Ilustrasi LGBT (Twitter)

Solopos.com, PADANG -- Pasangan homoseksual di Padang ditangkap Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Padang, Sumatra Barat, Kamis (20/12/2018) dini hari. Keduanya ditemukan di dalam kamar dan ceceran tisu bekas mengandung cairan sperma. Selanjutnya kedua laki-laki gay itu akan dirukiah.

Satpol PP menangkap dua laki-laki berinisial SI, 30 dan SF, 48 yang merupakan pasangan homoseksual,  di sebuah rumah kontrakan di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Olo, Kecamatan Nanggolo, Kota Padang.

"Berawal dari laporan masyarakat bahwa di sebuah rumah kontrakan ada pasangan homoseksual. Dari laporan tersebut kita coba menindaklanjuti. Kemarin mereka bertemu lagi di dalam kamar. Kita temukan tisu bekas cairan sperma," kata Yadrison, Kepala Satpol PP Kota Padang, kepada VOA hari Jumat (21/12/2018).

Menurut keterangan Yadrison, pasangan gay itu sudah menjalin hubungan selama setahun. Setelah menangkap SI dan SF, Satpol PP Kota Padang kemudian menyerahkan keduanya ke Dinas Sosial untuk nantinya dirukiah, agar berubah dan tidak melakukan perbuatan menyimpang dari kepatutan norma, agama dan adat yang berlaku di Kota Padang.

Menurut Yadrison, rukiah merupakan upaya pemerintah Kota Padang untuk menghilangan perbuatan maksiat, terutama perilaku menyimpang seperti LGBT, sesuai deklarasi Anti-Maksiat, Anti-LGBT yang dilakukan Pemkot Padang pada 18 November 2018.

"Waktu diperiksa dia mengaku bersalah. Dia sudah sadar dan mau dirukiah. Kita serahkan ke Dinas Sosial. Tergantung Dinas Sosial kapan akan diruqyah," ungkapnya.

Intimidasi

Sementara itu Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kota Padang, Wendra Rona Putra menanggapi tentang rencana pelaksanaan rukiah terhadap kedua pasangan LGBT tersebut menilai pasangan itu tidak secara bebas memutuskan kerelaannya untuk dirukiah.

"Meski ada rekaman pengakuan. Itu semakin meyakinkan bahwa sebelum pengakuan muncul ada serangkaian proses intimidasi dan tekanan yang dilancarkan kepada dua orang tersebut. Nah, persoalan lain menurut saya menjadi penting untuk dilihat adalah keputusan ketika Satpol PP mengekspos dan mengungkap identitas mereka, sampai juga menyampaikan rencana ada agenda ruqyah terhadap dua orang ini. Saya membayangkan ini adalah eksploitasi, dan ekspos identitas secara besar-besaran," ucap Wendra.

Lanjutnya, apabila proses rukiah untuk pasangan gay tersebut dilakukan maka akan menjadi magnet pemberitaan yang besar sehingga identitas mereka terekspos. Wendra menilai rukiah yang akan dilangsungkan itu lebih seperti kampanye bahwa ada pasangan gay yang ditangkap dan akan diubah perilakunya lewat proses itu, tanpa ada keseriusan memastikan bahwa ini murni demi kemashlahatan kedua laki-laki itu.

"Menurut saya ini bukan solusi yang diharapkan. Saya tidak melihat ini sebagai orientasi yang murni untuk menjadikan solusi. Tapi kalau seandainya penekanan yang dilakukan tanpa harus diawali dengan pemberitaan berlebihan saya pikir itu menjadi salah satu langkah baik," pungkas Wendra.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten