Abu Nadhif/Dokumen Solopos

Solopos.com, SOLO — Bukan hal baru Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dipimpin seorang jenderal. Sebagian besar nakhoda PSSI adalah jenderal.

Mereka adalah Bardosono (1975-1977), Ali Sadikin (1977-1980), Sjarnoebi Said (1981-1985), Kardono (1985-1991), Azwar Anas (1991-1999), Agum Gumelar (1999-2003), dan Edy Rahmayadi (2016-2019).

Beberapa ketua umum PSSI lainnya juga dari kalangan militer meski tidak berpangkat jenderal, di antaranya Soeratin (letnan kolonel), dan Maulwi Saelan (kolonel).

Hanya tiga orang dari kalangan sipil yang pernah memimpin PSSI. Mereka adalah Nurdin Halid (2003-2011), Djohar Arifin Husin (2011-2015), dan La Nyalla Mataliti (2015).

Dari seluruh jenderal yang pernah memimpin federasi sepak bola Indonesia, hanya Kardono dan Azwar Anas yang bisa dikatakan berprestasi gemilang. Kardono mempersembahkan emas pada SEA Games 1987 sedangkan Azwar Anas meraih emas pada SEA Games 1991.

Pada era Azwar Anas, Indonesia menorehkan peringkat tertinggi FIFA, yakni peringkat ke-76. Setelah 1991, Indonesia terpuruk hingga kini. Silih berganti pucuk pimpinan, prestasinya tetap sama.

Kini PSSI kembali dipimpin seorang jenderal. Kali ini dia bukan dari kalangan militer melainkan dari kepolisian. Mochammad Iriawan alias Iwan Bule menjadi polisi pertama yang menakhodai federasi olahraga paling digandrungi di Indonesia ini.

Mampukah Iwan Bule membawa sepak bola Indonesia ke level lebih tinggi dan disegani sebagai Macan Asia seperti era Kardono dan Azwar Anas? Pertanyaaan itu yang mengemuka hari-hari ini.

Banyak yang meragukan. Iwan Bule termasuk orang baru di sepak bola. Sama seperti pendahulunya yang gagal total, Edy Rahmayadi. Edy yang terpilih sebagai ketua umum PSSI mengalahkan seniornya di militer, Moeldoko, bahkan tak mampu mengendalikan roda organisasi dengan baik.

Kasus pengaturan skor, banyak suporter yang meninggal akibat bentrokan, serta koordinasi di PSSI yang buruk menjadikan Edy sebagai salah satu ketua PSSI terburuk sepanjang sejarah.

Bukan Mustahil

Ia akhirnya mundur dari jabatannya pada 20 Januari 2019 karena tak lagi merasa mampu memimpin PSSI. Jabatan Gubernur Sumatra Utara lebih menarik baginya. Mampukah Iwan Bule menyelesaikan pekerjaan yang ditinggalkan Edy Rahmayadi?

Sulit, tapi bukan mustahil. Iwan memimpin PSSI ketika tim nasional Indonesia dengan pelatih Simon Mc Mannemy sedang terpuruk. Dari lima kali pertandingan prakualifikasi Piala Dunia 2022, tim nasional Indonesia tidak pernah menang.

Indonesia tiga kali tumbang di kandang, kalah dari lawan-lawan yang berlevel Asia Tenggara, yakni Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Meski banyak yang ragu dengan kemampuan Iwan Bule, tidak ada pilihan lain kecuali menaruh kepercayaan sebesar-besarnya di pundak jenderal polisi tersebut.

Latar belakang Iwan sebagai penyidik menjadi harapan pembersihan sepak bola dari mafia. Mafia sepak bola adalah borok yang membuat prestasi Indonesia jalan di tempat, bahkan terpuruk.

Dalam beberapa kali tayangan wawancara dengan Iwan di televisi, saya melihat ada semangat dari pernyataan-pernyataannya. Ia tak banyak mengumbar kata, tapi nada bicaranya menyiratkan ketegasan tindakan.

Soal Satuan Tugas Antimafia Sepak Bola, ia memastikan akan terus ada. Sebagai jenderal bintang tiga di kepolisian, tak sulit rasanya bagi dia untuk berkoneksi dengan kepala Polri guna memberi prioritas terhadap persoalan yang menjadi keprihatinan publik ini.

Secara organisasi ia memang tidak punya kuasa memecat anggota Komisi Eksekutif PSSI. Sama dengan dirinya, Komisi Eksekutif dipilih oleh para voter. Inilah yang akan menjadi ganjalan bagi Iwan ketika masih ada pengurus PSSI yang main-main.

Ia punya modal: kepercayaan pencinta sepak bola Indonesia. Jika bisa membuktikan ketegasan, ia tinggal menunjukkan kepada publik siapa yang bermasalah. Biarkan hukuman sosial yang bicara.

Jika ada pengurus yang nakal, siapkan saja penindakan hukum secara pidana. Iwan menyatakan bukan tidak mungkin menyadap telepon pengurus PSSI yang disinyalir bermain mata dengan mafia sepak bola.

Momentum Sangat Tepat

Bila ia bisa membuktikan ucapan itu, masyarakat akan berduyun-duyun di belakangnya. Tidak ada pilihan lain kecuali memberi kesempatan seluas-luasnya kepada Iwan Bule memimpin PSSI. Pencinta sepak bola negeri ini bisa berpartisipasi dengan memberikan masukan-masukan yang bisa dipakai Iwan membangun PSSI.

Ia mengatakan ada 11 kementerian yang terlibat memajukan sepak bola Indonesia, antara lain Kementerian Pemuda dan Olahraga, Kementerian Badan Usaha Milik Negara, Kementerian  Kesehatan, Kementerian Keuangan.

Ini adalah momentum yang sangat tepat untuk memajukan sepak bola Indonesia. Pada 2021, Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20. Lupakan dulu kepedihan prestasi tim nasional senior.

Mari bantu Iwan Bule membenahi PSSI. Mumpung Presiden Joko Widodo memberi atensi khusus untuk olahraga paling tenar sejagat ini. Berbagai terobosan bisa dilakukan Iwan Bule.

Usulan pengamat sepak bola, Edy Sofyan, layak dipertimbangkan. PSSI perlu mengimpor satu paket pelatih dan direktur teknik untuk menggosok talenta-talenta muda kita.

Jika Jepang sukses dengan Zico, Korea Selatan jaya dengan Guus Hiddinx, dan Arab Saudi gemilang dengan Mario Zagallo, kenapa Indonesia tidak meniru hal yang sama? Sudah saatnya Indonesia naik level ke tingkat Asia, mengulang prestasi pada 1980-an dan awal 1990-an.

Tengoklah bibit-bibit muda yang menghuni tim nasional U-16, tim nasional U-19, dan tim nasional U-19. Bagaimana cara mereka bermain sebagai tim? Bagaimana semangat mereka membara karena ada lambang garuda di dada?

Bagaimana air mata mereka tumpah kala Indonesia Raya berkumandang? Mereka adalah aset bangsa yang harus diselamatkan dari keburukan pengelolaan sepak bola Indonesia.

Karena itulah, harapan besar tersemat di pundak Iwan Bule. Benahilah organisasi PSSI, bersihkanlah siapa saja yang masih bermain-main dengan mafia, bikinlah program bagus untuk tim nasional dari semua kelompok umur.

Jika itu bisa dikerjakan dengan baik, level Indonesia dengan sendirinya akan merangkak sehingga tampil di Piala Dunia U-20 pada 2021 bukan hadiah, melainkan kita memang layak ada di sana.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten