Dishub Sragen memasang sejumlah poster di perlintasan KA tanpa palang agar warga berhati-hati, Jumat (31/5/2019). (Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN — Ada lima pesan unik yang dibuat Dinas Perhubungan (Dishub) Sragen di perlintasan kereta api (KA) tanpa palang. Salah satunya, “Dicium Kereta Api Tak Seindah Dicium Istri”.

Pantauan Solopos.com, sejumlah poster dan spanduk imbauan untuk mengantisipasi kecelakaan KA dipasang di perlintasan KA Bedowo, Jetak, Sidoharjo, Sragen, Jumat (31/5/2019). Lokasi tersebut rawan kecelakaan KA lantaran merupakan jalur ramai yang menghubungkan Desa Jetak Kecamatan Sidoharjo dengan Desa Jurangjero, Saradan, serta sejumlah desa lain di Kecamatan Karangmalang, Sragen.

Lokasi perlintasan berjarak 100 meter dari Jalan Solo-Sragen. Poster dan spanduk berisi tulisan-tulisan agar pengguna jalan lebih hati-hati saat melewati perlintasan KA yang sudah banyak memakan korban itu.

Beberapa tulisan itu adalah “Dicium Kereta Api Tak Seindah Dicium Istri”; “Jangan Menerobos, Ingat Keluarga Menunggu di Rumah”; “Kereta Api Selalu Menang Setiap Saat”; “Stop, Lihat, Menyeberang”; dan “Jangan Kecelakaan di Sini, Rumah Sakit Jauh, Dahulukan Kereta Api Saat di Perlintasan Adalah Cara Terbaik Melindungi Keselamatan Kita”.

Poster dan spanduk itu dipasang Dinas Perhubungan (Dishub) Sragen. Dishub juga membuat polisi tidur di sebelum dan sesudah perlintasan agar pengguna jalan lebih hati-hati.

“Poster, spanduk, dan polisi tidur kami buat jauh sebelum puasa lalu. Rencananya kami tambah dengan pita kejut,” ujar Kabid Lalu Lintas Dishub Sragen, David Hendrata.

Sejak 26 Mei 2019 hingga 16 Juni 2019 mendatang, PT KAI menempatkan dua petugas penjaga perlintasan KA Bedowo. Mereka dikontrak selama 22 hari untuk berjaga selama delapan jam per orang dengan honor senilai upah minimum kabupaten (UMK).

Mereka membuat tenda kecil di sebelah selatan perlintasan KA untuk berjaga. Ricky Muhammad Fauzi, 21, warga Mungkung RT 001/RW 010, Desa Jetak, Sidoharjo, Sragen, mendapat jatah piket siang.

Ia berjaga di perlintasan KA untuk mengamankan perjalanan kereta sejak pukul 06.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB. Rekannya yang berasal dari Dukuh Ngepos, Jetak, pun berjaga selama delapan jam mulai pukul 14.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB. “Setelah pukul 22.00 WIB sampai pukul 06.00 WIB tidak ada yang berjaga,” kata Ricky saat berbincang dengan Solopos.com, Jumat siang.

Sejak pukul 06.00 WIB sampai pukul 09.00 WIB, Ricky mencatat ada sembilan KA yang melintas. Ia mengandalkan informasi dari handy talky untuk mengetahui lokasi KA.

Begitu lepas dari perlintasan Gambiran, Ricky mulai berdiri dan mengatur lalu lintas. Ia hanya bermodal bendera merah untuk menghalau pengguna jalan. Saat melihat KA dari kejauhan, ia berdiri di tengah jalan sampai mengingatkan pengguna jalan dari arah depan dan belakangnya bahwa KA segera lewat. “Kadang kalau pas terik, matahari menyengat, jadi silau untuk melihat kejauhan. Ya, untungnya ada HT itu,” kata dia.

Ricky memiliki jadwal KA yang melintas dari jalur Solo-Madiun atau sebaliknya. Terkadang ada KA yang terlambat lewat.

“Seperti KA Sancaka yang baru lewat itu kelihatan terlambat jadwal. Ya, ini memang perlintasan KA rawan KA. Yang di sisi barat, seperti di Gerdu lebih rawan karena sudah tiga nyawa melayang. Nah, petugas linmas yang berjaga di sana,” tutur dia.


Tulis Komentar Anda

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten