Novak Djokovic (Reuters-Benoit Tessier)

Solopos.com, PARIS — French Open mungkin menjadi salah satu ajang yang tak berjodoh dengan Novak Djokovic. Maklum, dari 15 gelar grand slam yang diraihnya, hanya satu yang berasal dari turnamen yang digelar di Roland Garros, Paris, tersebut. Trofi itu didapat tiga tahun silam saat petenis Serbia itu mengalahkan Andy Murray di babak final.

Namun performa Djokovic di sepekan awal French Open 2019 seakan memberi sinyal gelar kedua itu bakal segera tiba. Sang petenis menjejakkan kaki di babak keempat turnamen tanpa kehilangan satu set pun. Dia juga tak kehilangan lebih dari empat game dalam set manapun dalam perjalanannya menuju babak 16 besar.

Kemenangan atas Salvatore Caruso dengan skor 6-3, 6-3, 6-2 di babak ketiga French Open, Minggu (2/6/2019) dini hari WIB, menjadi kemenangan ke-24 beruntun Djokovic di ajang grand slam. Di babak keempat, Senin (3/6), petenis berjuluk Djoker itu sudah ditunggu petenis kejutan asal Jerman, Jan Lennard Struff.

Ini kali pertama Struff lolos ke babak 16 besar grand slam sepanjang kariernya. Torehan itu diraihnya dengan susah payah setelah membekuk unggulan ke-13, Borna Coric, 4-6, 6-1, 4-6, 7-6, 11-9. Hasil ini cukup masif mengingat Struff baru mengklaim dua kemenangan dari enam lawatan sebelumnya ke Roland Garros.

Di atas kertas, Djokovic mestinya bisa dengan mudah membekuk Struff yang notabene peringkat 45 dunia. Djokovic dapat memanfaatkan keletihan Struff yang harus bermain selama empat jam 22 menit saat membekuk Coric. Namun Djokovic pilih waspada karena menilai sang lawan berpotensi mengukir kejutan selanjutnya.

“Laga akan lebih menantang karena lawanmu memiliki kualitas lebih baik. Ini akan jadi pertandingan yang lebih ketat,” kata dia dilansir ATP World Tour.

Djokovic hanya perlu memenangi French Open 2019 untuk meraih empat gelar grand slam secara beruntun untuk kali kedua sepanjang kariernya. Sepanjang sejarah, hanya ada dua petenis yang mampu memenangi Australian Open, French Open, Wimbledon dan US Open secara berurutan dalam dua kesempatan yakni Rod Laver (1962 dan 1969) serta Don Budge (1937-1938). 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten