Dukungan untuk Prabowo dan Dendam Wiranto dalam Vonis Penjara Kivlan Zen

Kivlan Zen adalah pendukung berat Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

 Mayjen (pur) Kivlan Zen dalam salah satu persidangan kasus senjata api ilegal yang membelitnya. (Detik.com)

SOLOPOS.COM - Mayjen (pur) Kivlan Zen dalam salah satu persidangan kasus senjata api ilegal yang membelitnya. (Detik.com)

Solopos.com, JAKARTA — Dukungan untuk Prabowo Subianto dan dendam lama Wiranto kembali bergaung pada hari terakhir persidangan purnawirawan jenderal Kivlan Zen di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jumat (24/9/2021) kemarin.

Dua hal itu yang diungkit Kivlan Zen setelah dirinya tidak terima divonis 4 bulan 15 hari penjara karena kepemilikan senjata api secara ilegal.

Pendukung Wiranto

Kivlan Zen adalah pendukung berat Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Kendati akhirnya Kivlan harus kecele karena Prabowo ternyata kini bergabung dengan sang rival, Joko Widodo, sebagai Menteri Pertahanan.

Kivlan meyakini vonis terhadap dirinya tak terlepas dari dendam lama Wiranto. Wiranto, Prabowo, dan Kivlan adalah sama-sama jenderal militer.

Baca Juga: Divonis 4,5 Bulan Penjara atas Kepemilikan Senjata Api, Kivlan Zen Banding 

Wiranto yang paling senior. Kala ia menjabat Panglima TNI, Prabowo adalah Panglima Kostrad sementara Kivlan yang paling junior menjadi salah satu perwira tinggi.

Setelah pensiun Kivlan berada di belakang Prabowo Subianto dalam Pilpres. Posisi ini berseberangan dengan Wiranto yang setelah gagal nyapres lalu berada di belakang Joko Widodo hingga politikus Solo itu terpilih sebagai presiden.

Dendam Politik

“Ini karena dendam politik saja. Dendam politik Wiranto. Ini sudah jelas itulah Wiranto,” kata Kivlan berulang-ulang seusai sidang di PN Jakpus, Jalan Bungur Besar Raya, Jakpus, Jumat (24/9/2021).

Kivlan Zen divonis 4 bulan 15 hari penjara karena kasus kepemilikan senjata api ilegal. Purnawirawan jenderal itu terbukti secara ilegal menguasai senjata api.

Meski vonis untuk dirinya terbilang ringan, ia tetap tidak terima. “Ini soal harga diri. Ini soal kehormatan,” tandas dia seperti dikutip detik.com.

Ia menyebut, posisinya yang berseberangan dengan pemerintah membuat dirinya menjadi bidikan Wiranto.

Kala itu Wiranto adalah Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam).

Mengritik Pemerintah

“Dendam politik mereka karena saya banyak mengkritik pemerintah. Saya membela Prabowo di dalam waktu kejadian 21-22 Mei 2019 itu, saya demo di Lapangan Banteng, minta ke Bawaslu bahwa itu tidak sah menangnya Jokowi,” sambung Kivlan.

Soal dendam Wiranto, Kivlan menyampaikan senior dan atasannya di militer pernah mengatakan akan menangkap dirinya. “Dia (Wiranto) kan pernah ngomong, tanggal 2 Maret ulang tahun dia, dia ngomong, ‘Oh kamu saya tangkap’, ini saja terbukti, kan,” ucap Kivlan.

Meski begitu, Kivlan mengaku tidak marah dan dendam kepada siapa pun. Dia juga mengaku sudah memaafkan Wiranto. “Wiranto ya saya maafkan saja dia,” tutur Kivlan.

Terbukti Bersalah

Hakim PN Jakpus memutuskan vonis kepada Kivlan selama 4 bulan 15 hari.

Kivlan Zen dinyatakan hakim bersalah melanggar Pasal 1 ayat (1) UU Nomor 12/drt/1951 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 1 ayat (1) UU Nomor 12/drt/1951 jo pasal 56 ayat (1) KUHP.

Hakim mengesampingkan pernyataan Kivlan yang mengaku tidak pernah memerintahkan Helmi Kurniawan alias Iwan untuk membeli senjata.
Hakim menyebut Kivlan justru memerintahkan anak buahnya itu untuk membeli senjata api ilegal.

Kivlan Zen disebut membeli senjata dan peluru secara ilegal melalui Helmi Kurniawan (Iwan), Tajudin (Udin), Azwarmi, Irfansyah (Irfan) pada Mei 2018-Juni 2019.

Hakim mengatakan Kivlan Zen membeli senpi senilai Rp145 juta.

Serahkan Rp145 Juta

“Terbukti Terdakwa memerintahkan saksi Iwan untuk membeli senjata api, Terdakwa juga menyerahkan uang Rp145 juta kepada saksi Iwan untuk membeli senjata api, dan Iwan telah mendapatkan satu buah senpi dengan harga Rp50 juta, dan telah memperoleh 2 senpi laras pendek dan 1 senpi laras panjang,” kata hakim.

Baca Juga: Demi Atur Kasus, Azis Syamsuddin Janjikan Rp4 Miliar ke Penyidik KPK 

“Bahwa kemudian saksi Iwan mengatakan ke terdakwa telah mendapat 4 senpi, dan terdakwa mengatakan agar Iwan menyerahkan senpi laras pendek ke saksi Azwarmi, dan saksi Tajudin, sedangkan 1 senpi laras panjang ditaruh di rumah Iwan maka perbuatan terdakwa bersama saksi Iwan, Azwarmi dan Tajudin menerima senpi tersebut adalah termasuk dalam unsur orang turut serta,” tegas hakim.

Hal yang meringankan Kivlan Zen adalah sebagai pejabat militer ia punya jasa untuk negara.

Atas vonis itu, Kivlan Zen langsung menyatakan banding.

Tanggapan Wiranto

Kivlan merasa majelis hakim tidak mempertimbangkan bukti-bukti yang diajukan oleh pihaknya.

Dituding Kivlan punya dendam politik di balik vonis kasus senpi ilegal, bagaimana tanggapan Wiranto?

Pengacara Wiranto, Adi Warman, menyatakan kliennya tidak pernah mengintervensi dan ikut campur dalam kasus tersebut.

“Saya selaku pengacara Pak Wiranto sangat sesali apabila berpikir itu dendam Pak Wiranto. Jelas bukan, dan itu proses hukum. Kita tidak pernah lakukan intervensi. Jangan berburuk sangka,” ucap pengacara dari Wiranto, Adi Warman, saat dihubungi.

Baca Juga: Azis Syamsuddin Ahli Hukum yang Terjerat Hukum, Akankah Kariernya Tamat? 

Adi meminta Kivlan Zen tidak asal tuduh. Tidak ada kaitan antara vonis 4 bulan 15 hari bui dengan Wiranto.

“Hati-hati menuduh orang. Saya doakan semoga dosanya diampuni. Jangan tuduh, jangan fitnah. Ini tidak ada kaitannya dan tidak intervensi dari Pak Wiranto. Jadi keliru kalau dibilang ada dendam atau apa, apalagi dendam politik,” katanya.

 


Berita Terkait

Berita Terkini

Posisi Berangkulan, Mayat Sejoli di Tasikmalaya Bikin Geger

Penemuan mayat sepasang lelaki dan perempuan atau sejoli di Tasikmalaya menggegerkan warga karena ditemukan dalam kondisi berangkulan.

Aktivitas Gunung Berapi Jadi Pemicu Rentetan Gempa Salatiga-Ambarawa?

Rentetan gempa atau gempa swarm terjadi di wilayah Kota Salatiga-Ambarawa sepanjang Sabtu (23/10/2021).

Aksi Mantan Kapolsek Parigi Terungkap dari Chat Mesra Lewat WA

Aksi mantan Kapolsek Parigi, Iptu IDGN, yang diduga memerkosa anak tersangka kasus pencurian ternak, S, 20, sebanyak dua kali terungkap melalui chat mesra di WhatsApp.

Elektabilitas Ganjar Naik Terus, PDIP Malah Sebut Survei Bukan Patokan

Elektabilitas Ganjar Pranowo kini menyamai Prabowo Subianto menurut survei Litbang Kompas. PDIP menyebut pemimpin bangsa tidak ditentukan oleh survei.

Selain Dipecat, Kapolsek Parigi yang Lakukan Perkosaan Juga Dipidana

Kapolda Sulteng pastingan proses pidana Kapolsek Parigi yang memperkosa anak dari tersangka pencurian ternak jalan terus.

Buruan Daftar! Kemenaker Buka Beasiswa 1000 Talenta Santri

Kemenaker membuka pendaftaran Beasiswa 1000 Talenta Santri bagi santri di seluruh Indonesia dalam bentuk program pelatihan.

Sidik Pinjol yang Bikin Ibu Wonogiri Bunuh Diri, Bareskrim Sita Rp20 M

Bareskrim Polri menyita Rp20 miliar dari Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Solusi Andalan Bersama yang diduga menaungi pinjol ilegal yang membuat ibu di Wonogiri bunuh diri.

Polisi Tangkap Bos Pinjol Pemicu IRT di Wonogiri Gantung Diri

Polisi menangkap bos perusahaan pinjol ilegal yang diduga menyebabkan IRT di Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah meninggal gantung diri karena tidak kuat menahan teror pinjol ilegal.

Anggotanya Diduga Perkosa Anak Tersangka, Kapolda Sulteng Minta Maaf

Kapolda Sulawesi Tengah (Sulteng), Irjen Polisi Rudy Sufahriadi, meminta maaf kepada masyarakat buntut kasus Kapolsek Parigi yang memerkosa anak tersangka.

Diduga Perkosa Anak Tersangka, Kapolsek Parigi Dipecat Tidak Hormat

Kapolsek Parigi, Iptu IDGN, yang diduga memerkosa anak tersangka diberhentikan secara tidak hormat setelah menjalani sidang kode etik, Sabtu (23/10/2021).

Sukmawati Soekarnoputri Pindah Agama Hindu, Sudah Dapat Izin Paundra?

Putri Presiden Soekarno, Sukmawati Soekarnoputri pindah agama Hindu, apakah sudah mendapatkan izin dari GPH Paundrakarna, sang anak?

UU PDP Jaminan Kejelasan Hukum Korban Pinjol

UU PDP bisa mengatur dengan kekuatan hukum yang jelas tentang warga harus mengadu ke mana atau kepada siapa ketika menjadi korban kebocoran data pribadi.

Kehebohan Beragama Belum Menjadi Jalan Kebudayaan

Kehebohan beragama belum menjadi jalan pembebasan menuju kerja bersama seluruh elemen bangsa mewujudkan peradaban dan kehidupan yang lebih baik di semua aspek kehidupan.

10 Berita Terpopuler : Kera Serbu Rumah - Resepsi Boleh Ada Penyanyi

Serangan kera liar di permukiman warga Kebakkramat hingga aturan resepsi pernikahan di Solo masuk daftar 10 berita terpopuler Solopos.com pagi ini.

Cakupan Vaksinasi Tinggi, Inggris Masih Diamuk Corona

Amukan corona di negara ini memicu kekhawatiran terlebih Inggris menjadi salah satu negara yang cakupan vaksinasinya sudah termasuk tinggi.

Solo Gencarkan Digitalisasi Sistem Pendidikan Menuju Era Industri 4.0

Bidang pendidikan dituntut mengembangkan sistem pendidikan dengan mengintegrasikan nilai-nilai budaya Jawa berbasis TI menuju smart education.