Tutup Iklan
Wakapolda Jateng, Brigjen Pol. Ahmad Luthfi (kanan), berfoto dengan Dirlantas Polda Jateng, Kombes Pol. Rudi Antariksawan, pada acara Police Goes to Kampus di Kampus Undip, Semarang, Kamis (17/10/2019). (Semarangpos.com-Imam Yuda S.)

Solopos.com, SEMARANG — Angka kecelakaan lalu lintas (lakalantas) di Jawa Tengah (Jateng) selama setahun terakhir terbilang tinggi. Sepanjang 2019 ini bahkan ada sekitar 3.000 nyawa melayang akibat lakalantas yang terjadi di Jateng.

Hal itu disampaikan Wakapolda Jateng, Brigjen Pol. Ahmad Luthfi, saat mencanangkan Kampus Pelopor Keselamatan (Kapeka) Berlalu Lintas di Gedung Prof. Soedarto, kampus Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, Kamis (17/10/2019).

Luthfi menyebut total ada sekitar 19.261 kasus kecelakaan yang terjadi di Jateng sejak 1 Januari – 30 September 2019. Jumlah itu mengalami peningkatan sekitar 45% dibanding periode yang sama pada 2018, yakni 13.270 kasus.

“Dari jumlah sebanyak itu, total yang mengalami kematian 3.000-an. Kalau dirata-rata berarti setiap harinya ada 8 orang yang meninggal akibat kecelakaan. Sebulannya sekitar 200-an orang. Jumlah yang terbilang tinggi,” ujar Luthfi.

Luthfi menambahkan dari sekian banyak korban lakalantas yang meninggal dunia itu mayoritas merupakan generasi milenial atau golongan usia produktif.

Oleh karenanya, pihak kepolisian pun aktif dalam mengencarkan keselamatan berlalu lintas pada generasi milenial, tak terkecuali di kampus-kampus.

“Memperhatikan situasi itu, tidak ada salahnya kita menjadikan kampus sebagai pelopor keselamatan berlalu lintas dengan sasaran utama para mahasiswa yang merupakan generasi milenial. Mahasiswa jadi lebih sadar dan tertib berlalu lintas,” ujar mantan Kapolresta Solo itu.

Senada juga disampaikan Direktur Penegakan Hukum (Dirgakum) Korlantas Polri, Brigjen Pol. Kushariyanto. Jenderal polisi bintang satu itu berharap mahasiswa bisa menjadi duta keselamatan berlalu lintas di tengah masyarakat.

Disinggung terkait angka lakalantas di Jateng, Kushariyanto menilai jumlah tersebut terbilang tinggi. Hal itu dikarenakan Jateng merupakan jalur transportasi vital yang menghubungkan kota-kota besar di Pulau Jawa.

“Jateng menjadi pintu atau tumpahan kendaraan-kendaraan dari atau menuju Jakarta, seperti halnya Jawa Barat. Jadi jalurnya bisa dikategorikan rawan,” imbuh Kushariyanto.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten