Dua Pelintasan Sebidang Ditutup, Warga di Kulonprogo Bikin Jalan Sendiri
Warga bersama anggota Koramil setempat sedang membangun jalan alternatif di Dusun Sentolo Lor, Desa Sentolo, Kecamatan Sentolo, Jumat (16/3/2018). (Uli Febriarni/JIBI/Harian Jogja)

Sebanyak dua pelintasan Kereta Api (KA) yang berada di Kabupaten Kulonprogo resmi ditutup

Solopos.com, KULONPROGO-Sebanyak dua pelintasan Kereta Api (KA) yang berada di Kabupaten Kulonprogo resmi ditutup. Warga di dua kecamatan membangun jalan alternatif secara swadaya.

Misalnya di Dusun Sentolo Lor, setelah pintu perlintasan KA sebidang Ngeseng ditutup, ada dua pilihan jalan yang bisa dilalui bagi pengendara dari Jogja-Wates, atau Wates-Jogja. Yaitu, lewat jalan layang Ngelo atau lewat jalan kampung yang melewati stasiun Sentolo.

Hanya saja diketahui, jalan kampung hanya berupa semen cor dan sudah mulai rusak di banyak titik, akibat kerap dilewati kendaraan yang mencari jalan alternatif tembus jalur via jalan layang Ngeplang.

Kepala Dusun Sentolo Lor, Joko Santosa pada Jumat (16/3/2018) menyebutkan, jalan alternatif tembus Ngeplang tersebut dibangun dengan bantuan desa sebesar Rp90,1 juta, dengan panjang cor 350 meter, lebar 3 meter.

Salah seorang pengendara sepeda motor, Sarjono merasa bersyukur melihat warga setempat yang berinisiatif memperkeras jalan alternatif. Menurut warga Kaliagung, Sentolo berusia 48 tahun itu, akibat penutupan perlintasan Ngeseng, pengguna jalan dari arah Kaliagung harus memutar sejauh dua Kilometer bila akan menuju Wates atau jalan alternatif ke arah Jogja.

Hal yang sama terjadi di perlintasan rel KA Dusun Jatikontal, Desa Temon Wetan, Kecamatan Kokap. Warga setempat mulai membangun jalan perlintasan baru di bawah jalur rel KA, memfungsikan kolong jembatan yang merupakan akses Desa Kaligintung dengan Desa Temon Wetan.

Warga Dusun Jatikontal, Mujiman menuturkan, sejak perlintasan rel KA di wilayah Jatikontal ditutup, warga memilih mencari jalan memutar. Dengan membuat jalan baru di bawah rel, warga berharap tidak lagi harus memutar untuk melewati jalan akses dua desa tadi. Lelaki berusia 71 tahun itu menambahkan, pembangunan jalan dilakukan secara bergotong-royong, walaupun belum sepenuhnya selesai, jalan sudah bisa dilewati warga.

Kepala Dusun Jatikontal, Kamiso mengungkapkan, pada dasarnya warga mendukung penutupan perlintasan KA, demi keamanan dan keselamatan warga sekitar. Hanya saja pembangunan jalan yang dilakukan swadaya oleh warga dan menghabiskan dana iuran warga sebanyak Rp60 juta itu, bisa membantu memudahkan akses antar dua desa.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom