meskipun kantor direktur intelijen nasional AS mengatakan masih menyelidiki bagaimana awal virus ini muncul.

Api Abadi Mrapen di Grobogan Padam, Inikah Penyebabnya?

Virus China

Tidak berhenti sampai di sana, Trump masih mengunakan istilah virus China untuk menyebut virus SARS-CoV-2. Pada Selasa (21/7/2020), Trump mengunggah sebuah tulisan singkat disertai dengan foto hitam putih saat dia mengenakan masker.

“Kita bersatu dalam upaya kita untuk mengalahkan Virus China yang tak terlihat dan banyak orang bilang memakai masker adalah tindakan patrioktik ketika kita tidak bisa menjaga jarak,” tulis Trump.

Donald Trump dan Istrinya Positif Covid-19, Begini Kondisinya

Donald Trump juga pernah mendukung studi yang pemerintah AS yang dipaparkan Pejabat Senior Kementerian Keamanan Dalam Negeri Bill Bryan. Studi tersebut mengklaim menemukan kelemahan virus corona jenis baru Covid-19. Menurutnya, virus corona tidak bertahan lama di pegangan pintu dan permukaan tak berpori lain ketika terkena sinar matahari, suhu, dan kelembapan yang lebih tinggi.

“Apa yang akan terjadi apabila kita menyinarkan tubuh dengan sinar ultraviolet yang luar biasa atau sangat kuat. Saya pikir itu belum diperiksakan tetapi Anda akan mengujinya,” ujar Trump pada April lalu.

Para peneliti juga diharapkan bisa membuat cara agar bisa membawa cahaya masuk ke dalam tubuh. “Baik melalui kulit atau dengan cara lain,” kata Trump.

Tepergok Mesum di Toilet, Cewek Ini Akting Kesurupan…

Disinfektan

Bryan juga mengatakan hasil penelitian menunjukkan cairan pemutih dapat membunuh virus dalam air liur atau cairan pernapasan dalam 5 menit. Sementara isopropil alkohol dapat membunuhnya dengan lebih cepat. Trump menyarankan agar ada lebih banyak pengujian mengenai hal itu.

“Disinfektan itu mematikannya [virus] dalam semenit. Apakah ada cara kita bisa melakukan hal seperti itu dengan menyuntikkan ke dalam [tubuh]? Itu hampir membersihkan [virus corona]. Ia masuk ke paru-paru dan menghasilkan banyak sekali di paru-paru,” terangnya.

Nekat! Pria Ini Maling Kotak Amal di Masjid Pasar Legi Solo

Pernyataan Donald Trump tentang manfaat disinfektan yang membunuh virus penyebab Covid-19 menimbulkan kontroversi di Amerika. Bahkan hingga ke penjuru dunia. Lawan politiknya saat Pilpres, Joe Biden, pun angkat bicara, mengkritik pernyataan Trump.

“Kesehatan warga Amerika itu bukan lelucon Mr. Presiden,” tegas Joe Biden.

Dibandingkan dengan Flu

Trump pernah membandingkan virus Corona dengan virus flu biasa pada Maret 2020. Melalui akun Twitter-nya, Trump mengungkapkan bahwa flu biasa di AS membunuh hampir 27.000-70.000 orang per tahun. Bahkan, dia mengatakan pasien meninggal karena flu biasa di AS mencapai 37.000 jiwa pada 2019.

“Tahun lalu 37.000 orang Amerika meninggal karena flu biasa. Tidak ada yang ditutup, hidup dan ekonomi tetap berjalan. Pikirkan hal itu,” ungkapnya.

Hal ini diungkapkan Donald Trump ketika kasus Covid-19 di AS baru mencapai 549 kasus. Saat ini, kasus Covid-19 di AS telah mencapai hampir 7.500.000 jiwa.

Minum Kopi Disarankan Setelah Sarapan, Kenapa?

Redam Kepanikan

Dalam sebuah wawancara dengan Bob Woodward, jurnalis legendaris yang menulis buku Rage, Trump mengakui dirinya sebenarnya mengetahui sejak awal bahwa Covid-19 menyebar di udara, sangat menular dan lebih mematikan daripada flu biasa.

“Ini hal yang mematikan,” kata Trump kepada Woodward pada awal Februari, dikutip dari CNN.

Pada Maret, dikutip dari BBC, dia mengaku kepada Woodward bahwa dia memilih mengecilkan kondisi pandemi ini di depan umum. Hal ini dilakukan untuk meredam kepanikan.

Wow, Pesawat Garuda Indonesia Bermasker Meluncur Layani Rute Ini

“Saya masih suka mengecilkannya [pandemi ini], karena saya tidak ingin membuat panik,” ujar Trump.

Baru pada awal September, di dalam konferensi pers, Donald Trump menegaskan dirinya tidak berbohong terkait dengan bahaya Covid-19.

“Saya tidak berbohong, yang saya sampaikan kita harus tenang, kita tidak boleh panik. Saya tidak ingin panik dan berteriak ‘kematian, kematian’ karena ini bukan soal itu,” tandasnya.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom