Profesor Fathur Rokhman kembali terpilih sebagai Rektor Unnes periode 2018-2022. (Facebook)

Semarangpos.com, SEMARANG — Universitas Negeri Semarang (Unnes) baru saja menggelar Pemilihan Rektor (Pilrek) Periode 2018-2022, Rabu (24/10/2018). Dalam pemilihan itu, calon petahana, Profesor Fathur Rokhman, kembali terpilih sebagai rektor.

Fathur dinyatakan memenangi kontestasi Pilrek Unnes setelah meraup 89 suara dari 95 suara yang diperebutkan. Ia menang mutlak dari dua kandidat lain, yakni Dr. Achmad Rifai, dan Dr. Martitah, yang masing-masing hanya mendapat tiga suara.

Terpilihnya Fathur sempat diwarnai berbagai polemik. Salah satunya, dugaan plagiarisme yang mengarah kepada guru besar Sosiolinguistik itu.

Fathur dituduh menjiplak karya skripsi mahasiswa Unnes, Ristin Setyani, pada 2001 berjudul Pilihan Ragam Bahasa Dalam Wacana Laras Agama Islam di Pondok Pesantren Islam Salafi Al Falah Mangunsari Banyumas.

Baik tim Evaluasi Kinerja Akademik (EKA) maupun Independen Kemenristekdikti telah menyatakan Fathur melakukan plagiat. Kendati demikian, Menristekdikti, M. Nasir, menyatakan Fathur tidak melakukan plagiat. Selain itu, Nasir juga menilai kasus Fathur tak bisa diproses secara hukum karena terjadi sebelum terbitnya Permendiknas No.17/2010 tentang Pencegahan dan Penanggulang Plagiat di Perguruan Tinggi.

Kepala UPT Humas Unnes, Hendi Pratama, menyatakan isu yang mendera Prof. Fathur Rokhman hanyalah sedikit gangguan yang terjadi saat masa pilrek. Namun, ia menilai gangguan itu justru terjadi dari luar kampus atau pihak eksternal.

“Beda dengan kampus lain yang persaingan terjadi di lingkungan internal, kami menengarai gangguan ini muncul dari pihak luar. Ada pihak-pihak di luar Unnes yang ingin ikut kontestasi tapi tidak bisa. Mereka akhirnya menyerang kandidat terkuat, yakni Prof. Fathur dengan isu plagiat,” ujar Hendi saat dijumpai Semarangpos.com seusai pemilihan di kampus Unnes, Gunungpati, Semarang.

Hendi menilai kasus plagiat rektor Unnes sudah selesai. Tim Investigasi Unnes yang dipimpin Ketua Senat Unnes, Prof. Soesanto, juga telah melakukan penyelidikan dan tidak menemukan bukti adanya plagiat yang dilakukan Fathur.

 “Saya rasa kasus ini sudah selesai. Selama ini pihak yang diduga karyanya diplagiat juga tidak pernah melaporkan ke pihak yang berwajib. Mereka juga tidak merasa karyanya dijiplak,” tutur Hendi.

Hendi berharap setelah ini, nama baik Unnes bisa pulih. Ia menilai semenjak kasus plagiarisme rektor muncul, prestasi yang ditorehkan civitas academica Unnes seakan diabaikan.

“Prestasi mahasiswa Unnes nomor tujuh di Indonesia. Artikel terindeks Scopus kami jumlahnya tahun ini mencapai 60 dan juga hampir 50% prodi di Unnes sudah terakreditasi A. Jadi, kami harap mari kenal lagi Unnes tentang prestasinya dan bukan polemik,” tegas Hendi.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten