Sekretaris Desa (Sekdes) Ponggok, Polanharjo, Klaten, Yani Setiadi, saat ditemui wartawan di balai desa setempat, Kamis (14/3/2019). (Solopos/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATEN -- Sekretaris Desa (Sekdes) Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten, Yani Setiadi, sempat diisukan diciduk polisi saat terjadi kericuhan di penghitungan suara pemilihan kepala desa (https://soloraya.solopos.com/read/20190313/493/977874/lawan-suami-di-pilkades-klaten-sejumlah-istri-pilih-tak-hadir" title="Lawan Suami di Pilkades Klaten, Sejumlah Istri Pilih Tak Hadir">pilkades) setempat, Rabu (13/3/2019) sore.

Pria kelahiran 6 Juli 1966 itu pun sempat digelandang polisi dari rumahnya menuju rumah salah satu calon kepala desa (cakades). Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, kericuhan terjadi di tempat pemungutan suara (TPS) karena ada pendukung salah satu cakades menendang kursi.

Setelah penghitungan suara juga terdengar pendukung yang nggleyer-nggleyer (menggeber-geber gas) sepeda motor. Belakangan diketahui, pendukung yang nggleyer-nggeleyer sepeda motor merayakan kemenangan itu berada di kawasan Nganjat.

Kebetulan Desa Nganjat dengan Ponggok saling bersebelahan. Guna menciptakan situasi kondusif, aparat polisi sempat mendatangi Yani di rumahnya, di Jeblegan RT 002/RW 003, Ponggok. Di lokasi ini, beberapa polisi bersenjata lengkap membawa Yani ke rumah salah satu https://soloraya.solopos.com/read/20190312/493/977636/jelang-pilkades-klaten-cakades-begadang-hingga-tahajud-bersama-pendukung" title="Jelang Pilkades Klaten: Cakades Begadang hingga Tahajud Bersama Pendukung">cakades di Ponggok, yakni Prasmaji Andi Pitono.

Lantaran ketidaktahuan anggota keluarganya, saat Yani diajak polisi ke rumah Prasmaji Andi Pitono itu dianggap sebagai penangkapan. Istri Yani, Wiwik Sri Muryanti, dan salah seorang anak Yani, Galuh, menangis histeris.

“Saya diajak polisi ke rumah Prasmaji Andi Pitono [berjarak sekitar 100 meter dari rumah Yani]. Di situ, sudah berkerumun massa. Saya disuruh menenangkan sekaligus mengingatkan massa agar menjaga iklim kondusivitas di Ponggok. Saat itu, saya masih menjabat sebagai penjabat (Pj) kades sehingga saya harus mengajak semua warga untuk tetap kondusif. Itu terjadi sekitar pukul 16.00 WIB dan berlangsung sekitar 15 menit,” kata Yani Setiadi, saat ditemui wartawan di kantornya, Kamis (14/3/2019).

Yani Setiadi mengatakan peristiwa dirinya dibawa polisi ke rumah salah satu cakades memunculkan spekulasi di kalangan warga dan mitra kerjanya. Tak heran, setelah itu muncul isu tentang pencidukan Yani Setiadi.

“Saat saya di kantor kecamatan tadi [Polanharjo], banyak yang kaget setelah melihat saya. Saya sendiri baru tahu saya diisukan ditahan polisi di Mapolres Klaten. Kenyataannya, informasi itu tidak benar. Saya hanya disuruh menenangkan massa. Selanjutnya, saya bekerja seperti biasa. Soal ada anggota keluarga saya yang menangis karena kaget saja. Waktu itu, ada polisi bersenjata lengkap. Situasinya seperti penangkapan terduga terorisme,” katanya.

Berdasarkan penghitungan suara dari panitia https://soloraya.solopos.com/read/20190313/493/977866/rival-tak-hadir-2-cakades-di-tulung-klaten-otomatis-terpilih" title="Rival Tak Hadir, 2 Cakades di Tulung Klaten Otomatis Terpilih">pilkades di Ponggok, petahana Junaedi Mulyono memenangi pilkades dengan memperoleh 585 suara. Sedangkan cakades lainnya, Suharta, memperoleh 204 suara, Hartanto memperoleh 10 suara, Prasmaji Andi Pitono 524 suara.

“Yang kami tahu, kondisi pilkades di Ponggok kondusif. Penghitungan suara juga berjalan lancar,” kata Ketua Panitia Pilkades Kabupaten Klaten, Ronny Roekminto.

Suharsih
Editor:
Suharsih

Tulis Komentar Anda

Berita Terkait

Berita Terkini Lainnya

Kolom

Langganan Konten