Kategori: Boyolali

Dinkes Boyolali Akan Atasi Demam Berdarah Dengan Ternak Nyamuk, Begini Caranya


Solopos.com/Bayu Jatmiko Adi

Solopos.com, BOYOLALI -- Kasus demam berdarah dengue atau DBD masih menjadi perhatian Pemkab Boyolali karena jumlah kasusnya yang cenderung meningkat setiap tahun.

Untuk mengatasi kasus DBD itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali berencana melaksanakan program ternak nyamuk pada 2021 nanti. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, Ratri S Survivalina, mengatakan dalam upaya mengatasi DBD, ada beberapa program yang selama ini terus berjalan.

Program itu antara lain PSN atau pemberantasan sarang nyamuk dengan metode 3M plus (menguras, mengubur atau memilah sampah dan menutup tempat-tempat penyimpanan air). Juga pemantauan jentik-jentik nyamuk dengan program satu rumah satu pemantau.

Bawaslu Sukoharjo Perpanjang Lagi Masa Pendaftaran Pengawas TPS, Masih Kurang Berapa?

Namun, hal itu ia akui belum bisa optimal mencegah penularan demam berdarah di Kabupaten Boyolali. "Ternyata [program yang sudah berjalan] kurang memberikan hasil memuaskan. Sebab dari 10 Puskesmas yang mencakup 22 desa endemik Boyolali sampai saat ini masih selalu muncul kasus positif dari tahun ke tahun," katanya, Senin (19/10/2020).

Karena itu pula Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali akan terus berupaya membuat inovasi atau terobosan program dalam mengendalikan DBD. Salah satunya dengan menjalankan program ternak nyamuk.

Bakteri Wolbachia

Tentu bukan nyamuk sembarangan yang akan diternakkan. Nyamuk tersebut adalah nyamuk jenis Aedes aegypti yang diinfeksi bakteri wolbachia. Bakteri ini sudah diteliti oleh World Mosquito Program di Jogja selama 10 tahun sejak 2011 lalu.

Dosen FH UNS Solo Meninggal Positif Covid-19, Begini Kronologinya Menurut Rektor

Menurut Kepala Dinkes Boyolali, dari hasil penelitian itu ternyata nyamuk Aedes aegypti yang mengandung bakteri wolbachia tidak menjadi sumber penularan demam berdarah. Bahkan bisa memberantas penyakit demam berdarah.

Hal itu karena jika nyamuk itu dilepas mereka akan kawin dengan nyamuk lokal yang belum mengandung bakteri. "Dengan perkawinan itu nyamuk di alam bebas menjadi nyamuk yang mengandung bakteri wolbachia, sehingga lama-lama nyamuk di lokasi itu tidak menjadi sumber penularan DBD lagi," jelas Ratri.

Mengenai rencana program itu, Raktri mengatakan telah menggelar sosialisasi kepada para pejabat struktural dan kepala Puskesmas daerah endemik. Ia mengatakan pada 2021 nanti program pemberantasan DBD dari Dinas Kesehatan Boyolali akan tambah satu lagi yakni program ternak nyamuk.

Dosen FH UNS Solo Meninggal Positif Covid-19, DKK Sukoharjo Lakukan Tracing Kontak

Sementara itu, mengenai perkembangan kasus demam berdarah dengue Boyolali, Ratri menyebutkan dari 22 desa yang berstatus endemik, ada kecenderungan peningkatan jumlah kasus.

Jumlah Kasus

Ia menyebutkan pada 2017 ada 36 kasus, lalu 2018 meningkat menjadi 40 kasus dan 2019 menjadi puncaknya yakni 149 kasus. Kemudian pada 2020 sampai Oktober sudah terdata 91 kasus.

Rekor! 59 Kasus Covid-19 Solo Pada Akhir Pekan, Plus 1 Klaster Baru

"Paling sering muncul kasus itu Desa Sambi [Kecamatan Sambi], Desa Donohudan [Kecamatan Ngemplak]. Lalu Desa Karanggeneng [Kabupaten Boyolali], Desa Candi [Kecamatan Ampel] dan Desa Pelem di Simo," katanya.

Program ternak nyamuk untuk mengatasi demam berdarah Boyolali nantinya hanya akan berlaku untuk desa atau wilayah endemis. "Ini masih inovasi baru dan kami harus melibatkan masyarakat untuk bersedia dan mau menernakkan nyamuk. Ini yang mungkin butuh pendekatan dan pembimbingan. Keberhasilan program ini juga perlu evaluasi selama tiga tahun," katanya.

Share