Duka untuk Maradona Mengalir dari Buenos Aires hingga Ngarsapura
Ilustrasi kawasan Ngarsapura, Solo, Jateng. (Solopos.com-Nicolous Irawan)

Solopos.com, SOLO — Seluruh dunia seolah-olah kehilangan legenda sepak bola dunia asal Argentina tatkala Diego Armando Maradona dikabarkan meninggal dunia di Tigre, sebelah utara ibu kota Buenos Aires, Argentina, Rabu (25/11/2020). Duka mengalir dari Buenos Aires hingga kawasan Ngarsapura, Solo, Jawa Tengah.

Di Solo, memori Maryadi Suryadharma langsung melayang ke tahun 1986 ketika mengingat Maradona. Maryadi yang saat itu masih berusia 14 tahun melongo di depan layar televisi di rumahnya ketika Argentina menghadapi Inggris di perempat final Piala Dunia 1986.

Momentum di menit ke-55 pertandingan itu benar-benar tak bisa dilupakan Maryadi hingga sekarang. “Bolanya seperti sangat lengket di kakinya,” kenang lelaki yang akrab disapa Maryadi Gondrong ini saat berbincang dengan Espos di Ngarsapura, Kamis (26/11/2020).

Fengsui Tempat Usaha: Ini Tips Warung Sembako Sukses!

Kala itu Maradona melakukan solo run dari tengah lapangan dan melewati empat pemain Inggris yakni Peter Beardsley, Peter Reid, Terry Butcher hingga Terry Fenwick. Legenda berjuluk El Pibe de Oro itu kemudian mampu mengecoh kiper Peter Shilton dan menceploskan bola ke gawang yang kosong.

Saking indahnya, gol kedua Maradona di laga itu terpilih sebagai yang terbaik di abad ke-20 pada 2002 lalu. “Gol pertamanya di laga itu juga sulit saya lupakan, gol tangan Tuhan. Meski kontroversial, gol itu membuat dia menjadi dewa di sepak bola,” ujar sesepuh Pasoepati tersebut.

Gol yang memecundangi Shilton untuk kali kedua itu mengantar Argentina lolos ke semifinal dengan kemenangan 2-1. Tim Tango akhirnya keluar sebagai juara Piala Dunia 1986 seusai membekuk Jerman Barat 3-2 di Stadion Azteca, Meksiko.

Cermati! Zodiak-Zodiak Ini Bisa Jatuh Cinta demi Uang

Itu menjadi gelar piala dunia terakhir bagi Argentina hingga Maradona menutup mata selamanya pada Rabu (25/11/2020) malam WIB. Legenda yang sempat dua kali menjadi pemain termahal dunia itu meninggal dunia di usia 60 tahun karena serangan jantung.

Tarik Perhatian Publik

Bersama pendiri Pasoepati, Mayor Haristanto, dan sejumlah warga Solo, Gondrong menyampaikan duka mendalam dengan membawa poster bertuliskan Rest in Peace Maradona di Jl. Slamet Riyadi kawasan Ngarsapura. Aksi itu cukup menarik perhatian pengguna jalan yang melintasi jalan protokol.

“Maradona sudah menjadi idola suporter sepak bola di dunia. Siapa yang tidak kenal Maradona? Ucapan duka ini menjadi apresiasi kecil pada Maradona yang telah menginspirasi banyak orang,” ujar Mayor Haristanto.

Elemen Fengsui dalam Rumah Bisa Datangkan Rezeki

Di kota kelahirannya, Buenos Aires, ribuan warga memenuhi istana kepresidenan, Casa Rosada, untuk memberi penghormatan terakhir pada sang legenda. Maradona disemayamkan di istana kepresidenan Kamis hingga Sabtu (26-28/11/2020) sesuai penawaran Presiden Argentina, Alberto Fernandez. Tak hanya itu, Argentina mengumumkan tiga hari berkabung.

Duka yang mendalam juga tampak di Naples, Italia. Ratusan pendukung Napoli berkumpul di depan mural bergambar Maradona sambil menyalakan lilin di jalanan. Maradona pernah membela Napoli sepanjang 1984-1991 dan mempersembahkan dua scudetto.

Warga Meksiko ikut memberi penghormatan dengan mengunjungi Stadion Azteca, saksi sejarah Maradona merengkuh gelar Piala Dunia 1986.

Ngeri, Bangunan di Karo Ambles Terbawa Longsor

Yang menarik, penghormatan pada El Pibe de Oro juga tampak di Rio de Janeiro, Brasil. Seniman lokal, Angelo Campos, menggambar mural sang legenda meski Brasil adalah rival abadi Argentina, negara asal Maradona.

Legenda Brasil, Pele, mengaku amat berduka dengan kepergian Maradona. Di jagat sepak bola, keduanya kerap diperdebatkan sebagai pemain terbaik sepanjang masa.

“Saya kehilangan teman baik dan dunia kehilangan seorang legenda. Suatu hari, saya harap kita bisa bermain bola bersama di surga,” ujar Pele.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom