Dilema dan Solusi Pembelajaran Bahasa Inggris Online

Artikel ini ditulis Nadira Syifa Azzahro, mahasiswa Tadris Bahasa Inggris, Program Kelas Khusus Internasional IAIN Salatiga

 Nadira Syifa Azzahro (Istimewa/Dokumen Pribadi)

SOLOPOS.COM - Nadira Syifa Azzahro (Istimewa/Dokumen Pribadi)

Bahasa Inggris dewasa ini digunakan sebagai bahasa lingua franca nomor satu di dunia. Bahasa Internasional ini paling masif digunakan dan diajarkan selain itu bahasa ini juga umum digunakan sebagai bahasa diplomasi dan bahasa sains. Alasan banyak orang mempelajari bahasa inggris adalah agar mudah berkomunikasi ketika bepergian ke berbagai negara maka dari itu banyak perguruan tinggi menyediakan fakultas yang memiliki jurusan Pendidikan Bahasa Inggris maupun jurusan Sastra Inggris.

Dabbagh dan Ritland (2005:15) mengungkapkan sistem belajar online merupakan salah satu sistem belajar tersebar dan terbuka menggunakan alat bantu pendidikan atau seperangkat pedagogi. Pada saat ini pandemi Covid-19 sudah berlangsung sejak Maret 2020 yang mau tidak mau membuat peserta didik tidak bisa bertemu dalam satu lokasi pembelajaran. Alhasil banyak pihak mengandalkan komputer berakses Internet dan fasilitas lain yang mempunyai sarana berkumpul dan diskusi dengan membuka laman web atau online learning yang digunakan sebagai media pembelajaran. Hal ini menarik perhatian peserta didik dalam format teknologi komunikasi yang ditujukan untuk pembelajaran.

Smaldino (2012:7-9) mengatakan teknologi yang mempunyai aneka variasi aplikasi bisa diterapkan dan didayagunakan dalam semua cakupan kurikulum. Di satu sisi teknologi sangat membantu transfer ilmu dan pengetahuan dari guru dan dosen kepada siswa atau mahasiswa tetapi di sisi lain memunculkan dilema di tengah pandemi ini. Di antaranya ialah keresahan pendidik seperti guru dan dosen, orang tua, dan peserta didik antara baik buruk efek online learning dalam pembelajaran bahasa inggris.

Online learning ini memudahkan bagi pendidik mengajar bahasa inggris dengan menyingkat waktu dan meminimalkan biaya pendidikan karena banyak platform Internet beraneka format multimedia teks, kuis, audio,visual, atau film yang menujang silabus dan menyediakan materi dan latihan bahasa Inggris yang dapat unduh semua kalangan.

Adanya batasan waktu yang dapat disetting dalam pengumpulan tugas .Namun, pendidik dituntut agar menguasai teknologi terkini sebenarnya ada cara termudah agar pendidik dan peserta didik dapat bertatap muka menggunakan Google Meet atau Zoom Meeting. Mengingat keadaan dan tantangan di era kenormalan baru ini pendidik dituntut bersifat self-instructional ( belajar mandiri ) sangat disayangkan masih banyak pendidik yang kurang menguasai teknologi pembelajaran. Hal ini menciptakan kesenjangan kemampuan antara satu dengan yang lain dampaknya juga akan berimbas pada kualitas pendidikan di Indonesia secara umum.

Lebih penting lagi dari sekadar penggunaan teknologi pembelajaran, orang tua juga dipastikan memiliki peranan yang mahapenting dalam memberi semangat dan membantu peserta didik memahami materi yang diajarkan dan mendampingi peserta didik, orang tua dituntut agar tidak gagap teknologi padahal tidak semua orang tua memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik tersebut misalnya orang tua sibuk berkutat dengan pekerjaan sehingga anak akan kurang pengawasan saat peserta didik menjalani pendidikan online learning.

Bahkan ada satu kasus di satu sekolah di Jawa Tengah dimana guru memberi tugas kepada siswa secara real time via telepon genggam tapi telepon genggam di satu keluarga hanya satu dan digunakan oleh orang tua untuk berkomunikasi ketika berjualan di pasar. Sehingga siswa hanya dapat mengerjakan tugas ketika orang tua pulang dari bekerja di pasar.

Elliot Masie, Cisco, dan Cornellia juga berpendapat e-learning adalah belajar melalui media elektronik dan pembelajaran dengan menggunakan TV, radio, internet dan lain-lain (2000). Namun tidak semua orang tua mampu memenuhi kebutuhan elektronik dan fasilitasi pesera didik terhadap akses internet dan media belajar dan dalam hal ini sangatlah disayangkan jika peserta didik pada akhirnya putus sekolah.

Plus-Minus

Secara umum dapat disimpulkan bahwa di era kenormalan baru ini, peserta didik mudah mengakses materi pembelajaran kapan dan di mana saja yang menjadikan peserta didik lebih memahami dan memperkuat pengetahuan akan materi pembelajaran. Meskipun demikian di sisi yang lain online learning juga membuat peserta didik kesulitan memahami materi pembelajaran, munculnya fenomena rendahnya kesadaran motivasi yang menyebabkan semangat dan kualitas belajar peserta didik yang rendah bahkan banyak juga dari peserta didik yang mengeluh sakit mata karena sering terpapar layar ponsel atau laptop sampai 16 jam sehari dan kurangnya bertatap muka dengan guru menyebabkan degradasi moral dan etika pada anak bangsa.

Banyak para ahli pendidikan mengatakan akan muncul lost generation atau generasi yang hilang. Dilansir oleh Jawapos.com, Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda mengatakan, berdasar laporan dari Unicef, situasi akibat Covid-19 dalam jangka panjang bakal memberikan dampak luar biasa bagi anak-anak di Indonesia. Kondisi tersebut terjadi karena terganggunya stabilitas pendapatan keluarga dan stabilitas sistem pendidikan di tanah air.

Satu poin yang perlu kita sadari sejak dini ialah pentingnya mewujudkan adanya hubungan timbal balik antara pihak pemerintah, orang tua, pendidik dan peserta didik yang merupakan poin penting dalam mewujudkan kesuksesan dalam pembelajaran bahasa inggris secara daring. Penulis memahami keluh kesah para pendidik yang merasa sangat kurang dalam penguasaan teknologi pembelajaran bahasa Inggris dan dalam situasi yang mendesak ini pendidik perlu mengupayakan dan mengoptimalkan fasilitias pembelajaran daring yang terbaik bagi peserta didik dengan berbagai cara.

Orang tua diimbau membantu peserta didik memahami materi pembelajaran atau sekurang-kurangnya mengawasi pembelajaran peserta didik secara ketat. Peserta didik juga harus sadar akan kewajibannya dan mampu menata diri akan kebutuhan pembelajaran karena masa depan Indonesia berada ditangan generasi muda Indonesia.


Berita Terkait

Berita Terkini

Pajak Orang Kaya, Adilkah?

Opini ini ditulis Andi S. Purnomo, S.S.T., L.L.M., alumni International Tax Center, Universiteit Leiden.

Peran Pemberitaan Pemerintah dalam Komunikasi Publik Masa Kini

Opini ini ditulis Joko Priyono S.Sos M.Si, Kepala Seksi Komunikasi dan Desiminasi Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Klaten.

Sistem Pembayaran Pensiun di Indonesia

Opini ini ditulis Yuniar Yanuar Rasyid, Widyaiswara Ahli Utama Pusdiklat AP Kementerian Keuangan.

Trend Hybrid Learning dalam PPKM Level di Dunia Pendidikan

Opini ini ditulis Atiek Rachmawati, S.S, Alumnus Prodi Sastra Daerah FSSR (sekarang FIB) UNS dan Guru Bahasa Jawa SMA N 2 Grabag, Magelang.

Selama 16 Tahun Berhasil Provokasi Puluhan Orang Tinggalkan Zona Nyaman

Esai ini ditulis oleh Dr Aqua Dwipayana, Penulis Pakar Komunikasi dan Motivator Nasional.

Membangun Ekosistem Lifelong Learning: Bagaimana Bertahan di Era Education 4.0?

Opini ini ditulis Astrid Widayani, SS., SE., MBA, dosen Manajemen Stratejik Fakultas Ekonomi Universitas Surakarta, mahasiswa Doctoral Program Doctor of Business Administration, Business Transformation and Entrepreneurship-Business School Lausanne, Switzerland.

Melawan Begal Digital

Esai ini ditulis oleh Arif Budisusilo, jurnalis senior Bisnis Indonesia Group, dan telah terbit di Koran Solopos edisi 22 September 2021.

Pelayanan Publik Indonesia Tangguh

Essai ini ditulis oleh Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 21 Agustus 2021.

ISI Solo Butuh Rektor Petarung

Essai ini ditulis oleh Aris Setiawan, pengajar jurnalisme di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 20 Agustus 2021.

Pendidikan Anak Merdeka

Essai ini ditulis oleh Paulus Mujiran, Ketua Pelaksana Yayasan Kesejahteraan Keluarga Soegijapranata Semarang, dan telah diterbitkan Koran Solopos 19 Agustus 2021.

Pramuka di Masa Pandemi

Essai ini ditulis oleh Alies Sri Lestari, guru Bahasa Indonesia dan pembina pramuka di SMPN 5 Solo, dan telah diterbitkan di Koran Solopos 18 Agustus 2021.

Membangun Kemerdekaan Psikologis di Masa Pandemi

Opini ini ditulis Dr. Lilik Sriyanti, M.Si, dosen IAIN Salatiga dan Konselor Biro Konsultasi Psikologi.

Dimensi Sosial Teknologi Pertanian

Esai ini telah terbit di Harian Solopos 12 Agustus 2021, ditulis oleh Agung S.S. Raharjo, Analis Ketahanan Pangan Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian.

Magrib di Serambi

Opini ini terbit di Koran Solopos edisi Sabtu 14 Agustus 2021, ditulis oleh Ayu Prawitasari, jurnalis Solopos.

Kurang Kencang, Pak Jokowi...

Esain ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, karya Arif Budisusilo, wartawan senior Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).

Pelajaran dari Emas Olimpiade

Esai ini dimuat di Harian Solopos edisi Rabu 11 Agustus 2021, ditulis oleh Agustinus Heruwanto Guru SMA Pangudi Luhur St. Yosef Solo.