Distribusi Hoaks Patut Dihambat saat Pandemi
Infografis Hoaks (Solopos/Whisnupaksa)

Solopos.com, SOLO — Survei Literasi Digital yang dilakukan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) pada 2020 menunjukkan Facebook menjadi platform paling sering ditemukan hoaks saat pandemi Covid-19, disusul Whatsapp, Youtube, dan portal berita online.

Responden menyebutkan hoaks paling sering ditemui berkaitan dengan isu politik. Facebook mengatasi peredaran hoaks ini dengan memperketat kebijakan komunitasnya. Platform besutan Mark Zuckerberg ini membangun tiga pilar penting untuk mengatasi misinformasi, yakni hapus, kurangi distribusi dan informasikan.

Menurut Manajer Kebijakan Misinformasi Facebook, Alice Budisatrijo, hapus artinya platform akan menghapus setiap konten yang melanggar ketentuan komunitas Facebook. Kriteria penghapusan ini berlaku untuk segala konten negatif dan membahayakan seperti ujaran kebencian, terorisme, pornografi, dan lainnya.

Baca Juga: 4 Zodiak Ini Kata Astrologi Karismatik & Populer

Upaya ini melibatkan kecerdasan buatan dan content reviewers di seluruh dunia. Facebook juga melarang seseorang memiliki lebih dari satu akun. Menekan adanya akun palsu sejalan dengan menekan penyebaran misinformasi dan disinformasi

“Orang yang menyebarkan misinformasi tidak mau memakai nama atau fotonya sendiri,” kata Alice, dalam webinar Jelang Setahun Pandemi: Berhasilkan Media dan Platform Mengatasi Infodemi? yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI), 8 Februari 2021.

Tak hanya itu, Facebook juga menggandeng 10.000-an pemeriksa fakta di 80 negara. Pemeriksa fakta seluruhnya tersertifikasi oleh International Fact-Checking Network (IFCN).

Baca Juga: Terampil Bungkus Kado Bisa Jadi Peluang Bisnis

Cara kerjanya sederhana, Pemeriksa fakta akan menandai setiap konten yang dikategorikan sebagai konten salah. Facebook lalu mengeluarkan pilar berikutnya yakni menginformasikan kepada pengguna bahwa informasi tersebut salah. Pada saat bersamaan, Facebook menyediakan konten yang benar atau debunking atas informasi yang salah itu.

“Kalau mereka mau share konten itu lagi akan ada warning label ‘Konten ini sudah dicek oleh pemeriksa fakta. Apakah masih mau share?’ Ada pilihan ya dan tidak. Tapi biasanya tidak jadi menge-share,” ujar Alice.

Hasilnya, dalam setahun, Facebook menemukan 167 juta konten dengan label false atau salah mengenai Covid-19. Temuan ini juga dibarengi dengan kerja sistem yang bisa mendeteksi konten serupa yang ditemukan pemeriksa fakta bernuansa hoaks saat pandemi Covid-19.

Baca Juga: Peluang Bisnis Tanaman Hias di Mal Terbuka

Berdasarkan data Reuters Institute, jenis infodemi yang beredar terdiri atas 29% misleading content, 24 % false context, dan 6% manipulated content. Selain itu, ada 30% merupakan fabricated content, 8 % imposter content, dan 3% lainnya berupa satire atau parodi.

“Dari penelitian ini juga 20% hoaks disebarkan oleh prominent person yang punya pengaruh. Meski hanya 20%, tapi engagement-nya sangat luas yakni 69%,” kata Sekretaris Jenderal Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wahyu Dhyatmika.

Di Indonesia, kolaborasi media dan masyarakat sipil mendirikan cekfakta.com untuk memerangi penyebaran hoaks saat pandemi Covid-19. Platform ini menghubungkan semua pemeriksa fakta yang tergabung dalam kolaborasi.

Baca Juga: Peluang Bisnis Kuliner Ayam, Bebek, Angsa

Perilaku Berinternet Orang Indonesia

Aktivitas Dalam Berinternet

Berkomunikasi lewat pesan singkat 34,3%
Bermedia sosial 16,2%
Browsing 12,9%
Menonton Youtube 9,4%
Bermain game online 4,8%
Akses layanan pendidikan 3,5%
Mengakses berita online 2,2%
Mengirim email 1,9%
Pertemuan online 1,5%
Menonton streaming berlangganan 1,1%

Dari Mana Sumber Informasi Berasal?

Media Sosial 76%
Televisi 59,5%
Berita online 25,2%
Situs resmi pemerintah 14%
Media cetak 9,7%
Radio 2,6%
Tidak mengakses sama sekali 1,6%
Lainnya 0,4%

Sumber Informasi Paling Dipercaya

Televisi 49,5%
Media sosial 20,3%
Situs web pemerintah 15,3%
Berita online 7%
Media cetak 4%
Tidak mengakses informasi sama sekali 2,7%
Radio 0,9%
Lainnya 0,3%

Media Sosial Paling Dipercaya

Whatsapp 55,2%
Facebook 27%
Instagram 11,9%
Youtube 4,7%
Twitter 0,9%
Telegram 0,3%

Media Yang Sering Ditemukan Hoaks

Facebook 71,9%
Whatsapp 31,5%
Youtube 14,9%
Portal berita online 10,7%
Instagram 8,1%
TV 7,7%
Koran/majalah 2,4%
Twitter 1,9%
Radio 0,5%
Line 0,4%
Tidak ada/tidak tahu 2,9%

Konten Hoaks Paling Sering Ditemui

Politik 67,2%
Kesehatan 46,3%
Agama 33,2%
Kerusuhan 28,1%
Lingkungan 21,9%
Bencana Alam 12,4%
Lainnya 1,4%
Tidak tahu 2,3%

Rujukan Sebuah Informasi Hoaks atau Bukan?

Keluarga dan saudara 58,7%
Mencari di Internet 52,4%
Warga lingkungan/tetangga 28,6%
Mencari di situs pemerintah 25,1%
Ketua RT/RW 12,8%
Teman kantor 11%
Teman alumni 9,3%
Tokoh agama 7,3%
Tokoh pemuda 3,4%
Dibiarkan 2,1%
Teman sekolah/kuliah 0,6%
TV 0,5%
Lainnya 0,2%

Sumber: Kementerian Kominfo

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos



Berita Terkini Lainnya








Kolom