Kategori: Karanganyar

Dinkes Karanganyar Minta Masyarakat Tak Abaikan Leptospirosis


Solopos.com/Candra Mantovani

Solopos.com, KARANGANYAR - Dinas Kesehatan (Dinkes) Karanganyar mengimbau masyarakat untuk tidak melupakan bahaya bakteri Leptospirosis di tengah pandemi Covid-19 selama musim hujan. Selama Januari 2021, masih terdapat beberapa warga Karanganyar yang terinfeksi penyakit yang ditularkan oleh tikus tersebut.

Kasi P2P Dinkes Karanganyar, Sri Winarno, mengatakan berdasarkan pendataan yang dilakukan, terdapat dua orang warga yang terjangkit penyakit Leptospirosis. Keduanya berdomisili di Tasikmadu dan Gondangrejo, Karanganyar. Namun, Winarno memastikan dua kasus Leptospirosis di awal 2021 bisa bertahan dan sembuh.

“Sementara aman, walau masih ada yang terjangkit Leptospirosis. Tapi keduanya bisa survive dan tidak berujung meninggal seperti kasus-kasus sebelumnya,” jelas Winarno kepada Solopos.com Senin (1/2/2021).

Baca Juga:  Murah Dan Akurat, Ini Fakta GeNose Alat Deteksi Covid-19 Buatan UGM

Menurut Winarno, persebaran penyakit Leptospirosis disebabkan oleh pola hidup yang tidak bersih dari masyarakat. Pasalnya, media penyebar yang merupakan tikus diketahui merupakan hewan yang suka berada di tempat kotor. Sehingga, untuk meminimalisasikan potensi tersebut, warga harus bisa menjaga kebersihan rumah dan diri.

“Kebanyakan disebabkan sanitasi rumah yang tidak baik. Banyak makanan sisa yang akhirnya mengundang tikus datang dan membuat tempat-tempat di rumah terkontaminasi bakteri yang dibawa tikus,” imbuh dia.

Selain mengimbau masyarakat agar tetap menjaga pola hidup bersih sehat (PHBS), Dinkes Karanganyar melalui Puskesmas wilayah masing-masing juga melakukan inspeksi sanitasi rumah tangga.

“Kami ada pendataan PHBS rumah tangga. Jadi kami mendata bagaimana pembuangan sampah di tingkat rumah tangga dan desa untuk menurunkan potensi juga,” ucap dia.

Baca Juga: Sudah Punya GeNose, Tes Saliva Juga Akan Dipakai Pemerintah? Ini Jawaban Satgas Covid-19

Perubahan Pola Hidup

Selain itu, Winarno mengatakan perubahan pola hidup masyarakat di tengah pandemi Covid-19 juga berpengaruh dengan turunnya angka masyarakat terpapar Leptospirosis. Pasalnya, anjuran 3M yang gencar disosialisasikan berpengaruh pada tingkat kesadaran masyarakat terhadap kebersihan diri dan lingkungan.

“Walaupun tidak langsung, wabah Covid-19 juga mempengaruhi. Karena selama wabah ini warga aware dengan kebersihan. Mereka rutin cuci tangan atau memakai hand sanitizer. Jadi kontak langsung dengan bakteri bisa dikurangi,” terang dia.

Berdasarkan data yang dimiliki Solopos.com, pada 2020, tercatat terdapat 18 kasus masyarakat yang terpapar Leptospirosis. Delapan orang diantaranya berujung meninggal dunia.

Share
Dipublikasikan oleh
Anik Sulistyawati