Dulu Laris Manis, Kini Produsen APD Ngaku Stok di Gudang Menumpuk & Ingin Ekspor
Aktivis kemanusiaan yang gencar menyerukan perlawanan terhadap Covid-19 dr.Tirta Mandira Hudhi menyerahkan Alat Pelindung Diri dan vitamain kepada Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo di Balaikota Solo, Sabtu (18/4/2020). (Solopos/Sunaryo Haryo Bayu)

Solopos.com, JAKARTA — Industri tekstil dan produk tekstil produsen alat pelindung diri (APD) mengaku stok APD kini menumpuk di gudang karena tidak diserap pasar domestik.

Mereka meminta pemerintah segera membuka keran ekspor khusus untuk APD. Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, menduga salah satu penyebab APD tidak terserap adalah APD impor.

Dia menjelaskan saat ini banyak sumbangan APD berbahan spundbon non woven. Padahal, bahan itu umumnya digunakan untuk tisu, pembalut, dan baru digunakan untuk masker untuk alat medisnya.

Sebulan Bebas, Narapidana Asimilasi Sidoarjo Diringkus karena Bobol Rumah Kosong di Sragen

Kapasitas produksi spundbon di dalam negeri hanya 100.000 per tahun. Jumlah itu tidak akan mungkin cukup memenuhi kebutuhan sejuta APD jika diminta wajib menggunakan spundbon.

Seharusnya APD bikinan produsen dalam negeri dengan bahan bukan spundbon, terserap pasar dalam negeri. Nyatanya, stok APD menumpuk di gudang.

“Dari sana sebenarnya kami sudah curiga berarti banyak APD yang impor, kami seperti ditipu. Kemarin diminta sesuai standar WHO sekarang malah tidak diserap. Jadi, kami ingin dibukakan keran ekspornya saja supaya bisa diserap di luar negeri yang juga masih banyak membutuhkan APD,” kata dia kepada Bisnis, Selasa (19/5/2020).

Terus Bertambah! WNI Positif Covid-19 di Luar Negeri Sentuh 830 Orang

Menurut Redma, hal itu sudah dibicarakan dengan Kementerian Perindustrian untuk selanjutnya diteruskan kepada Kementerian Perdagangan. Pihak yang berwenang memberi izin ekspor adalah Kementerian Perdagangan.

Para pelaku industri TPT pun akan segera menyiapkan pengurusan izin ekspor APD jika sudah dibuka.

The New Normal Klaten: Belajar Daring hingga Jasa Foto Ijab Kabul

Redma menilai secara kualitas dalam uji APD yang dilakukan sejumlah produsen lokal dan disaksikan berbagai kementerian/lembaga, produk spundbon dengan gramasi di bawah 80 persen cukup tipis. Bahan itu pun tembus air sehingga mudah robek.

Negara Tolak APD China

Dengan begitu, jika ingin menggunakan bahan spundbon, maka harus yang memiliki gramasi di atas 100 persen agar seseuai dengan standar WHO. Bahan itu seperti kain woven yang banyak digunakan oleh produsen lokal setelah melalui teknologi coating atau laminasi.

Candi Borobudur dan Prambanan Buka Lagi Juni 2020, Wisatawan Bisa Masuk Asal…

Melihat sejumlah negara seperti Jerman dan Itali menolak APD yang didatangkan dari China, Redma mengaku peluang ekspor APD memiliki peluang sangat besar.

“Pasar utama yang masih banyak membutuhkan tentu Amerika Serikat dan di kawasan Eropa. Apalagi dengan harga minyak bumi yang turun saat ini bahan poliester lebih murah sekarang dan stok APD kami melimpah,” ujarnya.

Sementara itu, sejumlah perusahaan tekstil Indonesia telah mengalihkan sebagian produksi untuk membuat APD. PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL) atau Sritex misalnya memproduksi masker, APD, dan jaket antimikroba.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho