Tutup Iklan
Dikira Jatuh dari Sepeda, Ini Kronologi Bocah Sragen Tersayat Benang Layangan
Elvira Orizadiyanta, bocah berusia lima tahun asal Kampung Wonowoso, Sine, Sragen, berbaring setelah mendapat empat jahitan akibat tersayat benang layangan, Jumat (10/7/2020). (Solopos-Moh. Khodiq Duhri)

Solopos.com, SRAGEN -- Benang layangan kembali memakan korban, kali ini menyayat kaki bocah asal Sragen bernama Elvira Orizadiyanta hingga mengalami luka robek dan mendapatkan empat jahitan.

Bocah berusia lima tahun asal Kampung Wonowoso, RT 001/RW 008, Kelurahan Sine, Kecamatan Sragen, itu terluka akibat tersayat benang layangan pada Kamis (9/7/2020) sore.

Kisah tragis tersayat benang layangan hingga kaki robek sepanjang sekitar 5 cm yang dialami Elvira bermula ketika bocah itu bermain sepeda pada sore hari sekitar pukul 16.00 WIB.

Sopir Truk Terguling Tewaskan 3 Orang di Sragen Diancam 6 Tahun Penjara

Bocah Sragen yang baru bisa naik sepeda memang gemar mengayuh sepedanya di jalan kampung yang berlokasi di sebelah selatan rel kereta api (KA) Solo-Madiun.

Lokasi itu juga menjadi tempat bermain layangan anak-anak di kampung tersebut, termasuk kakak Elvira.

Saat layangan yang mereka mainkan terjatuh, tiba-tiba Elvira muncul dengan mengayuh sepedanya. Nahas, benang layangan itu mengenai pergelangan kaki kiri Elvira hingga mengakibatkan luka sayatan.

“Saat itu saya tengah bersiap membuka warung satai ayam di dekat simpang tiga Gambiran. Begitu dapat kabar itu, saya langsung pulang. Saya syok melihat anak saya terus menangis,” ujar ibunda Elvira, Tri Wahyuni, 30, di rumahnya di Gang Mangga, Sine, Sragen, Jumat (10/7/2020).

Kisah Sedih Anjun Maulana, Pemuda Sragen Putus Sekolah karena Lumpuh

Pada awalnya, warga tidak menyadari dengan apa yang terjadi pada Elvira. Tiba-tiba bocah Sragen itu menangis sambil menahan rasa sakit di pergelangan kaki kiri.

Warga awalnya mengira Elvira bocah Sragen terjatuh dari sepeda. Warga baru sadar begitu melihat adanya darah yang keluar dari pergelangan kaki kirinya akibat sayatan benang layangan. Warga sempat mengoleskan cairan antiseptik Betadine.

“Setelah dikasih Betadine, ternyata luka di kakinya bertambah lebar. Lukanya seperti merekah sehingga bagian dagingnya kelihatan. Kedalaman lukanya mungkin sekitar 2-3 cm,” papar Tri Wahyuni.

Ngambek Tak Dibelikan Kue Ultah, Bocah Tanon Sragen Nekat Gowes Sampai Ngawi

Elvira yang tersayat benang layangan kemudian dibawa ke klinik di Yonif Raider 408 Sragen.

"Di sana luka anak saya dijahit empat kali," tambah Tri Wahyuni.

Pada Jumat, Elvira yang terluka akibat tersayat benang layangan tengah berbaring di dipan di samping rumahnya. Dia ditemani kakak, adik, beberapa teman main di kampung.

Mengawasi Buah Hati

Perban warna putih membalut pergelangan kaki kiri bocah murid taman kanan-kanak di Sragen yang tersayat benang layangan.

“Semalam dia sempat terbangun dan menangis karena menahan rasa nyeri di kaki. Mungkin karena obat biusnya habis. Setelah diminumi sirup dari dokter, rasa nyerinya sembuh sehingga ia bisa tidur lagi,” ujar Tri Wahyuni.

Inspiratif, Pria Bisu Tuli Asal Cilacap 30 Tahun Keliling Indonesia dan Dunia

Relawan Sragen Peduli, Prabu Kresno, yang tinggal tak jauh dari rumah Tri Wahyuni mengingatkan warga untuk tetap mengawasi buah hati mereka saat bermain layangan.

Menurut dia, benang layangan selama ini sudah kerap memakan korban. Pada awal Juni lalu, seorang pengguna jalan di Mojosongo, Solo, bahkan meninggal dunia setelah lehernya tersayat benang layangan.

“Kami berharap kasus serupa tidak lagi terulang. Benang layangan sangat berbahaya. Jadi, tetap awasi anak-anak saat bermain biar tidak membahayakan diri mereka sendiri dan orang lain,” ujar Prabu Kresno.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya





Kolom

Pasang Baliho