Djaduk Ferianto menunjukkan album rohani keduanya di Kembang Seruni Resto, Senin (8/12/2014). (JIBI/Harian Jogja/Arief Junianto)

Solopos.com, BANTUL -- Seniman Djaduk Ferianto meninggal dunia Rabu (13/11/2019) dini hari, diduga akibat mengalami serangan jantung. Hal itu diungkapkan kakak kandung Djaduk, Butet Kartaredjasa.

"Akhirnya Djaduk meninggal dunia di pangkuan istri," kata Butet Kertaredjasa di rumah duka di Kembaran, Tamantirto, Kasihan, Bantul, DIY, Rabu, yang dilansir Harianjogja.com.

Djaduk Ferianto meninggal di rumahnya Rabu dini hari sekitar pukul 02.30 WIB.

Menurut Butet, keluarga sudah mendatangkan petugas medis dari Rumah Sakit Jogja International Hospital dan ketika sampai rumah, sang petugas medis memastikan Djaduk sudah dalam kondisi meninggal dunia.

Lebih lanjut, Butet mengaku tidak mengetahui penyebab sakit jantung yang dialami adik kandungnya tersebut. Namun akhir-akhir ini, ungkap dia, Djaduk memang tengah sibuk menyiapkan berbagai proyek pementasan, salah satunya Ngayogjazz yang akan digelar pada 16 November mendatang.

Even tahunan tersebut akan digelar di Kwagon, Godean, Sleman, dan rencananya dibuka oleh Menkopolhukam Mahfud MD.

"Para pendiri Ngayogjazz sudah diperintahkan Djaduk untuk naik ke panggung menemani Pak Mahfud," kata Butet Kertaredjasa.

Di mata Butet, Djaduk Ferianto merupakan sosok pekerja keras yang tidak kenal lelah, selalu ingin tuntas dalam pekerjaannya.

"Sehingga persiapan yang dilakukan selalu menyedot energi, menyedot konsentrasi yang melebihi dosisnya dan itulah Djaduk," kata Butet.

Selain mempersiapkan Ngayogjazz, Djaduk juga menyutradarai teater yang akan digelar di Surabaya, Jawa Timur dengan tema Pensiunan 1949. Pada 14 November rencananya latihan untuk pementasan di Surabaya bersama Teater Gandrik.

Butet belum mengetahui apakah pentas di Surabaya akan berlanjut atau dibatalkan. Yang pasti, Teater Gandrik merasa kehilangan.

"Saya tak bisa membayangkan perasaan ati [hati] Teater Gandrik yang harus tampil penuh kejenakaan tapi situasi ati [hati] seperti yang saat ini saya rasakan butuh perjuanan untuk menata ati [hati]," ungkap Butet.

Namun khusus untuk Ngayogjazz, Butet berharap tetap berlanjut sebagai monumen terakhir bagi Djaduk.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten