Duh, Warga 75 Desa di Jepara BAB Sembarangan
Pelaksana Tugas Bupati Jepara Dian Kristiandi menabuh gong untuk meresmikan Program Kali Lingkas (Kader Peduli Kaline Bening Kakuse Sehat) pada Objek Wisata Kali Bening, Desa Tanjung, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Jumat (28/6/2019). (Antara-Istimewa)

Semarangpos.com, JEPARA — Sebanyak 120 desa di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah dinyatakan sebagai desa bebas buang air besar (BAB) sembarangan atau open defecation free (ODF). Sedangkan di 75 desa sisanya masih ada warga yang BAB sembarangan.

"Kami menargetkan tahun ini, seluruh desa yang ada di Jepara dinyatakan lulus 100% menjadi desa ODF," kata Kepala Dinas Kesehatan Jepara Mudrikatun saat memperkenalkan Program Kali Lingkas (Kader Peduli Kaline Bening Kakuse Sehat) pada Objek Wisata Kali Bening, Desa Tanjung, Kecamatan Pakis Aji, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (29/6/2019). Peluncuran Kali Lingkas dihadiri Pelaksana Tugas Bupati Jepara Dian Kristiandi dan sejumlah pihak terkait.

Ia mengungkapkan data jamban yang masih BAB sembarangan berjumlah 17.372 keluarga. Sedangkan jamban sehat permanen (JSP) 57,17%, jamban sehat semi permanen (JSSP) 22,92%, dan sharing atau menumpang 15,09% dari seluruh keluarga yang sudah memiliki jamban.

Untuk percepatan ODF, Dinas Kesehatan Kabupaten Jepara telah melakukan berbagai kegiatan dan upaya meliputi sosialisasi atau pemberian penyuluhan, pemacuan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kemampuan masyarakat dalam merencanakan dan melaksanakan program pengembangan cakupan sanitasi melalui pengembangan jamban keluarga. Selain itu, kata dia, monitoring dan evaluasi verifikasi ODF, serta pemberdayaan dan menumbuhkan peran serta masyarakat dengan Program Kali Lingkas.

Dian Kristiandi berharap, masyarakat Desa Tanjung dan masyarakat Jepara tidak lagi BAB sembarangan karena kurang bagus bagi kesehatan dan lingkungan. "Dalam menjalankan Program ODF diperlukan kerja sama dan komitmen bersama untuk menjaga kesehatan dan memberi edukasi kepada masyarakat supaya sadar bahwa kesehatan mahal harganya," ujarnya.

Untuk itu, lanjut dia, perlu dijaga dan diantisipasi supaya tidak jatuh sakit. "Lebih baik menjaga dari pada mengobati," ujarnya.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom