Disperindag Sragen Tawarkan Zonasi bagi Pedagang yang Enggan Direlokasi Ke Lantai II Pasar Kota
Desain revitalisasi Pasar Kota Sragen. (Istimewa)

Solopos.com, SRAGEN — Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sragen menawarkan sistem zonasi sebagai solusi atas penataan 1.500 pedagang pascarevitalisasi Pasar Kota Sragen. Sistem zonasi dagangan diharapkan bisa menjadi jalan keluar bagi para pedagang di kios renteng dan sol sepatu yang sempat menolak direlokasi ke lantai II pasar itu.

Kabid Penataan Pasar Disperindag Sragen, Tommy Isharyanto, mengaku memahami kondisi pedagang di kios renteng sepanjang Jl. WR Supratman mulai dari palang kereta api (KA) Stasiun KA sampai kliteh. Begitu juga dengan kondisi pedagang sol sepatu di sebelah timur Shopping Center Sragen. Tommy mengatakan mereka menolak relokasi itu karena khawatir dagangan mereka tidak laku di lantai II.

Trafo Meledak, Ruang Panel Listrik Pabrik Makaroni Sragen Terbakar

“Semua pedagang di seputaran Pasar Kota itu sudah masuk dalam database pedagang sebanyak 1.500 orang itu. Mereka bisa tertampung dalam Pasar Kota Sragen yang akan direvitalisasi dengan dana Rp200 miliar pada 2021. Dana itu merupakan dana terbesar se-Indonesia. Kalau dana memadai. Kami berharap para pedagang bisa membuka mind set supaya bisa ditata. Pemkab tidak memiliki kepentingan apa pun,” ujar Tommy, Selasa (13/10/2020).

Tommy menawarkan solusi berupa zonasi pedagang. Warung kuliner dijadikan satu di lantai II, kata dia, maka orang yang mencari makan akan naik ke lantai II semua karena di lantai I tidak ada kuliner. Demikian halnya untuk pedagang pelat nomor dan sol sepatu, sebut dia, di lantai II semua, maka pelanggan juga akan mencari ke lantai II karena di lantai I tidak ada.

Adiwiyata Ngetren, Sekolah Mudah Cari Siswa...

“Gambaran tata letak pasar itu seperti Solo Square di mana pengunjung di lantai I itu bisa melihat pedagang di lantai II atau sebaliknya. Nanti juga dilengkapi dengan ekskalator untuk memudahkan pengunjung naik ke lantai II. Jadi konsepnya dikemas persis pasar modern. Untuk parkir nantinya ada di lantai III,” jelasnya.

1,8 Hektare

Tommy menerangkan setiap lantai itu luasnya bisa sampai 1,8 hektare. Kalau tiga lantai maka pasar itu luasnya bisa 5,4 hektare dan barang kali bisa menjadi pasar tradisional terbesar di Soloraya. Disperindag merencanakan untuk membuka pasar itu selama 24 jam supaya Kota Sragen hidup dengan ikon pasar tradisional yang dikelola dengan model mal.

“Jadi dengan zonasi itu tidak ada lagi dikotomi pedagang lantai I dan lantai II. Semua pekerjaan dilakukan pemerintah pusat. Kami berkewajiban Desember harus menyerahkan hasil review DED ke pusat,” katanya.

Sudah Disiapkan Sragen, Seleksi Adiwiyata Nasional Ditiadakan

Kepala Disperindag Sragen Tedi Rosanto mengatakan revitalisasi Pasar Kota Sragen itu dilaksanakan multiyears selama 2021-2022. Dia mengatakan review DED dibuat dengan anggaran APBD Perubahan 2020 dan hasilnya dikirim ke Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Kementerian PUPR. “Kami hanya pendamping pada konsultan perencana dan konsultan pengawas serta persiapan untuk pasar darurat,” ujarnya.

Terkait dengan polemik di pedagang, Tedi akan duduk bersama untuk musyawarah dengan mereka. Dia menekankan lokasi pembangunan tetap dengan tiga lantai.

Rencana Revitalisasi Pasar Kota Sragen 2021

  • Kebutuhan dana : Rp200 miliar
  • Pelaksanaan proyek : multiyewars 2021-2022
  • Desain bangunan : pasar rakyat modern seperti mal tiga lantai
  • Lantai I : kios dan los pedagang
  • Lantai II : parkir roda dua, sepeda, dan kios/los
  • Lantai III : khusus parkir roda empat
  • Potensi jumlah pedagang : 1.600 orang
  • Lokasi : Pasar Kota Sragen Jl. Raya Sukowati Sragen.



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya




Kolom