Bus Solo-Jogja tengah menurunkan penumpang di sub terminal Penggung, Klaten, Sabtu (11/5/2013). (JIBI/SOLOPOS/Shoqib Angriawan)

Bus bumel Solo-Jogja tiarap berhadapan dengan bus patas Surabaya-Jogja.

Solopos.com, SOLO -- Perebutan kue penumpang dalam bisnis transportasi jalur darat trayek Solo-Jogja kian ketat. Bus-bus trayek pendek Solo-Jogja berhadapan langsung dengan bus Surabaya-Jogja PP.

Pengurus PO Langsung Jaya di Terminal Tirtonadi, Piyat Supriyat, mengutarakan saat ini operator bus antarkota bumel jurusan Solo-Jogja tiarap jika dipaksa bersaing dengan bus patas atau lintas jurusan Surabaya-Jogja PP via Solo.

“Bumel selama ini sportif dengan time table yang sudah disepakati. Parkir [menunggu penumpang] hanya lima menit di jalur dua. Beda dengan bus patas/lintas dari Jawa Timur. Mereka bisa sewaktu-waktu masuk ke jalur satu, tidak perlu patuh time table,” keluhnya saat ditemui Solopos.com di terminal setempat, belum lama ini.

Ujang, sapaan akrabnya, menuturkan selain kalah strategis posisi start di jalur dan jadwal keberangkatan, operator bumel Solo-Jogja juga kalah bersaing dari sisi tarif. “Bus patas/lintas dari Jawa Timur untuk jurusan Solo-Jogja pakai tarif batas bawah. Beda dengan kami. Apalagi dibandingkan kereta api yang hanya Rp8.000. Kami kalah telak,” bebernya.

Keberatan lain yang dirasakan operator bumel Solo-Jogja, disebutkan Ujang, juga dipengaruhi kondisi lalu lintas yang semakin hari semakin padat. “1983 lalu lampu merah kami hitung hanya delapan biji. Sekarang jumlahnya ada 48. Ini belum termasuk kendala jalan penuh waktu akhir pekan atau libur panjang. Solo-Jogja bisa 2,5 jam lebih,” ujar dia.

Pengurus PO Sedya Utama di Terminal Tirtonadi, Dolog Utomo, membeberkan pada medio 1990–an lalu, bus bumel bisa bolak-balik Solo-Jogja paling tidak tiga kali. “Dengan kondisi lalu lintas seperti sekarang ini, paling banter hanya bisa dua kali jalan,” jelasnya.

Dia mengatakan hanya berani menetapkan tarif terpaut Rp1.000 atau Rp2.000 agar penumpang tidak lari memilih alternatif transportasi jalur darat trayek Solo-Jogja lainnya. “Di kalangan bumel Solo-Jogja sendiri tarifnya juga belum kompak seperti jurusan Solo-Semarang atau Solo-Purwodadi. Kalau tarif bisa kompak dan time table dipatuhi, saya kira semuanya bisa enak jalan,” katanya.

Salah seorang pelaju Solo-Jogja, Sri Nugroho, 36, menyebut bus bumel menjadi opsi transportasi terakhirnya setelah kereta api dan bus patas/lintas. “Setiap pagi saya naik kereta api ke Jogja. Kalau balik, baru naik bus. Saya mending ke terminal nyari bus patas/lintas daripada disuruh naik bumel. Soalnya sudah mahal, lebih lama, dan banyak pengamen atau pengasong di jalan,” tutur dosen Universitas Respati Indonesia Yogyakarta ini.

Pelaju Solo-Jogja lainnya, Ikhwan, 32, mengatakan bus bumel menjadi cadangannya ketika tidak kebagian tiket kereta api. “Kalau enggak dapat kereta, biasanya baru pulang naik bumel. Soalnya kalau mencegat bus jurusan Surabaya banyak yang enggak mau berhenti dari dekat tempat saya kerja. Kalau tarif sekarang nyaris sama. Tapi memang yang paling murah kereta api,” ungkapnya.

“Persaingan memang berat tanpa dukungan pemerintah pusat. Pengusaha bisa mendapatkan jadwal yang fair, dapat subsidi setara dengan kereta api, kemudahan membeli bus, dukungan jalan yang mulus, dan lain sebagainya. Semua muaranya agar masyarakat bisa mendapatkan pelayanan angkutan umum yang nyaman, aman, dan tepat waktu,” kata dia saat ditemui di CFD Jl. Slamet Riyadi, Minggu (31/7). (Mahardini Nur Afifah)



Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya






Kolom