Ilustrasi kebakaran hutan. (JIBI/Solopos/Antara/Fikri Yusuf)

Solopos.com, SEMARANG — Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia selama kurun waktu 2019 terjadi cukup masif. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bahkan menyebut total karhutla sepanjang tahun ini mampu menghanguskan 875.756 lahan hutan, baik mineral maupun gambut.

Dari jumlah sebanyak itu, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) menyumbang karhutla paling luas, yakni 134.277 hektare. Disusul Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) dengan luas mencapai 127.462 hektare, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan luas lahan hutan mineral yang terbakar mencapai 119.459 hektare.

Sementara itu, karhutla yang melanda Provinsi Jateng selama musim kemarau 2019 ini terbilang cukup masif. Total ada sekitar 4.390 lahan hutan mineral yang terbakar di Jateng selama musim kemarau ini.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB, Agus Wibowo, dalam keterangan tertulisnya menyebutkan karhutla pada lahan mineral terjadi di seluruh provinsi di Indonesia dengan luasan terdampak terkecil di Provinsi Banten, yakni sekitar 9 hektare.

“Data KLHK [Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan] mencatat luas karhutla dari Januari-September 2019 mencapai 857.756 hektare dengan perincian lahan mineral mencapai 630.451 dan lahan gambut sekitar 227.304 hektare. Luasan lahan yang terbakar hingga 2019 ini lebih besar dibandingkan luas lahan karhutla dalam tiga tahun terakhir. Luas karhutla pada 2018 mencapai 510.000 hektare, sedangkan pada 2016 mencapai 438.000 hektare,” tulis Agus dalam keterangan resmi yang diperoleh Semarangpos.com, Selasa (22/10/2019).

Sementara itu, Data BNPB pada Selasa sekitar pukul 08.00 WIB mencatat masih terjadi karhutla di sejumlah wilayah di Indonesia. Titik panas atau hot spot teridentifikasi di enam provinsi, yakni Sumsel 153 titik, Kalteng 44 titik, Kalsel 23 titik, Kalbar 44 titik, Kalsel 23 titik, Kalbar 5 titik, dan Jambi 2 titi.

“Data tersebut berdasarkan citra satelit modis-catalog papan pada 24 jam terakhir. Masih adanya titik panas berpengaruh terhadap kualitas udara di wilayah terdampak,” imbuh Agus.

Selain keenam provinsi tersebut, kebakaran juga masih terjadi di kawasan pegunungan seperti Gunung Cikuray, Gunung Ungaran dan Gunung Arjuno-Welirang, dan Gunung Ringgit.

BNPB pun masih menyiagakan helikopter guna melakukan pengeboman air atau waterbombing serta patroli. Total air yang sudah digunakan untuk water bombing di sejumlah wilayah hingga kali ini telah mencapai 392 juta liter.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten