Diusulkan, PB VI & PB X untuk nama jalan
KUNJUNGAN--Paku Buwono X (kelima dari kiri) dalam satu kunjungan ke daerah. (repro)
KUNJUNGAN--Paku Buwono X (kelima dari kiri) dalam satu kunjungan ke daerah. (repro)

Kiprah Paku Buwono X dalam pergerakan kemerdekaan republik ini akhirnya mendapat pengakuan. Raja Keraton Kasunanan Surakarta itu akhirnya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Bagaimana tanggapan masyarakat Solo, berikut laporan wartawan SOLOPOS, Kurniawan.

Pengakuan negara dan bangsa ini mendapat dukungan sebagian besar Wong Solo. Tidak ada alasan kuat untuk mengganjal atau menolak penetapan Sampeyan nDalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono (SISKS PB) X sebagai Pahlawan Nasional.

Namun tidak cukup sampai di situ saja. Masyarakat membutuhkan jaminan keberlangsungan pengakuan jasa sang pahlawan.

Salah satu opsi yang mencuat yakni penggunaan nama PB X untuk nama jalan. Solo sebagai kota pusat pemerintahan Keraton Kasunanan Surakarta harus merintis opsi tersebut. Ke depan, diharapkan kabupaten/kota lain juga menerapkan pendekatan yang sama.

Seperti disampaikan Irawan Sulistyo, sesepuh Omah Budaya Solo saat dihubungi Espos, Selasa (8/11/2011) malam. ”Saya mendukung penetapan PB X sebagai Pahlawan Nasional. Saya juga mendukung penamaan jalan menggunakan nama Almarhum PB X,” katanya.

Penggunaan nama PB X untuk nama jalan bisa pada jalan kelas nasional, provinsi atau pun kota. Penamaan jalan dengan nama PB X diharapkan menjadi langkah taktis pendidikan kebangsaan bagi generasi penerus.

Antusiasme terhadap penetapan PB X sebagai Pahlawan Nasional juga datang dari budayawan Kota Bengawan, Jlitheng Suparman. Menurutnya PB X layak mendapat gelar itu atas kontribusinya dalam pergerakan menuju kemerdekaan republik ini.

Penetapan tersebut membawa kebanggaan tersendiri bagi Wong Solo. Selain itu menjadi inspirasi dan spirit untuk mengembang nilai kejuangan demi bangsa dan Negara.

Begitu juga sejarawan Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) Universitas Sebelas Maret (UNS), Tundjung W Sutirto.

Menurutnya pahlawan tidak harus berperang dengan mengangkat senjata. Dengan ditetapkannya PB X atau yang bernama asli Malikul Kusna sebagai Pahlawan Nasional, berarti Keraton Kasunanan Surakarta menjadi satu-satunya keraton di Tanah Air yang mempunyai dua Pahlawan Nasional.

Sebelumnya sang kakek, yakni PB VI atau yang bernama RM Sapardan lebih dulu ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Selanjutnya menjadi tanggung jawab bersama, utamanya pemerintah, untuk menyosialisasikan peran dua Pahlawan Nasional dari Keraton Kasunanan Surakarta tersebut kepada generasi penerus.

Salah satu caranya dengan penamaan jalan menggunakan dua nama pahlawan itu. Kendati sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, namun sosialisasinya kepada bangsa masih kurang.

”Penamaan jalan bagus sebagai pengingat. Untuk menuju ke sana perlu diskusi seluruh elemen masyarakat dan disengkuyung pemerintah,” tandasnya.

Selain untuk penamaan jalan, Tunjung menilai perlunya kegiatan seperti napak tilas dan memasukkan kisah perjuangan dua pahlawan itu dalam pendidikan nasional. Perlunya penjabaran bahwa kepahlawan bukan semata tentang angkat senjata.

Sedangkan Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Solo, Nur Basuki menjelaskan kewenangan penamaan jalan menggunakan nama pahlawan nasional ada pada kepala daerah atau kementerian, sesuai kelas jalan.

”Untuk jalan kota, diusulkan lewat DPU, dibahas di tingkat legislator, hingga lahir Perda dan Perwali. Saat ini belum ada usulan masuk,” ujarnya.

Menurut Nur, tidak efisien bila melalui proses panjang tersebut untuk satu nama jalan atau satu nama Pahlawan Nasional. Untuk menyikapi hal itu, usulan penamaan jalan PB X bisa ditampung terlebih dulu.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom