Ilustrasi perangkat desa. (Solopos-Dok)

Solopos.com, KLATEN -- Calon perangkat desa (perdes) Klaten yang lolos ujian seleksi serentak pada Minggu (29/4/2018) berasal dari berbagai latar belakang hingga jenjang pendidikan. Dari ratusan perangkat desa, ada yang berstatus dosen serta calon dokter gigi.

Di Desa Sabranglor, Kecamatan Trucuk, calon perangkat desa yang lolos ujian, Sandi Danar Cynthia Sari, diketahui bekerja sebagai dosen di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Ada 12 pelamar untuk satu posisi jabatan Kaur Keuangan di Sabranglor.

Sebanyak 11 pelamar mengikuti seleksi pada Minggu. Dari hasil seleksi, Sandi menduduki ranking I dengan total nilai akhir 65,5.

Kepala Desa (Kades) Sabranglor, Sri Giyatna, awalnya juga penasaran dengan alasan Sandi yang berstatus dosen melamar menjadi perangkat desa. Ia lantas menemui Sandi beserta keluarganya.

Saat itu, Sri Giyatna menjelaskan tugas Kaur Keuangan serta besaran honor yang diterima yakni Rp1,8 juta/bulan dan mendapat tunjangan tambahan yakni mengelola tanah bengkok. “Jangan-jangan nanti setelah satu pekan atau satu tahun menjadi perangkat desa  kemudian mengundurkan diri. Saya bertanya untuk memastikan benar-benar mau menjadi perangkat desa sampai tiga kali. Ternyata ia memang sudah mantap dan niatnya mengabdi di masyarakat,” urai Sri Giyatna saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Rabu (2/5/2018).

Terkait posisi Kaur Keuangan diisi lulusan Pendidikan Kimia Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UNM) tersebut, Sri Giyatna berharap kinerja pemerintah desa kian baik. “Kalau tenaganya muda dan memiliki kemampuan IT, mudah-mudahan kinerja pemerintah desa tidak lagi berat,” katanya.

Ayah Sandi, Sunarso, mengatakan melamar menjadi perangkat desa merupakan inisiatif anaknya dengan tujuan ingin mengabdi di tanah kelahiran. Sandi yang berusia 28 tahun itu menjadi dosen di Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta sekitar dua tahun terakhir.

“Ya saya titipkan pesan agar bekerja harus hati-hati dan profesional karena tugasnya menyangkut keuangan. Jangan sampai menyalahgunakan uang negara,” katanya saat ditemui di rumahnya.

Di Desa Trucuk, Paryono menjadi calon perangkat desa untuk lowongan Kaur Keuangan setelah menduduki ranking I pada ujian seleksi, Minggu. Paryono menyandang gelar Sarjana Kedokteran Gigi setelah menempuh pendidikan di UGM.

Pria 37 tahun itu saat ini masih menjadi dokter muda atau koas sebelum mendapatkan titel dokter gigi. Kepala Desa Trucuk, Sagino, mengatakan ada 14 peserta seleksi perangkat desa  untuk posisi lowongan Kaur Keuangan di Trucuk.

Mayoritas peserta seleksi menyandang gelar sarjana dengan berbagai bidang pendidikan. “Yang jelas ujiannya bersifat terbuka dan siapa pun memiliki kesempatan dengan tujuan menjadikan Desa Trucuk lebih baik karena saat ini dibutuhkan orang-orang yang mumpuni di segala bidang seperti IT termasuk kemasyarakatan. Kebetulan yang lolos ujian ini aktif di kegiatan masyarakat,” kata Sagiyo.

Ditemui di rumahnya, Paryono mengatakan niatannya menjadi perangkat desa sudah muncul sejak setahun silam ketika ada kadus yang memasuki masa pensiun. Lantaran bakal menjadi perangkat desa, Paryono memilih tak meninggalkan proses mendapatkan titel sebagai dokter gigi.

“Tidak masalah. Karena saya selama ini sudah terjun di desa dan tertarik dengan pengabdian di masyarakat,” kata Paryono.



Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten