Tutup Iklan

Dimutasi Setelah Picu Kontroversi, Aipda Ambarita: Satya Haprabu!

Aksi Ambarita menuai banyak kritik, salah satunya dari Kompolnas yang menyebut menggeledah tanpa surat perintah keliru.

 Aipda Ambarita dimutasi setelah video dirinya memaksa memeriksa HP pengguna jalan viral di media sosial. (Detikcom)

SOLOPOS.COM - Aipda Ambarita dimutasi setelah video dirinya memaksa memeriksa HP pengguna jalan viral di media sosial. (Detikcom)

Solopos.com, JAKARTA – Aipda Monang Parlindungan Ambarita dimutasi ke Bidang Humas Polda Metro Jaya setelah viral video aksinya memeriksa handphone warga saat patroli.

Polisi yang dikenal sebagai Tim Raimas Backbone ini akhirnya buka suara.

Ambarita mengatakan prinsip Satya Haprabu yang berarti setia pada pemimpin.

Satya haprabu (setia kepada pimpinan negara),” ujar Ambarita saat dimintai konfirmasi Detikcom, Rabu (20/10/2021).

Ambarita tak banyak bicara soal mutasi tersebut. Dia mengaku akan bekerja dengan sungguh-sungguh di tempat baru.

“Yup. That’s right,” ucapnya.

Ambarita yang dikenal sebagai “polisi artis” karena memiliki banyak penggemar di media sosial viral seusai menggeledah paksa HP seorang pemuda.

Tidak jelas kapan peristiwa itu terjadi.

Banyak Kritik

Aksi Ambarita kemudian menuai banyak kritik. Salah satunya dari Kompolnas, karena aksinya menggeledah tanpa surat perintah.

Dalam video itu, Aipda Ambarita terlihat ngotot dan beralasan petugas kepolisian memiliki wewenang untuk memeriksa HP pemuda tersebut.

Meski pemuda itu tampak sudah menolak saat dilakukan pemeriksaan paksa oleh Aipda Ambarita, Ambarita memaksanya.

“Tahu tugas dan wewenangnya polisi? Undang-undangnya privasi itu apa sih? Kita adu data,” ucap Ambarita, seperti dilihat dalam video viral, Selasa (19/10/2021).

Ambarita terus-menerus mencecar pemuda itu soal tugas dan wewenang polisi.

Baca Juga: Polisi Memaksa Periksa HP di Jalan, Kompolnas: Tolak! 

Menurut Ambarita, polisi punya wewenang memeriksa identitas masyarakat. Untuk diketahui, peristiwa ini terjadi saat Tim Jaguar Polres Metro Jakarta Timur melakukan patroli dan direkam video.

“Wewenang polisi memeriksa identitas, identitas. Tahu kau definisi identitas itu apa? Harus tau kami siapa kau,” kata Ambarita.

Ambarita tidak memberi kesempatan pemuda itu untuk berbicara. Dia terus ngotot untuk memeriksa isi ponsel pria itu.

“Kalau ada perencanaan pembunuhan di situ? Memang saya kenal sama kau?” ujar Ambarita dengan nada tinggi.

Baca Juga: Nasib 2 Polisi Artis, dari Kerja di Lapangan Mutasi ke Bidang Humas 

Tak berapa lama Polda Metro Jaya memutasi Aipda Ambarita setelah peristiwa itu.

Selain Ambarita, “polisi artis” lainnya Aiptu Jakaria alias Jacklyn Choppers (Jack) juga dimutasi ke Bidang Humas Polda Metro Jaya.

Aiptu Jakaria yang sebelumnya menjabat Banit 9 Unit 2 Subdit 4 Ditreskrimum Polda Metro Jaya dimutasi sebagai Bintara Bid Humas Polda Metro Jaya.

Sedangkan Aipda Monang Parlindungan Ambarita yang menjabat Banit 51 Unit Dalmas Satsabhara Polres Metro Jaktim dimutasi sebagai Bintara Bid Humas Polda Metro Jaya.

Penyegaran

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus, mengatakan mutasi keduanya merupakan penyegaran personel Polri.

Dia mengatakan keduanya sudah cukup populer di media sosial, sehingga diharapkan dapat memperkuat bidang Kehumasan.

“Kami ini semuanya anggota Polda Metro Jaya, mutasi itu adalah hal yang wajar tour of duty ya kan, penyegaran. Termasuk Pak Jacklyn ya kan. Pak Jacklyn ini mutasi dari Jantaras ke Humas,” kata Kombes Yusri kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (19/10).

 


Berita Terkait

Espos Plus

Pembahasan RUU PDP Belum Rampung, Kominfo Fokus Sosialisasi dan Edukasi

+ PLUS Pembahasan RUU PDP Belum Rampung, Kominfo Fokus Sosialisasi dan Edukasi

Progres terbaru dari pembahasan RUU PDP adalah pembahasan format lembaga pengawas yang akan bertanggung jawab menangani perkara perlindungan data pribadi hingga kini belum final.

Berita Terkini

Mudik Tak Dilarang, Tetapi Tetap Bangun Kewaspadaan saat Nataru

Ginting menegaskan pemerintah tidak melarang mudik saat momen nataru, namun masyarakat tetap diminta waspada terhadap potensi penularan Covid-19 dengan mematuhi protokol kesehatan.

Asal-Usul Ramalan Jayabaya

Inilah asal-usul Ramalan Jayabaya yang sampai saat ini masih dipercaya sebagian masyarakat Indonesia.

+ PLUS Pembahasan RUU PDP Belum Rampung, Kominfo Fokus Sosialisasi dan Edukasi

Progres terbaru dari pembahasan RUU PDP adalah pembahasan format lembaga pengawas yang akan bertanggung jawab menangani perkara perlindungan data pribadi hingga kini belum final.

2 Juta Buruh Ancam Mogok Nasional Jika UU Cipta Kerja Jalan Terus

Sebanyak 2 juta butuh dari seratusan pabrik mengancam melakukan mogok nasional jikan pemerintah nekat menjalankan Undang-Undang (UU) Cipta Kerja.

Video Viral Tentara Usir Mertua dari Rumah Dinas

Video viral memperlihatkan seorang prajurit tentara mengusir ibu mertuanya yang duduk di kursi roda dari rumah dinasnya.

Dosen UNJ Diduga Kirim Chat Mesum ke Mahasiswi

Kasus dugaan pelecehan diduga terjadi di Universitas Negeri Jakarta, di mana seorang dosen dilaporkan mengirim chat mesum kepada beberapa mahasiswa.

+ PLUS Membaca Pilpres 2024 Tanpa Jokowi

“Artinya, kalau misalnya ketiga nama ini dapat tiket [Pilpres 2024], sepertinya dengan pola sekarang berdasarkan konstitusi--mereka yang menang satu putaran langsung dilantik sebagai presiden--tidak akan tercapai."

Ahli ITB Jelaskan Penyebab Gunung Semeru Erupsi

Ahli vulkanologi ITB menjelaskan penyebab Gunung Semeru mengalami erupsi, salah satunya curah hujan tinggi.

+ PLUS Penyelesaian Kasus Pelanggaran HAM Berat Terjebak Kegelapan

Upaya penyelesaian pelanggaran hak asasi manusia kategori berat makin rumit dan kompleks. Penyebab utama semua itu adalah dedikasi dan komitmen politik hukum penegakan hak asasi manusia yang lemah.

Arief Puyuono: Airlangga - Ganjar Capres Top Versi Ramalan Jayabaya

Arief Puyuono menyebut sosok Ganjar Pranowo dan Airlangga Hartarto adalah figur yang cocok menjadi presiden berdasarkan Ramalan Jayabaya.

Kasus Covid-19 Melonjak, Swiss dan Belanda Kerahkan Tentara

Pemerintah Swiss dan Belanda kembali mengerahkan 2.500 anggota tentara untuk membantu pemerintah daerah menangani pandemi virus corona.

Satu Ton Rendang untuk Warga Terdampak Erupsi Semeru di Lumajang

Pemkab Dharmasraya memiliki cara meringankan beban korban bencana guguran awan panas Semeru di Lumajang dengan memasak satu ton rendang dan akan dikirim pada Kamis (8/12/2021).

+ PLUS Tari dan Matematika Mengungkap Nilai Spiritualitas Sehari-Hari

Etnomatematika adalah konsep matematika yang diaplikasikan menjadi aktivitas, kebiasaan, atau adat kehidupan masyarakat dalam menyelesaikan masalah sehari-hari.

10 Berita Terpopuler: PPKM Level 3 Nataru Batal hingga Ramalan Jayabaya

Kabar keputusan pemerintah batal menerapkan PPKM level 3 di semua wilayah Indonesia saat momen libur Nataru dan ramalan Jayabaya menjadi berita terpopuler di Solopos.com Rabu (8/12/2021).

Solopos Hari Ini: PPKM Tak Seragam

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 secara menyeluruh selama libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru) batal terlaksana.