Tutup Iklan
Diyakini Lebih Tua Ketimbang Candi Prambanan, Candi Gumuk di Tibayan Klaten Tak Terawat
Seorang warga berada di bekas Candi Gumuk, Desa Tibayan, Kecamatan Jatinom, Klaten, Jumat (26/6/2020). Warga meyakini candi tersebut lebih tua dibandingkan Candi Prambanan. (Solopos/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN – Candi Gumuk yang berada di Dukuh Montelan, Desa Tibayan, Kecamatan Jatinom, Klaten kini dalam kondisi rusak. Candi yang berada di lahan tak bertuan di Tibayan itu diyakini warga setempat jauh lebih tua dibandingkan Candi Prambanan.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, Candi Gumuk berada di Dukuh Montelan, Desa Tibayan, Kecamatan Jatinom. Candi yang sudah rusak ini berada di atas Jurang Jondil. Lokasi candi berjarak kurang lebih 500 meter dari RT 004 di Dukuh Montelan.

Kawasan menuju Candi Gumuk berupa perbukitan. Selama ratusan tahun terakhir, candi tersebut tak terurus. Di lokasi tersebut masih ditemukan bebatuan berusia tua. Seiring berjalannya waktu, Candi Gumuk mulai rusak. Beberapa kompenen candi mulai hilang. Di antara komponen candi juga terpendam tanah karena longsor dan bencana alam lainnya.

Warga setempat beberapa kali menemukan batu mirip candi. Saat ini, bebatuan itu ditumpuk di dekat pos ronda di Dukuh Montelan.

Grobogan Tambah 3 Pasien Positif Covid-19, Ini Sebarannya

Di era 1980-an itu, warga juga pernah menemukan patung Gadjah Mada saat menggali tanah di belakang masjid di dukuh setempat. Oleh warga, patung tersebut ditaruh di tikungan dukuh setempat. Setelah itu, patung tersebut hilang. Hingga sekarang, warga tak mengetahui pasti ke mana hilangnya patung tersebut.

“Di era itu [hingga 1980-an] masih banyak orang yang ke sini juga mencari harta karun. Orang mengira masih ada emas dan pusaka. Infonya, dulu juga ada patung sapi di sana [sudah hilang]. Kalau saat sekarang, sudah jarang yang pergi ke Candi Gumuk. Kondisinya sudah tak terawat. Konom katanya, candi di sini candi Hindu yang umurnya lebih tua dibandingkan Candi Prambanan,” kata Ketua RT 004 di RW 002, Montelan, Tibayan, Jatinom, Sutoyo, 41, saat ditemui wartaaan di rumahnya, Jumat (26/6/2020).

Bisa Jadi Wisata

Sutoyo berharap pemerintah segera turun tangan memugar alias memperbaiki candi tersebut. Dengan dipugarnya candi, diharapkan dapat menjadi objek wisata baru yang memberikan dampak positif ke warga di sekitar Candi Gumuk.

“Saya sudah pernah mengusulkan perbaikan candi saat Musrenbangdes akhir 2018. Tapi belum ditanggapi, apalagi saat ini ada Covid-19. Sekitar 1,5 tahun-2 tahun lalu, sebenarnya candi itu pernah didatangi orang arkeologi. Tapi, tindaklanjutnya juga belum ada. Kami berharap, potensi candi ini dapat dioptimalkan. Selain sebagai objek wisata, kami pun juga bisa mengetahui sejarah candi yang sebenarnya,” katanya.

Ini Alasan Tugu Perguruan Silat di Sragen Bakal Dibongkar

Hal senada dijelaskan warga yang sudah berusia tua di Dukuh Montelan, yakni Ranto, 80. Candi Gumuk diyakini sebagai candi Hindu. “Saat saya masih kecil, bangunannya masih terlihat seperti candi. Saat sekarang sudah rusak. Rusaknya mungkin karena longsor dan bencana alam lainnya. Di sekitar candi itu ada lahan milik warga. Dahulu, orang tidak berani mengolah lahan pertanian dengan hewan sapi [harus dengan cangkul]. Jika ngluku dengan sapi, biasanya sapinya itu mati saat tiba di rumah,” katanya.

Salah seorang warga lainnya yang tinggal tak jauh dari Candi Gumuk, yakni Sriyono, 37, mengatakan kondisi candi dari tahun ke tahun terus mengalami kerusakan. “Kondisinya memang sudah rusak. Dari cerita turun-temurun, di aliran sungai di Jurang Jondil ada kisah tentang sapi yang berubah jadi batu. Sampai sekarang, di lokasi itu masih ada bebatuan yang mirip dengan kepala sapi,” katanya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Pasang Baliho