Dimulai Pagi Ini, Perayaan Hari Tari Dunia di ISI Solo
Pentas salah satu kelompok tari dalam pembukaan 24 Jam Menari di halaman Rektorat ISI Solo, Senin (29/4/2019). (Solopos-Ika Yuniati)

Solopos.com, SOLO – Perayaan Hari Tari Dunia (HTD) bertajuk 24 Jam Menari dimulai tepat pukul 06.00 WIB, Senin (29/4/2019), di Halaman Rektorat ISI Solo. Acara yang mengusung tagline #GegaraMenari ini diawali dengan sajian tunggal enam penari 24 jam.

Acara tersebut dimulai dari Tari Watang Kolosal berjudul Sang Mahapatih oleh Sri Hadi dari Solo, dilanjutkan Abib Habibi Igal (Kalimantan), Arbi Nuralamsyah (Bandung), I Nyoman Agus Triyuda (Bali), dan Pulung Jati Rangga Murti (Yogyakarta).

Sri Hadi adalah dosen ISI Solo yang aktif sebagai Pangarso Kabudayaan Paguyuban Kusuma Hondrowina Keraton Kasunanan Surakarta ini menggarap berbagai jenis pentas dan tari sejak 1982. Di antaranya sutradara Ketoprak Multimedia Campur Tokoh HUT Sanggar Puspa Budaya Jakarta pada 2012. Sutradara dan koreografer kolaborasi ketoprak dan tari di Jakarta pada 2012. Terakhir musikalisasi gurit dan tari dalam pentas kolaborasi di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) akhir bulan lalu.

Empat peserta lainnya merupakan para seniman muda yang cukup diperhitungkan. Arbi misalnya, menjadi koreografer 16 tari gubahan maupun garap baru sejak 2015 silam. Sementara Abib dinobatkan sebagai koreografer unggulan dan terbaik se-Indonesia dalam gelar Parade Tari Nusantara. Konsistensi pada Tari Gelang mengantarkan Abib ke panggung international yaitu Perancis (2015), Jerman (2015), Australia (2018), dan Malaysia (2012 & 2018).

Selesai dengan pentas tunggal, acara dilanjutkan pentas kelompok seperti Barongan Blora, Country Dance, Koreografi Property, hingga arak arakan penari 24 jam menuju zona teater kapal.

Hari Tari Dunia tahun ini dimeriahkan 6.000 penari dari 191 kelompok yang bakal membawakan 600-an judul karya. Penampilnya berasal dari berbagai daerah di Indonesia termasuk penari luar negeri. Mereka terdiri dari anak-anak hingga para empu.

Mengusung tema #GegaraMenari Urip Mawa Urup Urip Hanguripi, mereka menerjemahkan tari sebagai sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan. Tari menjadi entitas yang menyatu dengan masyarakat sehingga bisa menghidupi, membangun citra bangsa menjadi santun, dan beradab.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom

Langganan Konten

Pasang Baliho