DKK Sragen Ingatkan Vaksinasi Tak Cegah Penularan
Seorang legislator sudah masuk lanjut usia, Suparni, 69, tetap mengikuti vaksinasi oleh petugas Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, Senin (22/2/2021). (Solopos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN — Vaksinasi bukan untuk mencegah penularan Covid-19 tetapi membentuk sel memori agar apabila seseorang mengalami infeksi tidak menimbulkan gejala berat. DKK Sragen mengingatkan vaksinasi bukan untuk mencegah penularan.

Pencegahan penularan Covid-19 itu hanya bisa dilakukan dengan perilaku disiplin dalam menaati protokol kesehatan atau prokes. Penjelasan itu diungkapkan Kasi Pelayanan Kesehatan Primer Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten atau DKK Sragen, dr. Nengah Adnyana Oka Manuaba, saat dihubungi Solopos.com, Minggu (28/2/2021).

Oka sebagai representasi DKK Sragen menjelaskan vaksinasi itu adalah upaya membentuk sel memori agar saat ada bibit penyakit (virus) masuk ke dalam tubuh. Karena itulah reaksi antibodi tubuh tidak akan berlebihan dalam menghasilkan mediator sitokin.

Baca Juga: Peluang Bisnis Kuliner Ayam, Bebek, Angsa

Dia menjelaskan sitokin ini bisa menghasilkan efek merusak jaringan karena membuat darah mengental dan mukosa menghasilkan lendir yang bisa menyumbat saluran pernafasan. Sitokin itu adalah protein yang dihasilkan sistem kekebalan tubuh untuk melakukan berbagai fungsi penting dalam penanda sinyal sel.

Mukosa merupakan lapisan jaringan yang membatasi rongga saluran cerna dan saluran napas atau selaput lendir. “Proses pembentukan sel memori menurut hasil uji klinis vaksin Sinovac memang membutuhkan dua kali penyuntikan dengan rentang 14-28 hari. Pembentukan sel memori terjadi optimal sehingga vaksin perlu diberikan dua kali. Sebelum pembentukan sel memori optimal sebaiknya setiap orang tetap menerapkan protokol kesehatan,” jelas Oka.

Bukan Cegah Penularan

Pejabat DKK Sragen itu melanjutkan vaksinasi itu bukan untuk mencegah penularan dan tidak ada hubungannya antara vaksinasi dengan kemunkinan terkena infeksi. Dia menjelaskan yang menentukan seseorang terinfeksi Covid-19 itu terletak pada perilaku disiplin yang bersangkutan dalam mentaati protokol kesehatan.

Dia mengatakan namun ada perbedaan antara orang yang belum divaksin dengan orang yang sudah divaksin. “Orang yang belum divaksin karena pernah memiliki sel memori jika terkena infeksi Covid-19 maka akan muncul gejala lebih berat dari akibat sitokinnya ngamuk,” ujarnya.

Baca Juga: 4 Zodiak Ini Kata Astrologi Sulit Percayai Orang Lain

Sebaliknya orang yang sudah divaksin maka gejala akibat sitokin itu tidak seberat orang yang belum divaksin. Dia menerangkan orang yang sudah divaksin kalau terinfeksi tidak menimbulkan gejala berat. Kalau untuk mencegah penularan itu, ujar dia, lewat taat protokol kesehatan. “Makanya waktu vaksinasi seseorang itu dipesan. Sesudah vaksinasi tetap jaga protokol kesehatan sampai tiga bulan setelah vaksin kedua sehingga kadar sel memori optimal,” katanya.

Sementara para pedagang di Pasar Bunder Sragen masih menunggu jadwal vaksinasi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Sragen. Seorang pedagang asal Karangmalang, Ny. Sarjito, 41, mengaku sudah didaftar petugas Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sragen untuk ikut vaksinasi. Ny. Sarjito sebenarnya takut dengan jarum suntik tetapi agar sehat ia tetap memberanikan diri untuk siap divaksin.

“Kami, suami istri, sudah didaftar ikut vaksin tetapi sampai sekarang belum diberitahu jadwal vaksinasinya. Saat daftar itu ditanya nomor induk kependudukannya di KTP. Ada yang takut juga karena mungkin sosialisasinya kurang. Apalagi ada berita negatif yang membuat orang tambah takut,” katanya saat berbincang dengan Solopos.com, Minggu.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos



Berita Terkini Lainnya








Kolom