Kategori: Klaten

Dukuh Ngendegan Klaten Lockdown, PTM di SD Aisyiyah Pandes Ikut Terdampak


Solopos.com/Ponco Suseno

Solopos.com, KLATEN - Pembelajaran tatap muka atau PTM secara terbatas siswa kelas VI SD Aisyiyah Full Day Pandes dipindah dari gedung II Dukuh Ngendegan ke Gedung I Dukuh Irobangsan, desa setempat, dalam beberapa waktu terakhir. Dipindahnya lokasi pembelajaran sejumlah siswa itu merupakan imbas dari kebijakan lockdown di Dukuh Ngendegan, Klaten.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, Satgas PP Covid-19 Pandes dan di tingkat RT/RW memutuskan lockdown diberlakukan di wilayah RT 031/019, Dukuh Ngendegan, Desa Pandes, Klaten, sejak Senin (12/4/2021). Hal itu menyusul sebanyak 14 orang di wilayah RT 031/019, Dukuh Ngendegan, dinyatakan terkonfirmasi Covid-19. Satu dari 14 orang tersebut meninggal dunia.

Baca Juga: Masjid Agung Baitunnur, Pusat Islam di Kabupaten Blora Sejak Tahun 1722

Dalam perkembangannya, jumlah warga terpapar virus corona menjadi 16 orang, Jumat (16/4/2021). Belasan warga yang terkonfirmasi Covid-19 itu berasal dari dua keluarga besar. Guna mencegah persebaran Covid-19, Pemdes Pandes dan Satgas RT/RW menutup sementara akses ke lokasi tersebut.

"Kami memiliki dua gedung, yakni gedung I dan gedung II. Kebetulan, gedung II berada di Dukuh Ngendegan yang aksesnya sedang ditutup. Di gedung II ada 100-an siswa kelas VI yang sedang mempersiapkan diri menghadapi Ujian Sekolah (US) tingkat SD, 26 mendatang [26 April 2021]," kata Kepala SD Aisyiyah Full Day Pandes, Hartono, saat ditemui wartawan di kantornya, Sabtu (17/4/2021).

"Agar anak-anak kelas VI bisa mempersiapkan diri untuk ujiannya, lokasi pembalajaran siswa kami pindah dari gedung II ke gedung I [berjarak 500 meter]. Ini juga sudah dikoordinasikan dengan orangtua siswa," lanjutnya.

Protokol Kesehatan

Hartono mengatakan pembelajaran tatap muka secara terbatas berlangsung setiap hari masuk sekolah, pukul 06.30 WIB-11.00 WIB. Setiap sesi pembelajaran hanya diikuti 10 orang per ruang kelas. Setiap siswa dan bapak/ibu guru yang terlibat dalam pembelajaran tersebut diwajibkan menaati protokol kesehatan.

Hal itu seperti memakai masker, menjaga jarak, rutin cuci tangan pakai sabun, dan protokol kesehatan lainnya. "Kami sudah memiliki standar operasional prosedur (SOP). Dari masuk sekolah, siswa dan guru sudah diperiksa suhu tubuh, cuci tangan pakai sabun, tidak berkerumun, dan menjaga jarak," katanya.

Baca Juga: Perhimpunan Indonesia Tionghoa Tertarik Investasi Antarnegara di Pati

Kepala Desa (Kades) Pandes, Kecamatan Wedi, Heru Purnomo, mengatakan belasan warganya yang menjalankan isolasi mandiri berada di lima rumah. Jumlah itu tersebar di dua keluarga besar. "Yang positif Covid-19 sangat taat sekali dalam menaati protokol kesehatan," katanya.

Share
Dipublikasikan oleh
Ahmad Baihaqi