Kategori: Bisnis

Dorong Ekonomi Pesantren, Bank Indonesia Solo Ajak Pasarkan Poduk Halal


Solopos.com/Farida Trisnaningtyas

Solopos.com, SOLO — Bank Indonesia berkomitmen mengembangkan ekonomi syariah di pesantren sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Demi mewujudkannya, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo, Senin (16/11/2020), menggelar webinar bertajuk Digitalisasi Pembayaran dan Pemasaran Produk Halal Pesantren dan UMKM.

Bagi Bank Indonesia, ekonomi dan keuangan syariah dianggap menjadi solusi bagi penguatan pasar keuangan, ketahanan ekonomi, dan inklusi keuangan. Seiring dengan perkembangan globalisasi, praktik industri syariah juga mengglobal dan mendapatkan sambutan yang baik di berbagai belahan dunia. Salah satu potensi baru yang bisa dikembangkan adalah ekonomi berbasis pesantren.

Sebagai sarana edukasi dan literasi ekonomi keuangan syariah itu, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Solo menggelar webinar yang menghadirkan para narasumber ahli di bidangnya, yakni Community Development Manager Bukalapak, Jodi Salahudin Akbar; Ketua Satgas Layanan Halal Jawa Tengah, Khotibul Umam; dan District Manager Layanan Syariah Link Aja, Mufti Anas.

Astronom Klaim Temukan Kembaran Bulan di Balik Mars

Kepala KPw BI Solo, Bambang Pramono, mengatakan posisi Indonesia saat ini masih sebagai big market, bukan sebagai big player. Indonesia menjadi negara yang banyak mengonsumsi atau menggunakan produk halal dalam setiap kategori yang terdapat di industri produk halal global. Hal ini telah dibuktikan melalui data dari State of The Global Islamic Economy Report 2018/19.

“Sebagai bentuk dukungan nyata dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah Indonesia, Bank Indonesia memberikan kontribusi aktif dengan menyusun blueprint pengembangan ekonomi dan keuangan syariah yang berlandaskan pada tiga fokus strategi utama, yakni [1] penguatan ekonomi syariah; [2] pendalaman pasar keuangan syariah, dan [3] riset, asesmen, dan edukasi ekonomi dan keuangan syariah, di mana Bank Indonesia berperan sebagai Akselerator, Inisiator dan Regulator [AIR],” kata Bambang.

Pilar Ekonomi Syariah

Ia menjelaskan terkait pilar pertama, pemberdayaan dan penguatan ekonomi syariah dicapai melalui penguatan rantai nilai halal dengan mengembangkan ekosistem dari berbagai tingkat bisnis syariah, termasuk pesantren, UKM, dan perusahaan dalam rantai hubungan bisnis untuk memperkuat struktur ekonomi yang inklusif. Program ini dilaksanakan di empat sektor utama, yakni industri makanan halal, sektor pariwisata halal, sektor pertanian dan sektor energi terbarukan.

Gelayutan di Jembatan Kereta, Warga Bogor Bikin Jantungan

Dalam pilar kedua, Bank Indonesia mendukung distribusi pembiayaan syariah untuk pengembangan rantai nilai halal melalui pendalaman pasar keuangan syariah untuk meningkatkan efisiensi manajemen likuiditas pasar keuangan syariah. Pilar ketiga, peguatan riset, asesmen dan edukasi ekonomi dan keuangan syariah yang dilaksanakan dengan berbagai pihak terkait.

Data Kantor Kementerian Agama pada 2019 menunjukkan potensi pesantren di Indonesia sebanyak 27.722 lembaga pesantren dan jumlah santri sebanyak 4.175.467 orang. Dari sisi geografis, mayoritas pesantren berada di Pulau Jawa, sekitar 80% dari total pesantren. Pesantren merupakan lembaga pendidikan, keagamaan, sekaligus sebagai lembaga sosial yang telah berdiri sejak lama.

Akan tetapi, seiring dengan perkembangan zaman, pesantren sekarang diharapkan tidak hanya menjalankan fungsi tradisional, tetapi juga menjadi pusat penyuluhan kesehatan, pusat pengembangan teknologi tepat guna bagi masyarakat pedesaan, pusat usaha-usaha penyelamatan dan pelestarian lingkungan hidup, dan lebih penting lagi menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Peluang Bisnis Fesyen Muslim Menyeruak di Tengah Pandemi

“Saat ini berbagai model bisnis pengembangan ekonomi pesantren sedang diujicobakan oleh BI bersama stakeholder terkait. Program pemberdayaan pesantren merupakan suatu perwujudan strategi pemberdayaan ekonomi komunitas, antara Iain pesantren dan UMKM. Berbagai program yang telah disusun berisi berbagai kegiatan peningkatan kapasitas, penyusunan standar akuntansi pesantren, pilot project implementasi bisnis dan replikasi usaha, penyusunan virtual market serta pendirian holding pesantren,” imbuh dia.

Menurutnya, peta pengembangan kemandirian ekonomi pesantren ke depan dapat dilihat dari berbagai sektor usaha yang selama ini sudah berjalan di masing-masing pesantren. Sebagai gambaran, sebaran usaha yang saat ini berjalan dipesantren adalah pertanian (21%), usaha pengolahan air minum (18%), usaha campuran (16%), daur ulang sampah dan usaha jasa (masing-masing 10%). Selain itu, masih banyak sektor usaha Iain seperti mini market, perikanan, pengolahan kelapa, dsb.

Sementara itu, Bank Indonesia Solo juga memiliki beberapa pesantren binaan yang sedang mengembangkan usaha ekonomi pesantren, antara Iain Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Sukoharjo yang sedang merintis usaha daur ulang sampah dan air minum dalam kemasan.

Pas Ditonton di Waktu Luang, Ini 4 Film Horor Komedi Thailand

Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Ibnu Abbas Klaten dan PPTQ Daarul Fath Boyolali dengan usaha air minum dalam kemasan, Pondok Pesantren AI Islam Darul Falah Sragen yang mengembangkan usaha konveksi, dan Pondok Pesantren Baitul Qur’an Sragen budidaya IeIe dengan sistem bioflok. Selain itu, beberapa pesantren yang sering dilibatkan Bank Indonesia Solo dalam kegiatan peningkatan kapasitas ekonomi seperti Pesantren AI Qohar Tulung, Pesantren Baitul Qur’an Sragen, Pesantren An Najah Nur Ummah Gondang Sragen.

Peningkatan Marketplace

Community Development Manager Bukalapak, Jodi Salahudin Akbar, memaparkan marketplace justru naik di masa pandemi ini. Hal ini dipengaruhi shifting behaviour masyarakat, yakni misalnya mereka belanja offline menjadi online. “Perubahan perilaku belanja online ini sekitar 25% dengan peningkatan belanja bahan makanan naik 100% disusul dengan hal yang berhubungan dengan perlindungan Covid-19,” papar dia.

Sedangkan dampaknya terhadap marketplace adanya peningkatan kebutuhan dasar harian dan produk kesehatan. Dengan demikian, marketplace pun fokus pada bahan makanan dan hal kesehatan. Pihaknya pun bekerja sama dengan Sayurbox dan Tanihub untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Tinggalkan Surat untuk Pacar, Siswa SMA di Toraja Gantung Diri

Di sisi lain, keunggulan jualan online bisa kapan pun, dimana pun, praktis, sarana banyak, banyak promo, dan sebagainya. Sarananya ada situs, media sosial, dan lain-lain. Menurutnya, berjualan di marketplace dinilai lebih menguntungkan, antara lain dianggap lebih aman untuk bertransaksi dan gampang. Namun demikian, seller harus punya diferensiasi produk dan target pasar yang jelas.

Kabid Urusan Agama Islam dan Koordinator Satgas Halal Jateng, Muh Arifin, menambahkan cukup mudah bagi para pelaku usaha untuk mendapatkan sertifikasi halal produknya. “Pendaftaran bisa melalui online lewat email satgashalaljateng@kemenag.co.id. Mudah sekali caranya, tinggal memenuhi sejumlah syarat yang ada. Adapun proses pendaftaran sampai audit dan pengeluaran sertifikat halal mudah,” kata dia.

District Manager Layanan Syariah Link Aja, Mufti Anas, menambahkan Link Aja merupakan uang elektronik nasional yang menyatukan produk Fintech BUMN dan dimiliki perusahaan BUMN. Tujuannya mendorong inklusi keuangan dan inklusi ekonomi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional Indonesia.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos

Share
Dipublikasikan oleh
Rahmat Wibisono