Duh, Dua Ibu Meninggal Dunia per Jam

Legislator Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPR RI, Luluk Nur Hamidah, mencatat setiap satu jam di Indonesia ada dua kasus kematian ibu di Indonesia.

 Seorang penyuluh KB dari BKKBN menyampaikan paparan tentang pencegahan stunting kepada para remaja di Rumah Makan Cengkir Gading Puro, Karangmalang, Sragen, Senin (20/6/2022). (Solopos.com/Tri Rahayu)

SOLOPOS.COM - Seorang penyuluh KB dari BKKBN menyampaikan paparan tentang pencegahan stunting kepada para remaja di Rumah Makan Cengkir Gading Puro, Karangmalang, Sragen, Senin (20/6/2022). (Solopos.com/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN–Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tinggi, yakni sampai 30%.

Legislator Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPR RI, Luluk Nur Hamidah, mencatat setiap satu jam di Indonesia ada dua kasus kematian ibu di Indonesia.

PromosiHari Keluarga Nasional: Kudu Tepat, Ortu Jangan Pelit Gadget ke Anak!

“Data ini sungguh mengerikan. Menyelamatkan masa depan Indonesia itu penting dilakukan dengan menghadirkan perilaku yang sehat dan dengan bahasa yang sama kepada remaja dengan pendekatan teman sebaya dan teman sepermainan. AKI itu berkorelasi dengan angka stunting di Indonesia yang tinggi, yakni rata-rata nasional di angka 24%. Atas dasar itulah, kami mengusulkan adanya Rancangan Undang-Undang Kesejahteraan Ibu dan Anak,” ujar Luluk saat ditemui wartawan di sela-sela sosialisasi pencegahan stunting di Rumah Makan Cengkir Gading, Puro, Karangmalang, Sragen, Senin (20/6/2022).

Luluk menerangkan Indonesia masih memiliki pekerjaan besar untuk menurunkan angka stunting.

Dia menyebut tingkat prevelensi stunting di Indonesia masih tinggi dibandingkan dengan angka yang ditoleransi WHO, yakni rata-rata nasional 24%.

Baca Juga: Curhat Ibu Hamil Kota Solo Khawatir Stunting, Ada Yang Pernah Pingsan

Pada 2024 mendatang, Luluk mengungkapkan angka stunting ditekan bisa 15% ke bawah.

Dalam pencegahan stunting itu, kata Luluk, pemerintah tidak bisa sendirian tetapi harus melibatkan semua stokeholders dan masyarakat.

Dia melihat angka stunting itu muncul bukan karena saat kelahiran saja, tetapi juga berkaitan dengan perilaku, gayahidup, kultur dan budaya ikut mempengaruhi adanya stunting.

Keberadaan sarana dan prasarana publik, jelas dia, juga berpengaruh, seperti keberadaan air bersih, sanitasi, dan kesehatan lingkungan lainnya.

Stunting juga muncul, kata dia, disebabkan karena ketidaksiapan ibu untuk hamil dan melahirkan, terutama pada perkawinan usia dini dan kehamilan di usia lanjut.

Baca Juga: Calon Pengantin di Solo Wajib Unduh Aplikasi Eksimil, Ini Alasannya

“RUU yang diusulkan FPKB itu sebagai salah satu bentuk intervensi yang menyeluruh, holistik, dan komprehensif dari hulu sampai hilir dalam pencegahan dan penanganan stunting. Penanganan stunting ini akan memberi efek multi pada penurunan AKI dan AKB. Dengan RUU itu ada upaya yang terintegrasi dari pusat sampai daerah dengan kebijakan anggaran dari APBN sampai APBD bahkan termasuk dana CSR,”ujarnya.

Dia melihat parlemen menyiapkan perangkat UU itu karena aturan yang ada sekarang masih terpisah-pisah, seperti UU Kesejahteraan Anak ternyata dibuat pada 1974.

Ada pula kebijakan kesejahteraan ibu dan anak yang masih dalam taraf peraturan pemerintah atau peraturan menteri.

Dia berharap dalam penyelenggaraan kesejahteraan ibu dan anak itu bisa komprehensif, terpadu, mulai dari tingkat perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pemantauan, pengawasan, anggaran, dan seterusnya.

Koordinator Pelatihan dan Pengembangan BKKBN Jateng, Suwarno, menyampaikan tim pendamping dalam pencegahan stunting itu sudah terbentuk dari level provinsi sampai ke tingkat kecamatan dan kelurahan/desa.

Dia menerangkan tim di tingkat desa/kelurahan itu disebut dengan Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang langsung menyentuh pada sasaran masyarakat.

Dia mengatakan di tingkat hulu sasarannya pada pengantin muda.

Dia menjelaskan setiap calon pengantin harus melapor ke desa/kelurahan tiga bulan sebelum menikah supaya dipantau oleh TPK yang anggotanya dari kesehatan, PKK, dan kader KB.

“Mereka mengisi aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Siap Hamil (Elsimil). Dengan aplikasi itu akan ada questioner keterkaitan dengan gizi pada pengantin. Ketika ada indikator merah maka harus ada perhatian pada diri pengantin dan kader pendamping. Ketika ditemukan lingkar lengan kurang maka harus segera ada edukasi dari pendamping dan seterusnya,” jelasnya.

Simak berbagai berita pilihan dan terkini dari Solopos.com di Grup Telegram "Solopos.com Berita Terkini". Klik link https://t.me/soloposdotcom kemudian join/bergabung. Pastikan Anda sudah menginstall aplikasi Telegram di ponsel.

Solopos.com Berita Terkini

Berita Terkait

Berita Lainnya

Espos Plus

Berita Terkini

Bermalam di Jl. Mayor Kusmanto Demi Jaga Lapak Jualan di CFD Klaten

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Klaten, Supriyono, menjelaskan PKL hanya diperbolehkan menempati kawasan paving di kedua sisi Jl. Mayor Kusmanto.

Lantang! Rudy Solo: Ganjar Pranowo Presiden ke-8 RI

Ketua DPC PDIP Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, memprediksi Ganjar Pranowo menjadi presiden kedelapan RI.

Warga Sragen Meninggal Tak Wajar: Mayat Sujud Tapi Kepala Masuk Ember

Warga Sragen diduga meninggal secara tak wajar karena posisi mayatnya seperti sujud, namun kepalanya berada di dalam ember di kamar mandi.

Makam Jenazah Warga Sragen Dibongkar, Meninggal Tak Wajar?

Jenazah warga Sragen yang diduga meninggal tak wajar diautopsi setelah kuburannya dibongkar.

Sang Legenda! Naik Damar Sasongko Solo-Sukoharjo Serasa Bus Perang

Bus perintis Solo-Jatipuro, Damar Sasongko, merupakan sang legenda di Sukoharjo yang memacu adrenalin penumpang karena serasa menumpang bus perang.

60 Mobil Ikuti Bhayangkara Autoshow di Wonogiri, Ini Keseruannya

Polres Wonogiri menggelar Bhayangkara autoshow yang diikuti 60 peserta mobil modifikasi dari sejumlah daerah di Tanah Air

Baru 6 Hari Dimakamkan, Tim Dokter Polda Jateng Autopsi Warga Sragen

Kapolres Sragen AKBP Piter Yanottama melalui Kanit Pidana Umum Polres Sragen Ipda Setya Pramana mengatakan autopsi ini atas permintaan keluarga karena adanya kecurigaan dan kejanggalan saat meninggal dunia.

Desain Bangunan Pasar Jongke Tak Berubah, Kios Akan Tampak dari Luar

Kepala Bidang Sarana Distribusi Perdagangan Dinas Perdagangan Solo, Joko Sartono menjelaskan kios Pasar Kabangan dan Jongke nanti kelihatan dari jalan.

Nostalgia Naik 7 Bus Legend Rute Solo-Sukoharjo, Sensasinya Hmm Mantap

Deretan bus perintis yang legend di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah sampai saat ini masih cukup eksis meskipun jumlah penumpangnya terus menurun.

Gagal Diraih Solo, Ini Potensi 4 Kota Kreatif Unesco di Indonesia

Kota Solo dua kali gagal meraih predikat The Unesco Creative Cities Network (UCCN) atau Kota Kreatif Unesco. Di Indonesia, terdapat empat kota yang sudah dinobatkan sebagai Kota Kreatif Unesco.

Obati Rindu! CFD Klaten di Jl Mayor Kusmanto Diserbu Warga

Penyelenggaraan CFD perdana di Klaten setelah dua tahun tutup akibat pandemi Covid-19 diserbu warga.

Disebut Tak Punya Bumel, Ini Deretan Bus Kota Legend di Sukoharjo

Masih ingat dengan deretan bus perintis yang legend di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah?

Bulan Bakti IIDI, Bagikan 1.000 Telur untuk Anak-Anak di CFD

Sebanyak 1.000 telur dibagikan dalam rangka Bulan Bakti Ikatan Istri Dokter Indonesia, yang mengusung tema dukung program prioritas nasional cegah stunting.

Warga Banjiri CFD Perdana di Jl. Mayor Kusmanto Klaten

Warga membanjiri kawasan jalan Mayor Kusmanto yang digunakan untuk area CFD.

Round Up Masalah PPDB SMA/SMK di Solo: Zonasi - Manipulasi Bikin Pusing

Sederet masalah mewarnai proses PPDB SMA/SMK di Kota Solo pada tahun ini.

Round Up Remaja Wonogiri Hilang - Hamil, Ayah Bayi Masih Misterius

Sosok ayah bayi dalam kandungan remaja Wonogiri yang hilang setahun lalu sampai saat ini belum diketahui dengan pasti.