Bakal cawali Solo dari PDIP, Gibran Rakabuming Raka berbincang dengan peserta diskusi Kampung Sebagai Jantung Kota di Rumah Banjarsari, Solo, Selasa (14/1/2020) malam. (Solopos-Kurniawan)

Solopos.com, SOLO -- Bakal calon wali kota (cawali) Solo dari PDIP, Gibran Rakabuming Raka, mengikuti diskusi dengan tema Kampung Sebagai Jantung Kota di Rumah Banjarsari, Solo, Selasa (14/1/2020) malam.

Dalam kegiatan itu putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut mendapat banyak pelajaran tentang arti kenyamanan hati dan kebahagiaan warga.

Albertus Rusputranto, pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, menanyakan pandangan dan sikap Gibran tentang kecenderungan pembangunan yang selalu berorientasi kepada produksi dan konsumsi. Segala sesuatu diorientasikan kepada hitung-hitungan angka.

Dia menyebut ada nilai-nilai kesejarahan, sosial, kenyamanan dan kebahagiaan masyarakat kampung di perkotaan yang terus menerus digerus. Masyarakat tak lagi punya ruang dan waktu ideal untuk sekedar menikmati hidup di rumah (kampung) mereka sendiri.

“Bagaimana Anda melihat fenomena ini bila kelak menjadi pemimpin Solo,” tanya Titus dengan serius.

Pertanyaan itu justru berbalas pertanyaan balik dari Gibran kepada Titus. Pengusaha Martabak Kota Barat (Markobar) itu menanyakan indikator sebuah kebahagiaan bagi masyarakat.

“Menurut jenengan apakah kebahagiaan itu berbanding lurus dengan kesejahteraan? Apa yang menjadi ukuran sebuah kebahagiaan itu bagi masyarakat?” tanya dia.

Alhasil Titus pun mesti mendeskripsikan kembali poin pertanyaannya kepada Gibran dengan mencoba menyuguhkan contoh-contoh kasus di lapangan. Bahkan seorang peserta lainnya, Halim, ikut menjelaskan esensi pokok persoalan sosial yang dimaksud Titus. Selain pendapatan yang cukup, warga butuh kenyamanan di lingkungan sosial mereka.

Setelah mendapatkan penjelasan itu Gibran pun mengapresiasi pertanyaan dan masukan yang disampaikan Titus. Dia mencatat masukan yang diberikan dan akan mengkajinya untuk dimasukkan dalam visi, misi dan program kerjanya.

“Saya akui ini diskusi tertajam dan terkritis yang saya datangi,” ujar dia disambut tepuk tangan peserta diskusi.

Tak hanya Titus yang membuat Gibran merasa mendapat banyak pelajaran. Seorang aktivis bagi penyandang disabilitas di Solo, Joko, memaparkan kritiknya tentang kurangnya aksesibilitas penyandang disabilitas di dunia kerja dan ruang publik.

Renovasi Citywalk Slamet Riyadi Solo Berlanjut 2020

Joko berharap pemerintah tak hanya bermain di ruang formalitas dalam hal penyediaan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Menanggapi hal itu Gibran mengakui aksesibilitas penyandang disabilitas masih terbatas.

“Terima kasih semua masukannya. Ini penting sekali untuk saya merumuskan program unggulan ke depan,” tutur Gibran.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten