DOLLY DITUTUP : Pemkot Surabaya Gelontorkan Rp2 Miliar untuk Dolly
Sejumlah warga menandatangani surat kesepakatan bersama saat deklarasi warga Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan untuk alih fungsi wisma dan alih profesi bagi wanita harapan (Dolly) di Islamic Center Surabaya, Jatim, Rabu (18/6/2014). Kemensos mengucurkan dana sebesar Rp 7,3 miliar untuk pemberdayaan di Lokalisasi Dolly Surabaya dengan menyiapkan Usaha Ekonomi Produktif (UEP), Jaminan Hidup (Jadup) rehabilitasi sosial bagi Wanita Tuna Sosial (WTS), serta dana transportasi bagi 1.449 wanita mantan penghuni Dolly untuk pulang ke daerah asal. (JIBI/Solopos/Antara/Eric Ireng)

Dolly ditutup, Pemkot Surabaya pun siap membeli lahan eks lokalisasi yang pernah tercatat sebagai terbesar di Asia Tenggara itu.

Solopos.com, SURABAYA – Pemerintah Kota Surabaya tahun ini siap menggelontorkan anggaran Rp2 miliar untuk membebaskan lahan di kawasan bekas lokalisasi Dolly dan beberapa lokalisasi lain di Kota Pahlawan itu.

Dana Rp2 miliar itu diharapkan mampu memicu pengembangan sentra-sentra ekonomi kawasan tersebut. Di Kawasan bekas lokalisasi Dolly, Pemkot Surabaya bahkan menyiapkan tempat yang akan digunakan sebagai sentra kerajinan akik yang tengah digemari masyarakat saat ini.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan pihaknya bahkan sudah mengirim warga asal bekas lokalisasi tersebut untuk belajar membuat kerajinan batu akik di Pacitan hingga Kalimantan. “Saya kirim warga di sana [eks lokalisasi] untuk pergi ke Pacitan supaya belajar membuat, dan nanti bisa dikembangkan di Kota Surabaya dan biar ekonomi warga bisa hidup,” katanya di Surabaya, Minggu (21/6/2015).

Kepala Dinas Pengelolaan Tanah dan Bangunan (DPTB) Kota Surabaya Maria Theresia Rahayu menjelaskan nantinya pembebasan lahan yang akan dilakukan tidak hanya di kawasan Dolly tetapi juga di kawasan Sememi, Dupak Bangunsari, Klakah Rejo, dan Tambak Asri.

“Setelah ditutup pada tahun lalu sudah ada lima rumah yang dibebaskan pemkot, nanti rencananya tahun ini ada 10 bangunan yang sudah ditawarkan oleh warga, tetapi harganya mengacu pada Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP),” jelasnya.

Maria menambahkan, di kawasan Sememi, pemkot juga telah membeli dua bangunan, satu di antaranya dibangun menjadi sarana olah raga. Meski begitu, di kawasan Sememi dan Dupak Bangunsari dan Klakah Rejo hingga kini belum ada warga yang menawarkan bangunannya.

“Kami memang tidak proaktif menawarkan langsung kepada warga, biar warga yang aktif menawarkan bangunannya kepada pemkot,” imbuhnya.

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya








Kolom