Diserang Lalat, Petani Panen Cabai Rawit Lebih Awal
Petani mengurus tanaman cabai di sawah di Desa Jimbar, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, belum lama ini. (Istimewa)

Solopos.com, WONOGIRI — Petani memanen cabai rawit tak sampai berwarna merah/berusia tua untuk menghindari buah busuk. Cabai berusia tua membusuk karena asupan air berlebih dan terserang hama lalat buah.

Itu lantaran sekarang penghujan dan bersamaan dengan masa panen berbagai jenis buah. Kondisi itu mengakibatkan produksi cabai rawit merah atau sret turun. Pada sisi lain permintaan komoditas tersebut cenderung tetap, sehingga harga jual naik.

Petani Desa Jimbar, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Sutrisno, kepada Solopos.com, Rabu (13/1/2021), menyampaikan pada kondisi normal cabai rawit siap panen berusia lebih kurang 90 hari. Namun, saat ini petani tak memungkinkan menunggu lebih lama agar cabai rawit berusia tua.

Tanaman Hias Bikin Peluang Bisnis Agribisnis Kinclong di Masa Pandemi

Itu karena saat memasuki usia lebih dari 60 hari cabai rawit mulai membusuk. Jika dibiarkan lebih lama cabai membusuk. Kondisi itu disebabkan tanaman cabai mendapat asupan air berlebih, mengingat hampir setiap hari hujan. Hal tersebut juga diperparah adanya serangan lalat buah.

Hama itu muncul saat masa panen berbagai buah seperti sekarang. Lalat menyerang buah, seperti pepaya, ketika buah mulai matang. Lantaran populasi sangat banyak dan tak terkendali, lalat juga menyerang cabai rawit yang berusia tua. Kondisi itu masih berlangsung hingga sekarang.

“Petani sudah membuat perangkap berupa media yang mengeluarkan aroma yang bisa mengundang lalat datang. Media itu ada lemnya, sehingga saat hinggap lalat terperangkap. Alat semacam itu dipasang di berbagai lokasi di lahan. Lalat yang terperangkap sangat banyak, tapi tetap saja lalat menyerang cabai. Saking banyaknya populasi lalat,” kata Sutrino yang juga Kepala Desa Jimbar itu saat dihubungi.

Penipu Berkedok Petugas Survei Bantuan Beraksi Di Wonogiri, Uang dan Emas Warga Raib

Luas Lahan

Dia menginformasikan produksi cabai rawit di Jimbar turun lebih dari 50 persen. Pada kondisi normal produksi cabai rata-rata 400 kg-500 kg/hari. Produksi itu hanya yang masuk ke pengepul. Produksi sebenarnya lebih besar karena banyak petani yang langsung menjual ke pasar tanpa melalui pengepul.

Selain itu ada petani yang menjual ke pengepul lain. Harga cabai rawit merah dari petani Rp55.000/kg, sedangkan rawit putih Rp18.000/kg. Cabai lainnya, tampar merah Rp40.000/kg, sedangkan tampar hijau Rp11.000/kg.

Penurunan produksi sejalan berkurangnya luas tanam. Pada kondisi normal lahan yang ditanami cabai bisa mencapai 30 hektare atau ha. Saat ini lahan yang ditanami hanya lebih kurang 9 ha.

Kuota Pupuk Urea Bersubidi Untuk Karanganyar Meningkat, Tapi Harganya Naik

Terpisah, pedagang cabai di los lantai I Pasar Kota Wonogiri, Warni, menjual cabai sret, Rabu, seharga Rp80.000/kg. Harga itu turun Rp10.000/kg dari harga sepekan sebelumnya yang mencapai harga tertinggi, Rp90.000/kg. Menurut dia penurunan harga cabai rawit terjadi karena permintaan turun jika dibanding saat momen libur Natal dan Tahun Baru lalu.

“Walau turun tapi harga Rp80.000/kg itu masih tinggi. Sebelum naik, harga cabai sret Rp60.000/kg,” ucap dia.

Harga cabai lainnya juga turun. Cabai rawit putih atau biasa seharga Rp28.000/kg dari sebelumnya Rp30.000/kg, tampar merah Rp50.000/kg dari sebelumnya Rp60.000/kg, dan tampar hijau Rp24.000/kg dari sebelumnya Rp30.000. Cabai rawit hijau botol tetap, yakni Rp50.000/kg.

 

 



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom