Dulu, Ibu-Ibu di Talun Karanganyar Doyan Bergosip, Kini Jadi Bos Keripik dan Stik Ubi
Ibu-ibu anggota Kelompok Usaha Mandiri membuat aneka kudapan dari umbi-umbian di rumah salah satu anggota kelompok, Rabu (19/8/2020). (Istimewa/Dokumentasi UPBJJ-UT Surakarta)

Solopos.com, KARANGANYAR--Belasan ibu rumah tangga di Dukuh Talun, RT 003/RW 006, Dusun Tengklik, Desa Karangbangun, Kecamatan Matesih beralih profesi dari buruh tani menjadi pengusaha kecil.

Rata-rata warga Talun bekerja sebagai buruh tani, tukang kayu, buruh bangunan, pedagang sayur keliling, merawat ternak orang lain, dan lain-lain. Penghasilan mereka rata-rata Rp25.000-Rp30.000 per hari. Tetapi beberapa tahun lalu, mereka menjalankan usaha kecil di rumah, yakni membuat kudapan dari umbi-umbian. Penghasilan mereka naik menjadi Rp50.000 per hari.

Proses dimulai pada 2015, saat warga Talun, Sunaryo, mencurahkan isi hati kepada salah satu dosen di Universitas Terbuka (UT) Surakarta, Sri Murni. Naryo, sapaan akrabnya, berjualan sayur keliling hingga Kota Solo. Menurutnya, ibu-ibu di Talun lebih gemar bergosip saat menganggur di rumah. Singkat cerita, Murni mendapat informasi wilayah Talun penghasil umbi-umbian, seperti ketela ungu, talas, singkong, dan lain-lain.

Setelah Terbit Penlok, Lahan Terdampak Tol Solo-Jogja Dikunci

Umbi-umbian ukuran besar dijual dalam bentuk mentah. Umbi-umbian ukuran kecil dikumpulkan untuk pakan ternak. Kini kebiasaan itu perlahan diubah. Umbi-umbian ukuran kecil tidak digunakan untuk pakan ternak, tetapi diolah menjadi makanan. UT memulai dari 16 orang.

Mereka membentuk kelompok dan mengikuti pelatihan. Pendampingan berlanjut pada 2018, yakni membuat kemasan. UT memberikan bantuan alat timbang, sealer, kemasan, label, dan resep.

“Kami tergabung dalam kelompok Usaha Mandiri. Produk pertama itu stik ubi ungu, keripik talas, keripik pisang, keripik singkong, dan grubi. Rata-rata penghasilan ibu-ibu itu Rp25.000-Rp30.000 per hari. Tetapi kini penghasilan mereka Rp50.000 per hari,” kata Ketua Kelompok Usaha Mandiri, Sunaryo, saat berbincang dengan Solopos.com, Rabu (19/8/2020).

Pencinta Gowes, Buktikan Hobimu di Solopos Virtual Cycling 2020

Produk olahan ibu-ibu di Talun dipasarkan secara door to door, ke pasar, toko oleh-oleh di Soloraya, kantin sekolah, bus pariwisata, dan lain-lain. Mereka juga melayani pesanan dari bakul.

“Sekarang enggak hanya pakai ubi sortir [kecil] tetapi semua ukuran. Dua anggota kelompok sudah memiliki PIRT. Ada yang bisa menjual 10 kg-50 kg stik ubi per hari. Ibu-ibu itu dulu bekerja sebagai buruh tani, tetapi sekarang menjadi ‘bos’ dari dua pegawai. Ini menjadi pekerjaan utama,” jelas dia.

 

Warga Marginal

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UPBJJ UT Surakarta, Sri Murni, menyampaikan bantuan program multiyears atau selama tiga tahun. Program pendampingan terkini dimulai 2019 dan akan berakhir pada 2021.

Viral Polisi di Bali Palak Uang Rp1 Juta ke Turis Jepang

Pada program terkini hanya 12 orang yang didampingi. Sasaran program adalah warga marginal dan bukan di wilayah perkotaan. Murni menjelaskan tahun pertama pengembangan produk olahan baru, yakni ubi jalar, waluh, dan ubi ungu.

“Masih manual maka hasilnya belum memuaskan. Nah di tahun kedua, kami salurkan bantuan mesin produksi. Itu [mesin] bikinan UKM di Karanganyar. Di tahun kedua ini kami menggarap ubi kayu, talas, dan tempe. Semua produk itu dihasilkan di Talun,” ujar Murni.

Hal senada disampaikan Direktur UPBJJ UT Surakarta, Yulia Budiwati. Yulia menyampaikan sejumlah dosen di UT Surakarta mengikuti pogram pengabdian masyarakat tingkat nasional. Harapannya perguruan tinggi tidak hanya menjadi mercusuar di tengah masyarakat, tetapi bermanfaat bagi masyarakat. Hal itu mengacu Tridarma perguruan tinggi.

Sempat Dikabarkan Hanyut di Sungai, Pemuda Magelang Ditemukan Selamat Tanpa Busana

“Kami memfasilitasi warga memanfaatkan potensi melimpah di Talun. Kami bantu menciptakan ikon di Talun. Efeknya income warga meningkat dan ibu-ibu memanfaatkan waktu luang untuk produktif. Kendala tahun pertama membuka pasar. Sekarang pasar terbuka dan permintaan melimpah. Kendala tahun kedua peningkatan kapasitas alat. Harapan kami Talun menjadi sentra kerajinan makanan."



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom