Kemacetan di kawasan simpang tujuh Palang Joglo beberapa waktu lalu. (Solopos-dok)

Solopos.com, SOLO — Warga Kampung Bonorejo, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari, dalam posisi serba dilematis menghadapi Kereta Api (KA) Bandara Adi Soemarmo yang mulai beroperasi pada Jumat (20/12/2019) mendatang.

Hal itu dikarenakan perlintasan sebidang di Bonorejo tidak memungkinan untuk dibuka dikarenakan kereta api bandara bakal melintas sebanyak 60 kali. Disisi lain, apabila perlintasan sebidang ditutup banyak pelaku usaha yang mengandalkan hidupnya dari ramainya warga yang melintas di perlintasan tanpa palang pintu itu.

Salah seorang warga RT003/RW017, Kampung Bonorejo, Widodo, saat ditemui Solopos.com, Jumat (6/12/2019) mengatakan awal tahun ini warga sempat menolak wacana PT Kereta Api Indonesia yang berencana menutup perlintasan sebidang di sebelah selatan Palang Joglo itu.

Warga bersepakat menjaga perlintasan sebidang itu untuk mengantisipasi kecelakaan. Dia menjelaskan warga selalu memperingatkan pengendara ketika ada kereta api melintas. Salah satu upaya yang mereka lakukan adalah membangun tiga markah kejut agar pengendara mengurangi kecepatan di perlintasan yang sudah ada sejak 40-an tahun lalu itu.

Macet! KA Bandara Solo Beroperasi, Palang Joglo Dilintasi Kereta 70x Sehari

“Kalau dahulu kami menolak karena banyak pertimbangan seperti pelaku usaha yang terancam merugi seperti saat perlintasan sebidang itu ditutup selama tiga hari dahulu. Lalu, perlintasan ini menjadi akses utama warga setempat dan warga lainnya menghindari kepadatan sekitar Joglo. Tapi kalau 60 kali melintas cukup berbahaya juga kalau dibuka,” ujar Widodo.

Dia menambahkan kereta api bandara jelas berdampak pada kepadatan Simpang Tujuh Palang Joglo. Sedangkan perlintasan Bonorejo sangat efektif mengurai kepadatan di Simpang Joglo. Dia meminta perlintasan sebidang tetap dibuka namun dengan penjagaan dari pemerintah.

KA Bandara Solo Beroperasi, Palang Joglo Diprediksi Macet Parah

Senada dengan hal itu, Budi Santoso, warga RT004/RW017, Kampung Bonorejo, mengatakan warga sempat mencoba menugaskan seorang warga untuk sebagai penjaga perlintasan dengan upah sukarela dari pengendara. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena berat dan tidak memungkinkan. Jika kereta melintas lebih dari 60 kali sehari, perlu tenaga ekstra dan sangat membahayakan.

Berdasarkan perhitungan Solopos.com, sekitar pukul 10.00 WIB dalam satu menit sebanyak 30 pengendara sepeda motor melintas dari arah Joglo ke Nusukan maupun sebaliknya.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten