Yohanes Bara/Istimewa

Solopos.com, SOLO -- Perubahan teknologi membuat segala hal menjadi lebih praktis, cepat, dan murah. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, hanya dengan smartphone yang terhubung dengan Internet, kita bisa melakukan hampir segala hal.

Kita bisa berbelanja apa saja dari negara mana saja, pesan makanan, membeli obat, pesan kendaraan, membeli segala macam tiket hiburan, dan segala macam tiket moda transportasi. Semuanya dapat dilakukan sambil tiduran, memasak, dan lain sebagainya.

Anda yang berlangganan bimbingan belajar online Ruang Guru bisa belajar macam-macam pelajaran sambil mandi. Segala perubahan ini kita sebut dengan revolusi industri keempat. Istilah revolusi industri 4.0 ini sebenarnya kali pertama dikenalkan dalam Hannover Fair 2011 di Jerman.

Istilah ini sebagai penamaan untuk menjelaskan otomatisasi perusahaan manufaktur dengan memanfaatkan sistem virtual dan mesin-mesin yang dapat bekerja secara otomatis dan fleksibel sesuai program. Dalam perkembangannya, teknologi komputasi ini semakin inovatif menghubungkan satu sistem dengan lainnya menghasilkan layanan jasa dan produk yang sangat efisien.

Dalam hal ini kita bisa mengamati Gojek sebagai perusahaan teknologi yang menghubungkan banyak layanan jasa dan barang dalam genggaman. Sebab itulah, Ketua Eksekutif World Economic Forum, Klaus Schwab, dalam buku berjudul The Fourth Industrial Revolution (2016), mengatakan perubahan teknologi tak sekadar mengubah “apa” dan ”bagaimana” dalam melakukan sesuatu, tetapi juga mengabah ”siapa” diri kita.

Pada 10 tahun lalu kita mesti mengantre panjang, bahkan menjelang hari raya calon pemudik perlu menginap di stasiun, untuk mendapatkan tiket kereta api. Hari ini, dengan Traveloka, Tiket.com, dan Tokopedia, membeli tiket bisa di mana saja dalam dua jam sepekan sehingga waktu kita menjadi lebih longgar dan bisa mengerjakan hal lain.

Gerbong Serbadalam Jaringan

Apakah semua orang dapat masuk dalam ”gerbong” menuju serbadalam jaringan (daring) ini? Tentu saja tidak. Seperti yang diberitakan Harian Solopos pada 23 Agustus, per 1 September 2019, reservasi tiket Kereta Api Prameks hanya dilayani melalui KAI Access.

KAI Acces merupakan aplikasi buatan PT Kereta Api Indonesia yang digunakan untuk reservasi tiket seluruh jenis perjalanan kereta api, termasuk Kereta Api Prameks yang melayani rute Solo-Jogja dan sebaliknya.

Menurut Manajer Humas PT KAI Daops VI Yogyakarta, Eko Budiyanto, transaksi KA lokal melalui loket stasiun masih dilayani secara go show, yakni tiga jam sebelum jadwal keberangkatan, itu pun kalau masih kebagian tempat duduk.

Perusahaan transporatasi berstatus badan usaha milik negara (BUMN) ini menggandeng produk BUMN lain dalam kebijakan reservasi daring ini, yaitu produk uang elektronik LinkAja milik Himpunan Bank Milik Negara yang beranggotakan Bank Rakyat Indonesia,  Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia, dan Bank Tabungan Negara.

Untuk dapat membeli tiket Prameks dari Solo menuju Jogja atau sebaliknya, kita mesti memiliki smartphone dengan layanan AppStore atau Google Play, lalu mengunduh KAI Access, mengunduh LinkAja dan mengisi saldo di minimarket atau ATM, kemudian baru kita dapat melakukan reservasi tiket.

Langkah yang tidak mudah bagi siapa saja yang tidak terbiasa menggunakan layanan teknologi finansial semacam ini. Mau tidak mau, siapa saja dipaksa masuk “gerbong” menuju transaksi modern ini. Nyatanya, transaksi dengan uang elektronik seperti ini semakin meningkat di Indonesia.

Menurut data yang dirilis Bank Indonesia (BI), nilai transaksi uang elektronik selama Juli 2019 lalu totalnya mencapai Rp 12,93 triliun atau melonjak 262,67% dibanding bulan yang sama pada 2018 yang hanya Rp 3,58 triliun.

Masih berdasar data BI, pasar uang elektronik di Indonesia dikuasai oleh OVO (37%), GoPay (17%), Bank Mandiri (13%), DANA 10%, dan sisanya 3%-6% dikuasi oleh Shoope Pay, BRI, BCA, dan LinkAja.

Bencana Alam

Upaya ekspansi masing-masing brand juga berbeda. OVO tumbuh melalui kerja sama dengan Grab, decacorn pertama di Asia Tenggara, dan mal-mal di bawah naungan Lippo. GoPay lebih menyasar mengembangan jumlah merchant. LinkAja lebih pada menjalin kerja sama lintas BUMN.

Persaingan uang elektronik karya anak bangsa semakin ketat dengan datangnya pesaing  dari perusahaan-perusahaan besar asal Tiongkok, yaitu WeChat Pay dan Alipay. Menurut Tabloid Kontan edisi 29 Juli-4 Agustus 2019, kedua uang elektronik ini berani mengembangkan bisnis, khususnya di Jakarta dan Bali, karena semakin meningkatnya kunjungan turis dari negeri Tirai Bambu itu.

Meski saat ini uang elektronik asal Tiongkok memiliki sasaran pasar yang berbeda, Tabloid Kontan memberitakan bahwa ada kemungkinan WeChat Pay dan Alipay juga menyasar usaha-usaha golongan mikro, kecil, dan menengah atau UMKM yang selama ini menjadi pasar uang elektronik lokal.

Jika semua transaksi mengarah serba-elektronik, ini akan merepotkan bagi yang tidak menggunakan secara harian. Ada nilai minimal untuk melakukan top up, sehingga ada saldo mengendap di dompet elektronik. Demikian juga bagi masyarakat yang tak memungkinkan bertansaksi dengan sistem elektronik ini, entah karena alasan usia atau masyarakat perdesaan yang tak terbiasa.

Meskipun menjanjikan kemudahan, kepraktisan, dan banyak tawaran cash back, transaksi elektronik tak nihil risiko, terbukti ketika blackout di Jakarta pada Agustus lalu, seluruh transaksi uang elektronik mengalami gangguan. Satu-satunya alat transaksi yang dapat digunakan hanyalah uang tunai.

Jika hanya mengandalkan transaksi dengan uang elektronik, penggunaannya juga akan rentan saat terjadi bencana alam atau peperangan yang menyebabkan gangguan pada sistem. Ungkapan Klaus Schwab tentang teknologi mengubah ”siapa” kita ada benarnya juga, teknologi mengubah cara kita berpikir, bekerja, dan berhubungan satu sama lain.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten