Kategori: Klaten

Digempur Pandemi Covid-19, Usaha Celana Dalam di Ngawen Klaten Merosot


Solopos.com/Ponco Suseno

Solopos.com, KLATEN – Usaha pembuatan celana dalam di Tempursari RT 015/RW 006, Desa Tempusari, Kecamatan Ngawen, Klaten, Jawa Tengah dinilai masih tergoncang di tengah masa pandemi Covid-19.

Sebagian besar pengusaha celana dalam di lokasi tersebut dihadapkan persoalan pelik, mulai dari semakin mahalnya bahan baku hingga menurunnya daya beli masyakarat di tengah pandemi Covid-19.

Salah seorang pengusaha celana dalam di Tempursari, Fahrudin, 52, mengatakan usaha yang digelutinya sejak tahun 1996 mulai mengalami guncangan sejak munculnya pandemi Covid-19 hampir satu tahun terakhir.

Baca juga: Demi Persis, Yussa Siap Pulang Kampung dan Tinggalkan Belanda

Sejak satu tahun terakhir, omzet penjualannya anjlok dibandingkan sebelum munculnya pandemi Covid-19. Bahkan, hal itu masih dirasakan hingga sekarang.

"Sebelum pandemi Covid-19, saya bisa menjual hingga 500 lusin celana dalam dewasa setiap pekannya. Sejak pandemi hampir satu tahun ini, saya hanya bisa menjual 100 lusin per pekan. Harga per lusin berkisar Rp48.000," katanya saat ditemui Solopos.com, di Rumah Produksi Omah CD Nafisa di Tempursari, Ngawen, Sabtu (27/3/2021).

Baca juga: 5 Hari Dipasang, Kamera ETLE Simpang Kejaksaan Sukoharjo Rekam Belasan Pelanggar

Harga Bahan Baku Naik

Fahrudin mengatakan persoalan yang dihadapi tak hanya berhenti dengan munculnya pandemi Covid-19. Semakin tingginya harga bahan baku sekaligus menurunnya daya beli masyarakat akibat Covid-19 semakin melengkapi kesusahan yang dialami para pengusaha celana dalam di Ngawen, Klaten.

Di antara bahan baku yang naik itu, seperti kain senilai Rp48.000 per kilogram (naik Rp3.000 per kilogram), benang senilai Rp38.000 per kilogram (naik Rp3.000 per kilogram), karet elastis senilai Rp50.000 per kilogram (naik Rp3.000 per kilogram).

Baca juga: Viral Murid Naksir Guru, Berakhir di Pelaminan Juga

Di tengah kenaikan harga bahan baku yang fluktuatif, para pengusaha celana dalam tidak berani menaikkan harga jual celana dalam per lusinnya.

"Harga bahan baku naik dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan bahan baku biasanya juga dipengaruhi stabilitas politik di Tanah Air. Meski naik, saya pribadi enggak berani menaikkan harga jual. Kalau dinaikkan, bisa-bisa pelanggan saya pada lari. Di tengah pandemi Covid-19 seperti ini, orang memang lebih suka beli makan untuk isi perut daripada membeli celana dalam. Saya pribadi sudah memahami hal itu. Makanya dengan penjualan 100 lusin per pekan sudah kami syukuri. Yang penting usaha ini jalan terlebih dahulu," katanya.

Baca juga: Vaksinasi Covid-19 Harian di Klaten Lampaui Target Gubernur Jateng

Jual Beli Online

Disinggung tentang pemasaran celana dalam yang diproduksinya, Fahrudin, mengatakan daerah pemasaran menjangkau Soloraya, Jogja, dan Semarang. Selain menjual secara konvensional, penjualan celana dalam juga dilakukan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi.

"Penjualan online biasanya memberdayakan karyawan di sini juga. Total karyawan ada 10 orang. Kendati suasana sekarang belum stabil, saya masih bisa mempertahankan seluruh karyawan saya itu," katanya.

Baca juga: 10 Kabupaten Terbaik di Indonesia, Dua dari Soloraya 

Salah seorang karyawan Fahrudin, yakni Arifatul, 37, mengaku sudah bekerja di Omah CD Nafisah Tempursari selama kurang lebih 10 tahun terakhir. Keberadaan tempat pembuatan celana dalam itu diakui mampu menyerap tenaga kerja di Tempursari, Ngawen, Klaten.

"Daripada bekerja ke luar daerah, lebih baik bekerja di sini. Saya bekerja mulai 08.00 WIB-16.00 WIB. Hasilnya bisa untuk menambah pendapatan keluarga," katanya.

Share
Dipublikasikan oleh
Chelin Indra Sushmita