Tutup Iklan
Dua Malam Sehari Karanganyar Terus Bermimpi Bikin Sekolah Sepak Bola
Dua Malam Sehari (kiri) (Istimewa-Dokumentasi Pribadi)

Solopos.com, KARANGANYAR--Dua Malam Sehari bermimpi mendirikan kembali sekolah sepak bola di Kabupaten Karanganyar.

Mimpinya itu disampaikan saat Hari, sapaan akrab Dua Malam Sehari, berbincang dengan Solopos.com, Kamis (9/7/2020).

Dia pernah membuat sekolah sepak bola bersama pemain nasional Rochy Putirai tahun 2010. Tetapi sekolah sepak bola itu tutup setelah Rochy pensiun. Kali kedua, dia mendirikan sekolah sepak bola bersama sejumlah pemain nasional lain.

Wartawan Metro TV Meninggal dengan Luka Tusukan di Tepi Jalan Tol

"Sekolah sepak bola Jaya Muda. Bersama Sukisno, Agung Setyabudi, Totok Supriyanto. Pemain-pemain nasional itu juga saya ajak ikut pertandingan antarkampung [tarkam]. Ada beberapa kali saya undang pemain-pemain nasional itu tarkam," ujarnya.

Dia berharap bisa mengabdikan diri pada dunia sepak bola. Salah satunya dengan mendirikan kembali sekolah sepak bola.

"2021, mau bikin sekolah sepak bola lagi. Mewadahi, melatih, dan membina, menyalurkan bibit-bibit pemain sepak bola," celetuk dia.

Dua Malam Sehari, Pemilik Nama Unik Karanganyar Hobi Sepak Bola

Selain mendirikan sekolah sepak bola, Hari ternyata pernah menyelenggarakan turnamen yang menjadi buah bibir di kalangan pecinta sepak bola. Namanya, Plumbon Cup. Sesuai namanya, pertandingan diselenggarakan di Stadion Mini Plumbon, Tawangmangu.

"Persis Solo dengan PSBK Blitar. Tiket resmi yang terjual 8.620 lembar. Karier spektakuler. Pencapaian besar," ujarnya.

 

Modal Karanganyar

Dia juga berharap bisa membuat turnamen lagi di wilayah timur Karanganyar. Menurut dia, Kabupaten Karanganyar sudah memiliki modal menyelenggarakan turnamen sepak bola.

Tol Solo-Jogja Mulai Dikerjakan November

"Sudah ada lapangan bagus di Ngargoyoso, mini stadion Plumbon Tawangmangu, Koripan Matesih. Sudah bagus lapangannya. Bisa menyedot magnet. Saya ingin berbakti di Kabupaten Karanganyar [lewat sepak bola]."

Seperti diketahui, Hari mendapat nama Dua Malam Sehari itu dari almarhum bapaknya, Sapuan Djoyo Supadmo. Gara-garanya, Hari tidak kunjung lahir sesuai prediksi.

Ibunya, Sutasmi Djoyo Supadmo, harus menanggung sakit selama satu hari, dua malam karena bayi dalam kandungannya tidak lahir sesuai prediksi.

Fisik Anggota TNI Baik Masih Tertular Covid-19, Begini Penjelasannya

"Yang memberi nama almarhum bapak. Kenapa dinamakan Dua Malam Sehari itu karena cerita waktu itu, saya tidak kunjung lahir. Padahal seharusnya itu sudah saatnya saya lahir. Ibu saya harus merasakan sakit selama dua malam sehari. Orang desa nyebutnya 'nglarani'," cerita Hari saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis (9/7/2020).


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Pasang Baliho