Dulu Menyeramkan, Kini Omah Lowo di Solo Bak Bangunan Megah Eropa
Rumah Heritage Batik Keris atau yang lebih dikenal dengan nama Omah Lowo. (Solopos/Farida Trisnaningtyas)

Solopos.com, SOLO--Kesan seram, horor, hingga bau menyengat lenyap sudah ketika memasuki kompleks Rumah Heritage Batik Keris atau yang lebih dikenal dengan nama Omah Lowo.

Bagaimana tidak, jika dulu melihat rumah yang terletak tepatnya di Jalan Perintis Kemerdekaan No 1 Solo, ini yang tergambar adalah rumah tak terawat, tak layak huni, terkesan angker, dan bau karena menjadi hunian ribuan kelelawar.

Setelah dipercantik selama kurang lebih 2,5 tahun, kini bangunan zaman kolonial bergaya art deco dan art nouveau ini berubah bak bangunan megah di Eropa. Pada halaman depan terlihat asri dengan rumput hijau dan dipercantik dengan bunga jengger ayam warna merah tua dan bunga marigold warna kuning.

Keberadaan air mancur bentuk teratai pun membuat bangunan paling depan Omah Lowo ini kian tampak mewah. Wajah baru Omah Lowo ini bakal diresmikan bertepatan pada Hari Batik pada 2 Oktober 2020.

“Rumah ini memang terbengkalai sampai kalau orang mendekat kesannya itu jelek, gelap, kotor, bau, dan ditinggali lowo [bahasa Jawa artinya kelelawar], makanya namanya Omah Lowo [rumah kelelawar],” ujar Pemilik Rumah Heritage Batik Keris, Lina Tjokrosaputro, Selasa (28/9/2020).

Merawat Jantung Sehat Dengan Gowes

Merenovasi

Bagian dalam atau interior Rumah Heritage Batik Keris atau yang lebih dikenal dengan nama Omah Lowo. (Solopos/Farida Trisnaningtyas)
Bagian dalam atau interior Rumah Heritage Batik Keris atau yang lebih dikenal dengan nama Omah Lowo. (Solopos/Farida Trisnaningtyas)

Lina bercerita rumah ini sebenarnya milik leluhur mendiang suaminya, Handianto Tjokrosaputro Presiden Direktur PT Batik Keris, yang bernama Sie Djian Ho pada 1920-an silam. Dulunya rumah ini difungsikan sebagai tempat tinggal. Namun demikian, karena banyak faktor, kepemilikan Omah Lowo baru kembali ke keluarga sang suami pada 2016 lalu.

Omah Lowo ini terdiri atas tiga bangunan, yakni A (bangunan utama), B (tengah), C (belakang). Bangunan A dan B dahulu dipakai sebagai tempat tinggal. Belakangan, keluarga pengusaha batik ini membeli gedung C terlebih dahulu baru disusul bangunan A dan B.

“Pada waktu itu suami saya [saat masih hidup], rumah ini memang ditawarkan, maka dia ingin membeli, karena ada kisahnya. Opa dan omanya tinggal di sini. Tepat pada Mei 2016 rumah ini kembali ke keluarga suami,” imbuhnya.

Sesuai dengan cita-cita mendiang sang suami, Rumah Heritage ini direnovasi kemudian difungsikan sebagai galeri display batik dan pusat kerajinan. Pada perjalanannya tak mudah memperbaiki bangunan lawas tersebut lantaran begitu parah kerusakannya.

Ia mulai merenovasi setahun berikutnya. Ini pun menunggu kebiasaan kelelawar bermigrasi atau pindah ke tempat lain, yakni pada Mei – Juni 2017. Setelah itu ia pasang jaring-jaring untuk menutup rumah tersebut dan demi menghalau kelelawar kembali.

Konon bangunan B paling parah kerusakannya. Dalam memperbaiki Omah Lowo, ia menggandeng banyak pihak. Mulai dari arsitek hingga sejarawan mengingat Omah Lowo ini didaftarkan sebagai bangunan cagar budaya (BCB) bernama Bekas Gedung Kantor Veteran. Bangunan ini didaftarkan sebagai BCB pada November 2014 dengan kepemilikan Batik Keris.

“Dindingnya kotor sekali karena tertutup kotoran kelelawar. Atap jebol, jadi saya buka sekalian. Bahkan, lantainya kami poles enam kali saking kotornya. Saat polesan ketiga, kami belum ketemu lantainya, baru polesan keenam terlihat ubinnya, ternyata motifnya bagus sekali,” tuturnya.

Laporkan Dana Awal Kampanye Pilkada Solo Nol Rupiah, Begini Penjelasan Tim Bajo

Peran GPH Paundrakarna JS

Bagian dalam atau interior Rumah Heritage Batik Keris atau yang lebih dikenal dengan nama Omah Lowo. (Solopos/Farida Trisnaningtyas)
Bagian dalam atau interior Rumah Heritage Batik Keris atau yang lebih dikenal dengan nama Omah Lowo. (Solopos/Farida Trisnaningtyas)

Di sisi lain, pada perjalanan renovasi ini, ia dipertemukan dengan GPH Paundrakarna JS, putra KGPAA Mangkunegara IX. Ia turut andil mengonsep Rumah Heritage Batik Keris bergaya art deco dan art nouveau ini. Cucu Soekarno ini ambil bagian dalam pemilihan warna cat, pagar, hingga adanya air mancur.

Menurutnya, Rumah Heritage ini sebagai benang merah perjalanan Batik Keris. Bangunan utama (A) yang terletak paling depan diperuntukkan sebagai galeri koleksi Batik Keris kelas premium. Pada bangunan ini setiap ruangnya diberi nama, misalnya teras Agung (teras depan), ruang Liberty (ruang tengah), ruang Sekar Jagad (tempat koleksi busana perempuan), dan ruang mulia (tempat koleksi busana lelaki). Berbeda dengan dua bangunan lainnya, mereka yang ingin mengunjungi gedung utama ini mesti reservasi terlebih dahulu.

Sedangkan bangunan B yang berada di bagian tengah merupakan gerai koleksi fesyen hingga produk-produk kerajinan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Aneka produk di Pusat Kerajinan Nusantara yang ditampilkan adalah dari UMKM yang menjadi mitra Batik Keris.

Peringati Hari Habitat Dunia 2020, Kementerian PUPR Terus Tingkatkan Kualitas Permukiman Dan Perumahan

Menggandeng UMKM

Sementara bangunan C difungsikan sebagai kafe bernama Keris Cafe and Kitchen. Bangunan yang terletak paling belakang atau paling selatan ini menjadi kafe yang mengusung konsep cozy nan Instagramable. Kafe dengan bangunan lawas, tapi dikonsep modern ini menyuguhkan pilihan menu asli Solo hingga kopi lokal Indonesia. Kafe ini bisa dikunjungi untuk umum mulai 5 Oktober 2020.

“Kami gandeng UMKM untuk produknya dijual di store kami. Jadi nantinya, orang ke sini bisa belanja sekaligus jajan menikmati makanan khas Solo di Keris Café,” kata Elvina Tjokrosaputro putri mendiang Handianto Tjokrosaputro yang mengurusi Pusat Kerajinan Nusantara di gedung B dan Keris Café.

Di sisi lain, selain turut serta mengonsep Rumah Heritage, Paundrakarna juga meluncurkan Batik Bercerita, yakni motif batik kolaborasi Batik Keris dengannya. Batik ini memiliki filosofi kebudayaan adhi luhungdengan mengangkat motif parang suryo negoro, naga banda, dan naga raja.

“Singkat kata saya dipertemukan kembali dengan beliau-beliau [Batik Keris]. Sebenarnya kami sudah kenal lama, tapi kalau jumpa paling sebentar. Baru kali ini kami bisa kerja sama sedemikian rupa. Semoga kreasi saya ini bisa diapresiasi oleh banyak pihak,” jelas Paundra.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom