Diproduksi di Indonesia, Dua Obat untuk Pasien Covid-19 Ini Dilarang WHO
Ilustrasi uji coba vaksin Covid-19. (Freepik)

Solopos.com, JAKARTA – Dua obat malaria klorokuin dan hidrosiklorokuin disebut WHO berisiko menimbulkan gangguan detak jantung pasien dan bisa menyebabkan kematian. Karenanya WHO mendesak Indonesia untuk menghentikan penggunaan kedua obat itu untuk pasien Covid-19.

Politikus PKS: Comot WHO, New Normal Indonesia Tak Masuk Akal

Erlina Burhan, dokter yang terlibat dalam menyusun pedoman perawatan virus corona dan merupakan mengonfirmasi larangan dari WHO tersebut. “Kami telah mendiskusikan hal ini dan masih ada perselisihan. Kami belum sampai pada kesimpulan,” kata anggota Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) itu kepada Reuters.

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang paling aktif menganjurkan penggunaan obat malaria klorokuin dan hidrosiklorokuin. Obat ini dipakai dalam menangani pasien bergejala ringan hingga parah.

Sudah Ada 4 Kasus Positif di Solo, Anak-Anak Tidak Kebal Virus Corona!

Menurut laporan Kementerian Kesehatan, perusahaan di Indonesia memiliki target untuk memproduksi 15,4 juta dosis kedua obat tersebut di bulan April dan Mei.

Obat Covid-19 Tak Disarankan WHO

Wakil BUMN, Budi Gunadi Sadikin awal Mei lalu mengatakan dua BUMN Farmasi, tengah memproduksi tiga jenis obat penanganan Covid-19 di Indonesia. Salah satu diantaranya adalah klorokuin.

“Kimia Farma saat ini dapat memproduksi sekitar 250.000-400.000 tablet per minggu obat klorokuin dan hidroksiklorokuin,” kata Budi dalam rapat gabungan antar komisi DPR RI secara daring, Selasa (5/5/2020).

Balik ke Jakarta Wajib Miliki SIKM, Ini Kata Bupati Wonogiri

Sebelumnya, akhir Maret lalu, Presiden Joko Widodo mengumumkan telah memesan tiga juta butir pil klorokuin. Menurut Jokowi klorokuin adalah obat “second line” atau baris nomor dua dalam penyembuhan pasien virus corona.

“Pengalaman beberapa negara, klorokuin digunakan dan banyak pasien COVID sembuh dan membaik kondisinya,” kata Presiden dalam kunjungannya ke Wisma Atlet Kemayoran (23/3/2020).

Obat ini juga sempat dipuji oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan sejumlah pemimpin negara lainnya sebagai obat yang efektif untuk Covid-19.

Mulia, Perantau Wonogiri Santuni 36 Anak Yatim Piatu

Dipakai Trump

Presiden Trump bahkan mengaku telah menggunakan obat itu untuk mencegah infeksi, meskipun belakangan ia menyatakan telah berhenti meminumnya.

Menurut Dr Erlina sebagai anggota perhimpunan dokter paru, klorokuin dan azithromycin, antibiotik yang digunakan bersamaan dengan obat tersebut, selama ini telah rutin digunakan dalam merawat pasien virus corona.

Ia namun tidak dapat memastikan apakah kedua obat ini telah meningkatkan angka kematian pasien, karena belum adanya pemeriksaan atas kemungkinan tersebut.

Pemkab Sukoharjo Kini Tak Lagi Terbitkan Suket Pengganti E-KTP

Rekomendasi Mengejutkan

Stephen Nissen, ahli jantung dan kepala staf akademik di Miller Family Heart, Vascular & Thoracic Institute di Cleveland Clinic, Amerika Serikat, mengatakan terkejut mendengar Pemerintah Indonesia pernah merekomendasikan penggunaan obat tersebut.

“Kita tahu produksi obat ini langka, namun dapat menimbulkan efek samping penyakit kardiovaskular yang sangat berbahaya, yaitu gangguan detak jantung yang susah disembuhkan,” kata dia.

“Jadi, ide untuk memberikan obat ini kepada pasien secara rutin berdasarkan pada bukti (efektivitas) yang tipis sangatlah tidak masuk akal.”

Besok Kamis Rapid Test Massal di Sragen, 2.500 Alat Tes Disebar di 20 Kecamatan

Sementara itu, Jane Quinn, peneliti farmakologi di Charles Sturt University di Australia mengatakan obat anti-malaria dapat menimbulkan dampak yang lebih parah. Hal ini terlihat dari profil enzim warga Indonesia.

“Melihat bukti yang sudah ada dari profil enzim global, populasi Indonesia sebenarnya kurang efisien dalam memecahkan klorokuin dan hidroksiklorokuin ini,” kata Jane.

Menurutnya, bagi orang Indonesia, obat ini justru kemungkinan menurunkan efektivitas pengobatan lainnya dan menimbulkan racun.

Tirakatan Online Meriahkan Perayaan HUT ke-274 Sragen

Reuters sudah menghubungi juru bicara WHO, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan juru bicara Gugus Tugas Covid-19. Namun Reuters belum menerima respon hingga artikel ini diterbitkan.

Sumber: Antara


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho