Dinkes Sukoharjo Dorong Warga Jadi Jumantik di Rumah
Petugas juru pemantau jentik (jumantik) mengecek perkembangan jentik di bak mandi. (Istimewa-Dinkes Wonogiri)

Solopos.com, SUKOHARJO -- Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo melayangkan surat edaran ke 12 kecamatan ihwal kewaspadaan penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Program juru pemantau jentik (jumantik) di setiap rumah dioptimalkan untuk memutus mata rantai penularan penyakit DBD.

Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular DKK Sukoharjo, Dwi Purnomo, mengatakan surat edaran itu diterbitkan DKK Sukoharjo pada 22 Januari 2019 berisi permintaan pemerintah kecamatan agar meningkatkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) serentak.

“Pada awal Januari, jumlah kasus penyakit DBD di wilayah Jateng meningkat. Apalagi, saat ini musim penghujan yang berpotensi nyamuk aedes aegypti berkembang biak cepat,” kata dia, saat berbincang dengan solopos.com, Sabtu (26/1/2019).

Gerakan PSN dilakukan di lingkungan rumah, pondok pesantren (ponpes), sekolah dan pabrik. Gerakan PSN merupakan cara paling efektif dalam mencegah penularan penyakit DBD dengan membasmi telur nyamuk.

“Kami fokus mendorong masyarakat untuk menjadi jumantik di rumahnya. Bisa suami, istri atau anak yang bertugas memantau jentik-jentik nyamuk di bak kamar mandi, pot bunga dan tempat yang berpotensi menjadi lokasi bertelurnya nyamuk,” ujar dia.

DKK Sukoharjo telah melakukan penelitian di Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura dan Desa Cemani, Kecamatan Grogol, terkait virus dengue pada 2017. Telur nyamuk yang baru saja menetas menjadi larva dan nyamuk dewasa dapat menularkan virus dengue saat menggigit manusia.

Tak hanya itu, pemetaan daerah rawan endemis penyakit DBD telah dilakukan di 12 kecamatan. Daerah itu dikategorikan endemis demam berdarah karena terdapat kasus DBD selama tiga tahun berturut-turut.

“Hingga pekan ketiga Januari, jumlah kasus penyakit DBD sebanyak lima kasus di Desa Jatingarang, Karakan di Kecamatan Weru, Kelurahan Banmati di Kecamatan Sukoharjo dan Desa Kedungwinong dan Daleman di Kecamatan Nguter,” papar dia.

Sementara itu, warga Desa Toriyo, Kecamatan Bendosari, Saroto, mengatakan warga setempat telah beberapa kali melaksanakan program PSN dengan membersihkan saluran drainase, tong sampah maupun ban bekas. Namun, tetap saja ada kasus penularan penyakit DBD di wilayahnya. 


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho