Pegawai Disdukcapil Temanggung jemput bola ke desa-desa untuk menyelesaikan perekaman Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) sebelum Pemilu 2019. (Antara-Disdukcapil Temanggung)

Solopos.com, TEMANGGUNG — Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Temanggung melakukan jemput bola perekaman kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) hingga desa-desa di wilayah setempat. Langkah proaktif itu dilakukan untuk mengejar target menyelesaikan perekaman sebelum Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Pelaksana Tugas Kepala Disdukcapil Temanggung, Widiatmoko di Temanggung, Jawa Tengah, Kamis (3/1/2019), menegaskan perekaman e-KTP berjalan terus, termasuk upaya jemput bola ke desa-desa. Hingga saat ini, katanya, masih ada sekitar 4.000-an warga Temanggung yang belum melakukan perekaman data e-KTP.

"Data pada kami yang belum melakukan perekaman sekitar 4.000-an itu, tetapi kami selalu perekaman ke desa, kemungkinan bisa bertambah," ujarnya. Ia menargetkan perekaman data e-KTP di Kabupaten Temanggung selesai pada bulan Maret 2019 sehingga saat pemungutan suara Pemilu 2019, sudah data telah beres.

Sekretaris Disdukcapil Kabupaten Temanggung, M. Nasir mengemukakan upaya jemput bola pembuatan e-KTP hingga ke desa-desa itu dibutuhkan untuk menjangkau warga yang sakit, tua, dan jompo. "Petugas kami mendatangi mereka dari rumah ke rumah untuk melakukan perekaman e-KTP," katanya.

Ia menyebutkan sebelum petugas meluncur ke desa sasaran, sebelumnya memang sudah ada laporan dari pihak desa. Menurut dia dalam satu hari, tim Disdukcapil bisa mengunjungi dua hingga tiga desa. Pasalnya, jika hanya satu desa seharian, dikhawatirkan target tidak akan tercapai.

"Selama ini tim jalan dengan sasaran dua hingga tiga desa, bahkan mereka kadang pulang hingga pukul 20.00 WIB dari lapangan," katanya.

Ia mengimbau bagi warga yang belum melakukan perekaman e-KTP tetapi dalam kondisi sehat sebaiknya tetap melakukan perekaman di kantor pemerintah kecamatan atau Disdukcapil. Ia menyampaikan dalam satu hari upaya jemput bola bisa melakukan perekaman 40 jiwa hingga 80 jiwa, tergantung dari jarak lokasi rumah penduduk.

"Kendala dalam upaya jemput bola, antara lain medan yang sulit karena lokasinya di daerah perbukitan, dan bahkan kadang petugas harus diantar pamong desa setempat menggunakan sepeda motor untuk menuju ke lokasi karena jalan tidak bisa dilalui mobil," jelasnya. 

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten